Di Tengah Reruntuhan, Warga Gaza Tetap Salat Idul Adha dan Panjatkan Doa Perdamaian

Internasional13 Dilihat

GAZA – Suasana Hari Raya Idul Adha yang biasanya dipenuhi kebahagiaan, kebersamaan keluarga, dan gema takbir di pelataran masjid, tahun ini terasa sangat berbeda bagi warga Gaza, Palestina. Di tengah puing-puing bangunan, reruntuhan rumah ibadah, serta bayang-bayang konflik yang belum kunjung berakhir, ribuan warga tetap menunaikan Salat Idul Adha dengan penuh keteguhan hati.

Pada Rabu (27/5/2026), warga Gaza melaksanakan Salat Idul Adha di atas reruntuhan masjid yang hancur akibat serangan militer Israel. Momen tersebut menjadi gambaran nyata tentang ketabahan masyarakat Palestina yang tetap menjaga semangat ibadah meski berada dalam situasi yang sangat sulit dan penuh ketidakpastian.

Di lokasi salat, hamparan sajadah terbentang di antara debu, beton yang runtuh, dan sisa-sisa bangunan masjid yang porak-poranda. Anak-anak, orang tua, hingga kaum perempuan terlihat berkumpul sejak pagi hari untuk mengikuti pelaksanaan salat berjamaah. Tak ada kemewahan, tak ada fasilitas memadai, namun kekhusyukan begitu terasa di tengah suasana pilu.

Suara takbir berkumandang lirih namun penuh penghayatan. Banyak jamaah terlihat menengadahkan tangan, memanjatkan doa untuk keselamatan keluarga mereka, bagi mereka yang telah kehilangan tempat tinggal, serta harapan agar peperangan segera berakhir. Dalam keterbatasan dan ancaman konflik yang terus membayangi, Hari Raya Idul Adha menjadi momentum spiritual untuk memperkuat harapan dan keteguhan iman.

Pelaksanaan Salat Idul Adha tahun ini berlangsung hanya sehari setelah sejumlah wilayah Gaza kembali dibombardir Israel. Serangan yang terjadi menambah panjang daftar kerusakan infrastruktur, termasuk rumah penduduk, fasilitas umum, hingga tempat ibadah yang selama ini menjadi pusat aktivitas masyarakat.

Kondisi keamanan yang belum stabil tidak menyurutkan niat warga untuk tetap menjalankan salah satu syiar penting umat Islam tersebut. Kehadiran mereka di lokasi salat menjadi simbol perlawanan secara damai melalui keteguhan iman dan solidaritas kemanusiaan di tengah situasi konflik.

Namun, Idul Adha tahun ini juga menghadirkan kenyataan pahit bagi masyarakat Gaza. Tradisi penyembelihan hewan kurban yang biasanya menjadi bagian penting perayaan hari besar Islam hampir tidak terlihat. Keterbatasan bahan pangan, minimnya distribusi bantuan, kerusakan jalur logistik, hingga kondisi ekonomi yang memburuk membuat sebagian besar warga tidak dapat melaksanakan kurban seperti tahun-tahun sebelumnya.

Bagi banyak keluarga di Gaza, kebutuhan paling mendasar seperti makanan, air bersih, obat-obatan, dan tempat tinggal kini menjadi prioritas utama. Anak-anak yang biasanya menantikan daging kurban dan suasana hari raya harus menjalani Idul Adha dalam kondisi penuh keterbatasan.

Meski demikian, semangat kebersamaan tetap terasa. Warga saling menguatkan, berbagi makanan seadanya, serta berkumpul untuk mengisi momen hari raya dengan doa dan harapan. Bagi mereka, Idul Adha bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga ujian kesabaran, pengorbanan, dan keyakinan bahwa masa sulit suatu saat akan berlalu.

Pemandangan warga yang bersujud di tengah reruntuhan masjid menjadi simbol kuat keteguhan masyarakat Gaza. Di tengah dentuman konflik dan luka kemanusiaan yang belum sembuh, mereka tetap menjaga keyakinan, merawat harapan, dan memohon datangnya kedamaian.

Hari Raya Idul Adha di Gaza tahun ini pun menjadi pengingat bagi dunia tentang pentingnya solidaritas kemanusiaan. Bahwa di balik reruntuhan bangunan dan keterbatasan hidup, masih ada masyarakat yang bertahan dengan doa, iman, dan harapan akan masa depan yang lebih damai.(**)