SOLOK, SUMATERA BARAT — Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M. mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc. meninjau langsung sejumlah lokasi terdampak banjir bandang atau galodo di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Kamis (24/9/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat yang terdampak bencana sekaligus memastikan penanganan masa tanggap darurat berjalan secara terpadu. Pemerintah juga memastikan kebutuhan dasar para pengungsi, pencarian korban, pembersihan material bencana hingga pemulihan akses dan fasilitas umum terus dilakukan.
Sebelum menuju Kabupaten Solok, rombongan tiba di Bandara Internasional Minangkabau. Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menuju Arosuka, ibu kota Kabupaten Solok.
Setibanya di wilayah terdampak, Menko PMK Pratikno bersama Kepala BNPB Suharyanto meninjau sejumlah titik yang mengalami kerusakan akibat galodo. Lokasi yang ditinjau antara lain jembatan, kompleks Pemerintah Daerah Kabupaten Solok serta lokasi pengungsian.
Di lokasi jembatan, rombongan melihat kondisi infrastruktur yang terdampak material banjir bandang. Infrastruktur tersebut menjadi salah satu akses penting bagi mobilitas masyarakat sekaligus jalur distribusi bantuan kepada warga terdampak.
Pemerintah memastikan akses tersebut terus dipulihkan agar aktivitas masyarakat dan distribusi logistik dapat kembali berjalan.
Peninjauan kemudian dilakukan di kompleks Pemerintah Daerah Kabupaten Solok. Kawasan tersebut turut terdampak material galodo berupa lumpur, batu dan pasir yang menerjang sejumlah fasilitas pemerintahan.
Selain melihat kerusakan fasilitas, kunjungan juga diarahkan untuk memastikan pelayanan pemerintahan tetap dapat berjalan selama masa tanggap darurat.
Perhatian khusus diberikan kepada masyarakat yang mengungsi. Di lokasi pengungsian, Menko PMK dan Kepala BNPB melihat langsung kondisi warga sekaligus memastikan pemenuhan kebutuhan dasar seperti tempat tinggal sementara, makanan, air bersih dan kebutuhan lainnya selama masa tanggap darurat.
Galodo Terjadi Senin Malam
Banjir bandang menerjang wilayah Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, pada Senin (21/9/2026) sekitar pukul 19.45 WIB.
Bencana tersebut bersumber dari hulu Sungai Batang Laso setelah bukit di sekitar aliran sungai mengalami longsor. Material berupa pasir, batu, lumpur dan air kemudian bergerak deras mengikuti aliran sungai hingga menerjang kawasan sekitar Kantor Bupati Solok.
Material galodo selanjutnya meluap hingga ke badan Jalan Raya Solok–Padang.
Sebelum kejadian, hujan mengguyur wilayah Kabupaten Solok sejak sore hari. Kondisi tersebut menyebabkan peningkatan debit aliran sejumlah sungai, terutama di sekitar Jorong Kayu Aro, Kecamatan Gunung Talang.
Intensitas hujan yang cukup tinggi kemudian memicu longsor pada bukit di sekitar kawasan Kantor Bupati Solok. Material longsoran yang masuk ke aliran sungai akhirnya terbawa bersama derasnya air dan menerjang kawasan di sekitarnya.
Satu Orang Meninggal, Satu Masih Dicari
Berdasarkan data sementara per 24 September 2026, bencana tersebut menyebabkan satu orang meninggal dunia. Sementara satu orang lainnya masih dinyatakan hilang dan hingga kini masih dalam pencarian tim SAR gabungan.
Selain itu, satu orang mengalami luka berat dan tiga orang lainnya mengalami luka ringan.
Tim gabungan terus melakukan penyisiran di sepanjang aliran sungai dan sejumlah lokasi yang diperkirakan menjadi titik kemungkinan korban berada.
Operasi pencarian menjadi salah satu prioritas utama pemerintah dalam penanganan masa tanggap darurat.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto meminta seluruh unsur yang terlibat dalam operasi pencarian dan pertolongan mengerahkan kemampuan secara maksimal untuk menemukan korban yang masih hilang.
Menurutnya, selain pencarian korban, proses pendataan dampak bencana juga harus dilakukan secara cepat dan akurat agar pemerintah memiliki dasar yang jelas dalam menentukan kebutuhan penanganan selanjutnya.
474 Jiwa Mengungsi
Bencana galodo juga menyebabkan ratusan warga harus meninggalkan rumah dan mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Data sementara mencatat sebanyak 474 jiwa mengungsi. Sebanyak 39 jiwa berada di Rumah Dinas Wakil Bupati Solok, 17 jiwa di Rumah Dinas Bupati, tujuh jiwa di Rumah Ladang dan 410 jiwa lainnya mengungsi secara mandiri yang tersebar di sejumlah lokasi.
Pemerintah daerah bersama unsur terkait terus memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi selama masa tanggap darurat.
Penanganan pengungsi menjadi bagian penting dalam operasi darurat, terutama untuk memastikan warga memperoleh tempat yang aman serta kebutuhan dasar selama proses pencarian, pembersihan dan pemulihan wilayah terdampak berlangsung.
Puluhan Rumah dan Fasilitas Umum Rusak
Dampak galodo juga terlihat pada kerusakan rumah warga dan berbagai fasilitas umum.
Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 11 unit rumah mengalami rusak berat, satu unit rusak sedang dan 32 unit lainnya mengalami rusak ringan.
Kerusakan juga terjadi pada fasilitas pemerintahan. Tercatat dua kantor pemerintahan mengalami rusak berat dan delapan kantor pemerintahan lainnya rusak ringan.
Selain itu, terdapat kios atau toko terdampak dengan luas sekitar 300 meter persegi, satu rumah ibadah, lima ruas jalan serta dua jembatan yang mengalami kerusakan akibat bencana.
Pendataan kerusakan tersebut masih terus diperbarui oleh petugas di lapangan. Data tersebut nantinya menjadi salah satu dasar bagi pemerintah dalam menentukan langkah pemulihan pascabencana.
Solok Tetapkan Tanggap Darurat 14 Hari
Pemerintah Kabupaten Solok telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Tahun 2026 melalui Keputusan Bupati Solok Nomor 300.2-265-2026.
Status tanggap darurat tersebut berlaku selama 14 hari, terhitung mulai 22 September hingga 5 Oktober 2026.
Selama periode tersebut, penanganan difokuskan pada sejumlah kegiatan utama, mulai dari percepatan operasi pencarian dan pertolongan, penanganan pengungsi, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, pembersihan material bencana, pemulihan akses serta fasilitas umum hingga memastikan pelayanan pemerintahan tetap berjalan.
Pemerintah pusat dan pemerintah daerah bersama seluruh unsur terkait terus melakukan koordinasi agar setiap kebutuhan di lapangan dapat ditangani secara cepat dan terukur.
Menko PMK Pimpin Rapat Koordinasi
Setelah melakukan peninjauan lapangan, Menko PMK Pratikno memimpin Rapat Koordinasi Penanganan Bencana Hidrometeorologi Banjir Bandang Kabupaten Solok di Posko Utama Kabupaten Solok.
Rapat tersebut membahas perkembangan penanganan bencana, kondisi masyarakat terdampak, kebutuhan selama masa tanggap darurat serta langkah-langkah pemulihan pascabencana.
Kepala BNPB turut memberikan arahan terkait penanganan kebencanaan, khususnya percepatan pencarian korban yang masih hilang, penanganan pengungsi, pemenuhan kebutuhan dasar, pemulihan akses serta percepatan pendataan kerusakan dan dampak bencana.
Suharyanto menegaskan bahwa pencarian terhadap satu korban yang masih hilang harus menjadi prioritas.
Ia meminta seluruh unsur yang terlibat dalam operasi pencarian bergerak secara maksimal dengan tetap memperhatikan kondisi keselamatan personel di lapangan.
Akses Utama Mulai Dipulihkan
Hingga Kamis (24/9), tim SAR gabungan masih melakukan penyisiran di sepanjang aliran sungai untuk mencari satu korban yang masih dinyatakan hilang.
Pada saat yang sama, pembersihan material lumpur, batu dan sisa banjir terus dilakukan di berbagai lokasi, termasuk jalan, kawasan perkantoran, permukiman dan fasilitas umum.
Salah satu perkembangan penting dalam penanganan pascabencana adalah jembatan penghubung pada jalan utama Arosuka yang telah dapat dilalui dengan sistem buka-tutup setelah material galodo dan lumpur dibersihkan.
Perbaikan jaringan kelistrikan yang sempat terputus juga masih dilakukan oleh PLN. Sementara itu, normalisasi aliran sungai pascabencana galodo dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.
Langkah tersebut dilakukan untuk memulihkan akses sekaligus mengurangi hambatan dalam mobilitas masyarakat dan distribusi bantuan ke wilayah terdampak.
Pemerintah Perkuat Penanganan Darurat
BNPB bersama pemerintah daerah dan seluruh unsur terkait akan terus memperkuat penanganan darurat di Kabupaten Solok.
Fokus utama diarahkan pada pencarian korban, keselamatan masyarakat, pemenuhan kebutuhan pengungsi, pembersihan material bencana serta pemulihan akses dan fasilitas umum.
Selain itu, pemutakhiran data dampak bencana terus dilakukan agar pemerintah memiliki gambaran yang lebih akurat mengenai kebutuhan masyarakat dan kerusakan infrastruktur.
Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Tim Reaksi Cepat (TRC), TNI-Polri, perangkat nagari serta berbagai unsur terkait masih bekerja di lapangan untuk melakukan pencarian, evakuasi, asesmen dan pendataan.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak maupun kawasan yang berpotensi terkena dampak bencana susulan diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan.
Warga juga diminta mengikuti informasi dan arahan resmi yang dikeluarkan pemerintah daerah, BPBD, BNPB dan BMKG, terutama terkait kondisi cuaca dan potensi bencana hidrometeorologi susulan.(**)






