Lewat ToT Kader Penggerak, Farid Nyak Umar Perkuat Ketahanan Keluarga

Parlementaria31 Dilihat

BANDA ACEH – Sebagai upaya memperkuat ketahanan keluarga, Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, ST menginisiasi kegiatan Training of Trainers (ToT) Ketahanan Keluarga bagi para kader penggerak gampong di Kota Banda Aceh.

Kegiatan yang diadvokasi Farid Nyak Umar dilaksanakan melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Banda Aceh, yang berlangsung selama dua hari, 5–6 November 2026, di Hotel Al Hanifi, Lampriet, Banda Aceh.

Farid Nyak Umar mengatakan, kegiatan yang diikuti sebanyak 50 orang peserta dari 9 kecamatan di Kota Banda Aceh tersebut bertujuan membentuk dan memperkuat kapasitas kader gampong agar mampu berperan aktif dalam membangun ketahanan keluarga di tengah masyarakat.

Diharapkan Mereka memahami berbagai persoalan yang memengaruhi ketahanan keluarga, sekaligus mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakanginya.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengatakan, selama pelatihan berlangsung, DP3AP2KB menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang keilmuan untuk membekali para kader dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan.

Diantara Kepala DP3AP2KB Banda Aceh, Tiara Sutari AR, S.STP, MM dan Konselor Keluarga, Hypnotherapist, Grafolog, Erina Rusdian Sari, S. Pd, CMHA, CI serta Praktisi Kesehatan Herbal dan Komunikasi Keluarga, Febri Sugianto, SP.
Melalui pelatihan ini, para kader penggerak mendapatkan pembekalan mengenai persoalan yang ada di tengah masyarakat, KDRT, tren angka perceraian yang meningkat, tantangan pengasuhan anak, dan penyalahgunaan narkoba, serta masalah gizi dan stunting. Para peserta dibekali berbagai materi, mulai dari pemahaman tentang persoalan keluarga, komunikasi efektif dan empatik, hingga teknik edukasi dan pendampingan masyarakat dalam menghadapi persoalan rumah tangga.

“Mereka dibekali pengetahuan mengenai berbagai persoalan keluarga yang terjadi di tengah masyarakat, seperti tingginya angka perceraian, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), persoalan ekonomi, hingga masalah pengasuhan anak,” ujar Farid.

Setelah mengikuti pelatihan ini, para kader diharapkan dapat turun langsung ke masyarakat dan menyusun program-program untuk memperkuat ketahanan keluarga.

Katanya, berbagai persoalan keluarga akan dibahas narasumber. Ia berharap para peserta dapat menerapkan pengetahuan tersebut ketika kembali ke tengah masyarakat, baik melalui edukasi, pendampingan, maupun upaya membantu menyelesaikan persoalan keluarga.

Terkait persoalan ketahanan keluarga di Banda Aceh, kata Farid, salah satu yang cukup krusial adalah tingginya angka perceraian. Ia mengungkapkan, dari data MS kota diketahui bahwa sekitar 70–80 persen perceraian di pengadilan, karena gugatan dari pihak perempuan (gugat cerai), diantaranya karena persoalan KDRT dan ekonomi.

“Persoalan ekonomi menjadi salah satu pemicu, misalnya ketika suami tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga atau terjadi masalah dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. Kondisi tersebut dapat memicu konflik berkepanjangan hingga berujung pada perceraian,” papar Farid.

Kata Farid, untuk persoalan seperti ini Pemerintah harus hadir, tapi karena pemerintah memiliki keterbatasan. Maka, diperlukan kolaborasi dan keterlibatan para kader dan kelompok masyarakat yang bergerak di bidang ketahanan keluarga untuk membantu menjalankan serta memperkuat program-program pemerintah.

Sementara itu, Kepala Dinas DP3AP2KB, Tiara Sutari mengatakan, berbagai persoalan sosial yang terjadi di Banda Aceh memiliki keterkaitan dengan kondisi keluarga. Misalnya, kenakalan remaja, kekerasan, penyalahgunaan narkoba, perceraian, dan berbagai persoalan sosial lainnya.

Karena itu, kegiatan yang dilaksanakan ini bertujuan membangun ketahanan keluarga dengan melibatkan masyarakat secara langsung.

“Kami menyadari bahwa dinas tidak mungkin bekerja sendiri, terlebih dengan keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki. Oleh sebab itu, kami memiliki program kemitraan dengan masyarakat,” ujarnya.

Katanya, peserta yang dilatih ini merupakan ibu-ibu kader yang nantinya menjadi mitra kerja pemerintah dalam membangun ketahanan keluarga, mulai dari lingkungan keluarga, tingkat gampong, hingga masyarakat secara luas. Mereka diharapkan menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam menyampaikan edukasi tentang pentingnya membangun keluarga yang tangguh.

“Tidak ada keluarga yang sepenuhnya terbebas dari persoalan. Namun, keluarga yang mampu melewati berbagai ujian dan mempertahankan keharmonisan rumah tangga merupakan keluarga yang memiliki ketahanan.

Inilah yang ingin kami tanamkan melalui kegiatan tersebut, yakni membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah,” paparnya.

Diharapkan, pengetahuan yang diperoleh para kader nantinya diharapkan dapat diteruskan kepada masyarakat melalui kegiatan edukasi dan pendampingan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas P3AP2KB Kota Banda Aceh, Risda Zuraida, SE, Ketua RKI Kota, Cut Irma Yunita, Koordinator Majelis Taklim Kuta Alam, Santi Zuhra serta para Ketua TP PKK Gampong. (*)