Ketua Gen Z Desak Direktur Poltekpel Malahayati Dicopot

Breakingnews44 Dilihat

BANDA ACEH – Meninggalnya mahasiswa baru Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh, Muhammad Rasya Fadilah (18), memunculkan desakan agar sistem pembinaan dan pengawasan di lingkungan kampus tersebut dievaluasi secara menyeluruh.

Ketua Gen Z Mualem-Dek Fadh, Muyashir Asriyan Haikal, bahkan meminta Direktur Poltekpel Malahayati Aceh dievaluasi dan dicopot dari jabatannya. Menurutnya, langkah tersebut penting sebagai bentuk pertanggungjawaban institusi atas sistem pembinaan mahasiswa yang diterapkan.

Muyashir menyampaikan desakan itu menyusul meninggalnya Rasya yang kini menjadi perhatian publik dan tengah ditangani aparat kepolisian.

“Meninggalnya seorang mahasiswa dalam lingkungan pendidikan tidak boleh dipandang sebagai peristiwa biasa,” kata Muyashir, Selasa (29/9/2026).

Ia mengatakan, peristiwa tersebut harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan, pengawasan, serta mekanisme perlindungan mahasiswa di Poltekpel Malahayati.

Menurut Muyashir, lembaga pendidikan tidak hanya bertugas memberikan pendidikan akademik dan keterampilan, tetapi juga memiliki tanggung jawab memastikan mahasiswa berada dalam lingkungan yang aman dan terhindar dari tindakan yang dapat membahayakan keselamatan.

Ia menilai mahasiswa yang memasuki lembaga pendidikan semestinya memperoleh proses pembinaan yang mendidik, membangun kedisiplinan, serta membentuk karakter. Pembinaan, kata dia, harus tetap memperhatikan aspek keselamatan dan perlindungan terhadap peserta didik.

“Mahasiswa datang ke lembaga pendidikan untuk menuntut ilmu dan membangun masa depan. Karena itu, mereka harus mendapatkan pembinaan yang mendidik dan membentuk karakter, bukan perlakuan yang berpotensi membahayakan keselamatan maupun masa depan mereka,” ujarnya.

Muyashir juga meminta proses penanganan kasus kematian Muhammad Rasya Fadilah dilakukan secara terbuka dan objektif. Ia menilai keluarga korban dan masyarakat berhak memperoleh informasi yang jelas mengenai rangkaian kejadian yang dialami korban sebelum meninggal dunia.

Menurutnya, pengungkapan fakta secara menyeluruh diperlukan agar tidak muncul berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Proses hukum juga diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai penyebab kematian serta memastikan setiap pihak yang memiliki keterkaitan dengan peristiwa tersebut diperiksa sesuai ketentuan.

Kasus meninggalnya Rasya menjadi sorotan setelah mahasiswa baru Poltekpel Malahayati tersebut meninggal dunia usai sempat mendapatkan perawatan medis.

Aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab kematian korban. Dalam proses penanganan perkara, polisi disebut telah melakukan pemeriksaan luar terhadap jenazah serta pemeriksaan menggunakan CT scan.

Sementara itu, proses autopsi terhadap jenazah tidak dilakukan karena pihak keluarga disebut tidak memberikan persetujuan.

Kondisi tersebut membuat proses penyelidikan menjadi perhatian publik. Desakan agar seluruh rangkaian kejadian diungkap secara terang pun terus bermunculan, terutama terkait kondisi korban sebelum mendapatkan perawatan medis hingga akhirnya meninggal dunia.

Muyashir menegaskan, evaluasi terhadap institusi tidak dimaksudkan semata-mata untuk mencari pihak yang harus disalahkan, tetapi untuk memastikan sistem pendidikan dan pembinaan di lingkungan Poltekpel Malahayati berjalan dengan mengutamakan keselamatan mahasiswa.

Ia berharap kasus tersebut menjadi bahan pembenahan bagi seluruh jajaran Poltekpel Malahayati, sehingga sistem pengawasan dan pembinaan ke depan dapat dilakukan secara lebih ketat, transparan, serta memberikan perlindungan maksimal kepada seluruh mahasiswa.

“Yang paling penting sekarang adalah memastikan fakta kasus ini terbuka dan proses hukumnya berjalan objektif. Keluarga korban dan masyarakat berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” kata Muyashir.(**)