Meriam Aceh 6,3 Ton Dipindahkan di Museum Bronbeek Belanda

Internasional16 Dilihat

ARNHEM, BELANDA — Sebuah meriam perunggu raksasa yang memiliki kaitan erat dengan sejarah Aceh kembali menjadi perhatian setelah menjalani proses pemindahan di Museum Bronbeek, Arnhem, Belanda. Meriam yang dikenal dengan nama “Peperstuk” atau “Pepper Piece” tersebut memiliki bobot sekitar 6.300 kilogram, kaliber 19 sentimeter, dan panjang lebih dari empat meter.

Pemindahan meriam bersejarah itu bukan pekerjaan sederhana. Ukurannya yang sangat besar, bobotnya yang mencapai lebih dari enam ton, serta kondisi benda yang telah berusia ratusan tahun membuat proses pemindahan harus dilakukan secara hati-hati dan menggunakan perencanaan teknis khusus.

Dalam proses tersebut, sebanyak tujuh insinyur militer dari 11 Airmobile Engineer Company dilibatkan untuk menyiapkan konstruksi khusus yang mampu menopang sekaligus mengangkat meriam tersebut. Langkah itu diperlukan agar proses pemindahan tidak merusak benda bersejarah yang kini menjadi bagian dari koleksi Museum Bronbeek.

Dibuat pada Abad ke-17

Berdasarkan sejarah yang dicatat Museum Bronbeek, meriam tersebut dibuat pada abad ke-17 dan memiliki cerita panjang yang menghubungkan Aceh dengan dunia internasional.

Meriam itu disebut merupakan hadiah dari Sultan Turki kepada Sultan Aceh pada 1631. Hubungan antara Kesultanan Aceh dan Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) sendiri telah lama tercatat dalam sejarah, terutama dalam konteks hubungan diplomatik dan kerja sama menghadapi kekuatan Eropa di kawasan.

Dengan ukuran yang luar biasa besar untuk sebuah meriam, Peperstuk menjadi salah satu benda yang menggambarkan perkembangan teknologi persenjataan sekaligus hubungan perdagangan dan politik yang telah berlangsung antara Aceh dan berbagai kawasan dunia sejak berabad-abad lalu.

Nama Peperstuk, yang berkaitan dengan istilah “pepper” atau lada, juga tidak terlepas dari posisi Aceh dalam perdagangan lada. Pada masa lalu, Aceh dikenal sebagai salah satu wilayah penting penghasil dan pemasok lada yang diperdagangkan ke berbagai kawasan.

Dibawa ke Belanda Setelah Perang Aceh

Perjalanan meriam tersebut kemudian memasuki babak lain setelah berlangsungnya Perang Aceh (1873–1913). Meriam itu dibawa ke Belanda dan pada akhirnya menjadi bagian dari koleksi Museum Bronbeek.

Museum Bronbeek sendiri merupakan museum yang memiliki koleksi berkaitan dengan sejarah kolonial Belanda dan Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL). Meriam asal Aceh tersebut tercatat menjadi bagian koleksi museum sejak 1998.

Keberadaan Peperstuk di Belanda selama puluhan tahun membuat benda tersebut tidak hanya menjadi sebuah koleksi persenjataan tua, tetapi juga menjadi bagian dari narasi sejarah panjang hubungan antara Aceh, Turki, dan Belanda.

Kini, ketika meriam tersebut kembali dipindahkan, perhatian publik kembali tertuju pada perjalanan sejarahnya.

Dipindahkan untuk Penataan Museum

Pemindahan Peperstuk dilakukan seiring dengan renovasi dan penataan ulang pameran di Museum Bronbeek. Untuk sementara waktu, meriam raksasa tersebut ditempatkan di aula sebelum nantinya dipindahkan ke lokasi pameran yang baru.

Proses ini menunjukkan bahwa benda bersejarah dengan bobot beberapa ton sekalipun membutuhkan penanganan yang sangat terukur. Kesalahan sedikit saja dapat berisiko terhadap keselamatan benda, petugas maupun bangunan museum.

Karena itu, konstruksi khusus disiapkan untuk memastikan meriam dapat diangkat dan dipindahkan dengan aman.

Bagi publik Aceh, pemindahan tersebut juga menjadi pengingat bahwa jejak sejarah Aceh ternyata tersebar jauh hingga ke berbagai negara.

Jejak Panjang Aceh di Dunia Internasional

Peperstuk menyimpan kisah yang jauh lebih panjang daripada sekadar sebuah senjata perang. Di dalamnya terdapat jejak hubungan Aceh dengan dunia Islam, perdagangan internasional, teknologi persenjataan, serta sejarah kolonial.

Jika merunut perjalanan yang dicatat museum, meriam tersebut berkaitan dengan hubungan Turki dan Aceh pada abad ke-17, kemudian berpindah ke Belanda setelah periode Perang Aceh, dan kini tersimpan di Museum Bronbeek.

Karena itu, keberadaan meriam tersebut dapat menjadi salah satu benda yang membantu generasi sekarang memahami bahwa Aceh pada masa lalu bukanlah wilayah yang terisolasi. Aceh memiliki hubungan dengan kekuatan dan pusat perdagangan dunia yang terbentang jauh dari Asia Tenggara.

Di tengah penataan ulang Museum Bronbeek, Peperstuk untuk sementara memang tidak berada di tempat pameran lamanya. Namun, pemindahan tersebut justru kembali membuka perhatian terhadap kisah panjang yang melekat pada benda tersebut.

Dari hubungan Turki–Aceh hingga perjalanan sejarahnya ke Belanda, meriam 6,3 ton ini menjadi saksi bisu perjalanan Aceh dalam percaturan dunia sejak berabad-abad silam.(**)