BANDA ACEH – Upaya membangun satuan pendidikan yang tangguh terhadap bencana terus diperkuat Pemerintah Aceh. Tidak hanya menyangkut kesiapan sarana dan prasarana, ketangguhan sekolah juga harus dibangun melalui peningkatan kapasitas guru dan tenaga kependidikan, terutama dalam menghadapi kondisi darurat dan membantu pemulihan psikologis warga sekolah setelah bencana.
Hal tersebut menjadi perhatian dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Teknis Pelaksanaan Pelatihan Layanan Dukungan Psikososial Pascabencana dan Kesiapsiagaan Bencana bagi Guru dan Tenaga Kependidikan yang diselenggarakan oleh Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Aceh.
Kegiatan tersebut dibuka dan mendapatkan arahan dari Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthala Murthalamuddin. Rakor ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan pelaksanaan pelatihan yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan guru dan tenaga kependidikan dalam menghadapi situasi kebencanaan di lingkungan satuan pendidikan.
Penguatan kapasitas tersebut dinilai penting karena sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, tetapi juga menjadi salah satu ruang penting bagi anak untuk memperoleh rasa aman ketika terjadi bencana.
Dalam kondisi pascabencana, peserta didik dapat menghadapi berbagai tekanan psikologis. Rasa takut, cemas, kehilangan, hingga kesulitan berkonsentrasi dapat memengaruhi proses pembelajaran. Karena itu, guru dan tenaga kependidikan perlu memiliki pengetahuan serta keterampilan dasar untuk memberikan dukungan yang tepat, sekaligus mengetahui kapan seorang siswa membutuhkan pendampingan lebih lanjut atau rujukan kepada tenaga profesional.
Melalui pelatihan layanan dukungan psikososial, para pendidik diharapkan tidak hanya mampu melanjutkan proses pembelajaran setelah bencana, tetapi juga dapat menciptakan suasana sekolah yang aman, nyaman dan mendukung proses pemulihan mental peserta didik.
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat pemulihan sektor pendidikan Aceh setelah bencana yang berdampak pada sejumlah wilayah. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebelumnya juga menyampaikan bahwa pelatihan dukungan psikososial, pemantauan kehadiran siswa dan guru, serta pendampingan praktik baik terus dilakukan di daerah terdampak bencana.
Guru Harus Siap Hadapi Situasi Darurat
Kesiapsiagaan bencana di sekolah pada dasarnya tidak cukup hanya dengan mengetahui jalur evakuasi atau memiliki prosedur keadaan darurat. Warga sekolah perlu memahami bagaimana mengambil keputusan ketika bencana terjadi, melindungi peserta didik, menjaga keberlangsungan pembelajaran, serta memberikan dukungan setelah keadaan darurat berakhir.
Guru menjadi salah satu unsur paling penting dalam sistem tersebut. Sebagai pihak yang berinteraksi langsung dengan peserta didik setiap hari, guru memiliki posisi strategis untuk mengenali perubahan perilaku anak setelah mengalami situasi traumatis.
Karena itu, peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan dalam bidang kebencanaan dan dukungan psikososial menjadi investasi penting untuk membangun sekolah yang lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan.
Apalagi Aceh merupakan daerah yang memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi berbagai jenis bencana, mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi hingga bencana hidrometeorologi lainnya. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana terjadi.
BGTK Aceh Perkuat Kolaborasi
Komitmen memperkuat kapasitas satuan pendidikan juga terlihat dari langkah BGTK Aceh dalam mengembangkan materi pelatihan kesiapsiagaan bencana dan layanan dukungan psikososial.
Dalam kegiatan pengembangan modul yang melibatkan BGTK Aceh, BBGTK Sumatera Utara dan BGTK Sumatera Barat pada 19–22 Agustus 2026 di Padang, para pihak mendorong lahirnya bahan pelatihan yang relevan dan aplikatif bagi insan pendidikan. Pengembangan materi tersebut juga melibatkan akademisi, BPBD serta organisasi yang memiliki keahlian di bidang psikososial.
Artinya, penguatan sekolah tangguh tidak dilakukan secara parsial. Pendidikan kebencanaan perlu menggabungkan aspek keselamatan, kesiapsiagaan, kemampuan merespons keadaan darurat hingga pemulihan psikologis.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu melahirkan ekosistem pendidikan yang bukan hanya cepat merespons ketika bencana terjadi, tetapi juga mampu bangkit dan melanjutkan kegiatan belajar mengajar setelah kondisi kembali berangsur normal.
Pendidikan Aman dan Berkelanjutan
Melalui Rakor Teknis tersebut, Dinas Pendidikan Aceh bersama BGTK Aceh menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi bencana harus menjadi bagian dari penguatan kualitas pendidikan.
Sekolah tangguh bukan sekadar sekolah yang memiliki bangunan kuat, tetapi juga sekolah yang memiliki guru dan tenaga kependidikan yang siap, terlatih dan mampu mengambil tindakan tepat dalam situasi darurat.
Lebih jauh, ketangguhan sekolah juga tercermin dari kemampuan warga satuan pendidikan untuk saling mendukung setelah bencana. Guru diharapkan dapat menjadi sosok yang membantu peserta didik mendapatkan kembali rasa aman, membangun kepercayaan diri, dan secara bertahap kembali mengikuti proses pembelajaran.
Dengan penguatan kapasitas tersebut, Aceh diharapkan mampu membangun satuan pendidikan yang lebih siap menghadapi risiko bencana sekaligus tetap menjaga hak anak untuk memperoleh pendidikan yang aman dan berkelanjutan.
Semangat “guru siap, sekolah tangguh, Aceh lebih kuat” pun menjadi pesan penting bahwa membangun ketangguhan daerah harus dimulai dari lingkungan pendidikan.
Sebab, ketika guru siap menghadapi bencana, sekolah akan lebih tangguh. Dan ketika sekolah tangguh, generasi muda Aceh akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk bangkit menghadapi setiap tantangan di masa depan.(*)






