Pernah Jadi Menteri, Hidup Saifuddin Zuhri Berakhir Sederhana di Pasar

Opini11 Dilihat

JAKARTA – Jabatan tinggi tidak selalu membuat seseorang bergelimang kemewahan setelah tidak lagi berkuasa. Ada sosok yang justru memilih tetap hidup sederhana, bekerja dengan tangannya sendiri, dan menjaga prinsip meski pernah menduduki posisi penting di pemerintahan.

Salah satu kisah yang hingga kini masih dikenang adalah perjalanan hidup Saifuddin Zuhri, mantan Menteri Agama Republik Indonesia. Setelah meninggalkan panggung pemerintahan dan politik, tokoh yang dikenal dekat dengan kalangan Nahdlatul Ulama (NU) itu menjalani kehidupan yang jauh dari kemewahan. Bahkan, pada dekade 1980-an, ia diketahui berdagang beras di Pasar Glodok, Jakarta.

Kisah tersebut menjadi menarik karena Saifuddin Zuhri bukanlah orang biasa. Ia pernah dipercaya menjadi Menteri Agama RI ke-10, dilantik pada 2 Maret 1962 dan mengakhiri masa jabatannya pada 1967.

Selepas dari kabinet, kiprahnya di dunia politik belum langsung berakhir. Saifuddin masih aktif sebagai anggota DPR-GR dari Fraksi NU dan kemudian menjadi anggota DPR hasil Pemilu 1971.

Namun, setelah benar-benar meninggalkan aktivitas politik dan pemerintahan, kehidupannya berubah. Ia tidak menjadikan status sebagai mantan menteri sebagai alasan untuk terus menikmati fasilitas atau mengejar kemewahan.

Justru sebaliknya, Saifuddin memilih bekerja dan menjalani kehidupan secara mandiri.

Diam-diam Berdagang Beras

Pada era 1980-an, Saifuddin Zuhri diketahui menjalani aktivitas sebagai pedagang beras di Pasar Glodok. Rutinitas tersebut bahkan dilakukan secara teratur.

Setiap pagi, sekitar pukul 09.00 WIB setelah menunaikan salat Dhuha, Saifuddin berangkat menggunakan mobil yang dikemudikannya sendiri. Di dalam kendaraan itu terdapat karung-karung beras yang kemudian dibawanya ke pasar untuk dijual.

Yang menarik, aktivitas tersebut tidak banyak diketahui oleh keluarganya.

Istri dan anak-anaknya hanya mengetahui bahwa Saifuddin kerap pulang membawa uang. Namun, mereka tidak mengetahui secara pasti dari mana uang tersebut diperoleh.

Rahasia itu akhirnya terbongkar ketika salah seorang anaknya secara tidak sengaja melihat sang ayah sedang melayani pembeli di Pasar Glodok.

Bagi keluarga, kenyataan tersebut tentu mengejutkan. Sosok yang pernah duduk di kursi menteri ternyata menjalani aktivitas layaknya pedagang biasa tanpa merasa perlu membanggakan masa lalunya sebagai pejabat negara.

Namun, bagi Saifuddin, berdagang bukanlah sesuatu yang memalukan.

Jauh sebelum menjadi menteri, ia memang telah terbiasa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Pernah Menjual Barang untuk Menyambung Hidup

Dalam autobiografinya berjudul Berangkat dari Pesantren yang terbit pada 1984, Saifuddin Zuhri mengisahkan pengalaman hidupnya ketika masih muda.

Pada 1942, ketika anak pertamanya lahir, ia pernah melakukan berbagai pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan. Ia menjual berbagai barang yang dapat menghasilkan uang, mulai dari pakaian bekas, perabot rumah tangga loak hingga rokok.

Pengalaman hidup tersebut tampaknya membentuk karakter Saifuddin sebagai pribadi yang tidak mudah bergantung kepada orang lain.

Karena itu, ketika sudah tidak lagi menjadi pejabat, ia tidak merasa gengsi untuk kembali berdagang. Baginya, bekerja secara halal untuk memenuhi kebutuhan hidup jauh lebih penting daripada mempertahankan citra sebagai mantan menteri.

Menolak Rumah Dinas Menteri

Kesederhanaan Saifuddin Zuhri ternyata bukan baru terlihat setelah dirinya pensiun.

Ketika masih menjabat sebagai Menteri Agama, ia sudah menunjukkan sikap tegas dalam menjaga integritas dan menolak menggunakan jabatan untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Salah satu buktinya adalah keputusannya menolak fasilitas rumah dinas menteri.

Padahal, sebagai pejabat negara, fasilitas tersebut merupakan hak yang dapat digunakan sesuai ketentuan. Namun, Saifuddin tetap memilih tinggal di rumah pribadinya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Ia bahkan memilih mencicil rumahnya sendiri di Jalan Hang Tuah, Kebayoran Baru.

Keputusan tersebut lahir dari prinsip bahwa seorang pejabat, terlebih Menteri Agama, harus mampu memberikan contoh dalam hal kesederhanaan dan tidak berlebihan dalam memanfaatkan fasilitas negara.

Dalam pandangannya, menerima berbagai fasilitas secara berlebihan dikhawatirkan justru membuat seorang pejabat kehilangan rasa malu dan batas dalam menggunakan kewenangannya.

Rumah yang Sudah Lunas Malah Dihibahkan

Kisah kesederhanaan Saifuddin Zuhri semakin menarik ketika rumah yang dibelinya secara mencicil tersebut akhirnya lunas.

Alih-alih menjadikannya sebagai simbol kekayaan pribadi, rumah itu kemudian dihibahkan untuk kepentingan sosial Nahdlatul Ulama.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa bagi Saifuddin, harta bukanlah tujuan utama dari perjalanan hidup.

Ia pernah menjadi menteri, anggota parlemen dan tokoh politik. Namun, berbagai jabatan tersebut tidak membuatnya kehilangan prinsip hidup yang telah dibangun sejak masa muda.

Justru setelah tidak lagi memiliki kekuasaan, karakter tersebut semakin terlihat.

Warisan Keteladanan Seorang Pejabat

Saifuddin Zuhri meninggal dunia pada 25 Februari 1986 setelah mengalami sakit.

Puluhan tahun setelah kepergiannya, kisah hidupnya kembali menjadi perhatian karena menawarkan gambaran berbeda mengenai kehidupan seorang mantan pejabat negara.

Di tengah masyarakat yang kerap mengaitkan jabatan dengan fasilitas, kemewahan dan kehidupan serba berkecukupan, Saifuddin menunjukkan bahwa kehormatan seorang pejabat tidak ditentukan oleh seberapa banyak fasilitas yang berhasil diperoleh.

Ia justru meninggalkan cerita tentang kemandirian, kerja keras dan keberanian mempertahankan prinsip.

Kisah dirinya membawa karung beras ke Pasar Glodok mungkin terlihat sederhana. Tetapi di balik aktivitas tersebut terdapat pesan besar: jabatan hanyalah amanah yang memiliki batas waktu, sementara integritas dan keteladanan dapat dikenang jauh lebih lama.

Saifuddin Zuhri telah menunjukkan bahwa seseorang yang pernah berada di puncak kekuasaan pun tidak harus kehilangan harga diri ketika kembali menjalani kehidupan sederhana.

Menjadi pedagang beras setelah pernah menjadi menteri bukanlah sebuah kemunduran. Dalam perspektif keteladanan, justru di situlah terlihat kebesaran karakter seorang manusia yang tidak menggantungkan kehormatannya pada jabatan.(**)