Oleh: Reza Aulia, S.T., M.T
Aceh – Dalam sejarah perjuangan bangsa-bangsa, selalu ada dua cara memandang identitas. Pertama, identitas yang lahir dari rasa percaya diri dan kesadaran sejarah. Kedua, identitas yang lahir dari rasa rendah diri yang berusaha ditutupi dengan simbol-simbol kebesaran. Di titik inilah pemikiran tentang superiority complex menjadi menarik untuk dibahas dalam konteks Aceh hari ini.
Banyak orang sering salah memahami konsep superioritas. Mereka menganggap setiap sikap bangga terhadap bangsa, sejarah, dan identitas sebagai bentuk kesombongan. Padahal tidak selalu demikian. Dalam banyak kasus, rasa percaya diri suatu bangsa justru menjadi syarat utama untuk mempertahankan martabat dan kepentingannya di tengah tekanan politik, ekonomi, dan budaya.
Hasan Tiro memahami hal tersebut.
Sebagai tokoh sentral perjuangan Aceh, Hasan Tiro membangun narasi tentang bangsa Aceh bukan semata-mata untuk romantisme sejarah, tetapi untuk menanamkan kesadaran bahwa Aceh memiliki harga diri, identitas, dan kepentingan politik yang harus dijaga. Dalam berbagai pemikirannya, Aceh tidak diposisikan sebagai bangsa yang meminta belas kasihan, melainkan sebagai bangsa yang ingin berdiri dengan martabatnya sendiri.
Di sinilah sebagian orang menilai gagasan Hasan Tiro sebagai bentuk superiority complex. Namun pertanyaannya: apakah keyakinan terhadap kehormatan bangsa selalu berarti merasa lebih tinggi dari orang lain?
Filsuf Jerman Friedrich Nietzsche pernah berbicara tentang bagaimana manusia yang kuat sering kali dipandang arogan hanya karena ia menolak tunduk pada mentalitas lemah. Dalam pemikirannya, manusia yang memiliki will to power bukan sekadar ingin berkuasa, tetapi ingin mempertahankan kehormatan, nilai, dan eksistensinya. Nietzsche mengkritik mentalitas yang terlalu nyaman dalam kepatuhan dan kehilangan keberanian untuk menentukan nasibnya sendiri.
Dalam konteks Aceh, pemikiran seperti ini menjadi relevan untuk direnungkan. Sebab persoalan terbesar Aceh hari ini mungkin bukan lagi perang, melainkan hilangnya arah tentang apa sebenarnya national interest bangsa Aceh di era damai.
Apakah kepentingan Aceh hari ini benar-benar sedang dijaga? Ataukah energi politik Aceh justru habis dalam konflik elite, perebutan kekuasaan, dan pertarungan jangka pendek yang perlahan membuat rakyat kehilangan kepercayaan?
Aceh pernah memiliki identitas politik yang kuat: keberpihakan kepada rakyat kecil, keberanian menjaga marwah daerah, serta semangat untuk berdiri sejajar dengan daerah lain tanpa kehilangan jati diri. Namun dalam realitas hari ini, masyarakat mulai mempertanyakan ke mana arah besar itu bergerak.
Ketika isu kesehatan menjadi polemik, ketika persoalan kemiskinan masih membayangi, ketika anak muda semakin sulit melihat masa depan di tanahnya sendiri, maka pertanyaan tentang national interest menjadi semakin penting. Sebab bangsa yang kehilangan arah kepentingannya akan mudah terjebak dalam simbol tanpa substansi.
Di sinilah warisan pemikiran Hasan Tiro seharusnya dibaca lebih dalam, bukan hanya melalui romantisme perjuangan, tetapi melalui pertanyaan mendasar: apakah kekuasaan hari ini benar-benar dipakai untuk menjaga kepentingan rakyat Aceh?
Nietzsche pernah mengingatkan bahwa manusia yang kehilangan tujuan besar akan sibuk mengejar hal-hal kecil. Kalimat itu terasa relevan ketika melihat bagaimana energi publik sering habis dalam konflik yang tidak menyentuh akar persoalan masyarakat.
Aceh membutuhkan lebih dari sekadar nostalgia sejarah. Aceh membutuhkan keberanian untuk mendefinisikan kembali apa yang menjadi kepentingan utama rakyatnya di masa depan. Sebab sejarah tidak akan hanya menilai bagaimana sebuah perjuangan dimulai, tetapi juga bagaimana cita-cita perjuangan itu dijaga setelah kekuasaan berhasil diraih.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah bangsa bukan terletak pada seberapa keras ia berbicara tentang kehormatan, tetapi pada seberapa jauh rakyatnya benar-benar merasakan keadilan, perlindungan, dan harapan di tanahnya sendiri.






