KCA Gelar Turnamen Catur Cepat, Diikuti 74 Pecatur se Aceh”

Banda Aceh26 Dilihat

Banda Aceh – Suasana berbeda terasa di Warkop Kupikayee, Banda Aceh, Minggu 7 Juni 2026. Puluhan papan catur berjejer rapi, jam catur berdetak cepat, dan konsentrasi tinggi terpancar dari wajah para peserta. Klub Catur Aceh (KCA) menyelenggarakan Turnamen Catur Cepat yang berhasil menarik 74 pecatur dari berbagai kabupaten dan kota se Aceh. Turnamen ini bukan sekadar adu strategi di atas papan 8×8, tapi juga menjadi ajang silaturahmi dan pembinaan atlet muda yang diharapkan melahirkan bibit-bibit berprestasi untuk tingkat nasional hingga internasional.
Turnamen yang digelar sejak pagi hingga malam hari itu menggunakan sistem Swiss 7 babak dengan kontrol waktu 20 menit increment per langkah. Format catur cepat dipilih agar pertandingan tetap dinamis, menarik untuk penonton, sekaligus menguji kecepatan berpikir dan ketenangan peserta di bawah tekanan waktu.

Ketua Panitia Iswanda, SH, mengatakan pemilihan Warkop Kayee Lee sebagai venue sengaja dilakukan agar catur lebih dekat dengan masyarakat. “Kami ingin mematahkan kesan bahwa catur itu eksklusif dan kaku. Di warung kopi pun catur bisa jadi hiburan yang cerdas. Antusiasme peserta 74 orang di luar dugaan kami. Ini bukti bahwa animo masyarakat Aceh terhadap catur sangat besar,” ujar Iswanda di sela-sela pertandingan.

Untuk menjaga kualitas turnamen, KCA menunjuk Chef Arbiter yang juga Wasit Percasi Banda Aceh M Taufik, WNM. Gelar WNM atau Wasit National Madya yang disandangnya menjadi jaminan bahwa jalannya pertandingan sesuai standar Federasi Catur Indonesia Percasi dan FIDE. Didampingi Anisa Paraliana, FA, sebagai arbiter pendamping, sistem pairing dan penghitungan poin dilakukan digital sehingga hasil tiap babak langsung bisa dipantau peserta.

M Taufik menjelaskan, turnamen catur cepat menuntut ketegasan wasit karena potensi sengketa waktu dan langkah sangat tinggi. “Kami menekankan tiga hal: disiplin waktu, sportivitas, dan menghormati lawan. Alhamdulillah, 74 peserta bisa menjaga itu semua hingga babak terakhir,” katanya.

Turnamen ini mendapat dukungan langsung dari sejumlah tokoh. Faisal, anggota DPRK Banda Aceh, hadir memberikan semangat kepada peserta muda. Menurutnya, catur adalah olahraga otak yang melatih anak-anak berpikir logis dan tidak mudah menyerah. “Kalau anak terbiasa berpikir 3 sampai 5 langkah ke depan di papan catur, insyaallah dalam hidup juga begitu. Ini investasi jangka panjang,” kata Faisal.

Adun Mukhlis, mantan Bupati Aceh Besar, juga turut hadir. Ia mengapresiasi KCA karena konsisten menghidupkan ekosistem catur di Aceh. “Dulu kita punya tradisi surang dan meurukon. Sekarang catur modern bisa jadi penerusnya. Anak-anak Aceh punya potensi, tinggal kita fasilitasi,” ungkapnya.

Dian Rahmat Syahputra yang selama ini dikenal peduli pada pengembangan olahraga, hadir memberikan dukungan moral. Sementara anggota DPRA Edi Sadiqin, SH, hadir mewakili unsur legislatif provinsi. Kehadiran para tokoh ini memberi sinyal bahwa catur mulai dilirik sebagai cabang olahraga yang layak mendapat perhatian anggaran dan pembinaan serius.

Iswanda, SH, selaku Ketua Panitia sekaligus penggagas KCA, tidak menutup-nutupi harapannya. Ia berharap Pemerintah Provinsi Aceh memberikan dukungan penuh, baik berupa anggaran pembinaan, sarana latihan, maupun pengiriman atlet ke event nasional. “Catur Aceh punya bahan baku. Anak-anak kita cerdas, cepat tangkap. Yang kurang hanya fasilitas dan jam terbang bertanding. Kalau Pemprov hadir, saya yakin 3 sampai 5 tahun ke depan Aceh bisa bicara banyak di PON dan Kejurnas,” tegas Iswanda.

Harapan itu tidak berlebihan. Selama ini pecatur Aceh sering kesulitan mendapat sparring partner berkualitas dan minim pengalaman bertanding di luar daerah. Turnamen seperti ini menjadi solusi awal: menciptakan ekosistem tanding rutin di dalam daerah, sehingga atlet tidak kaget saat tampil di level lebih tinggi.

Iswanda juga menekankan pentingnya peran orang tua dan sekolah. “Orang tua jangan takut anak main catur. Justru catur melatih anak fokus, sabar, dan menerima kekalahan dengan dewasa. Sekolah juga bisa menjadikan ekstrakurikuler catur sebagai program unggulan,” tambahnya.

Tujuan utama KCA dibentuk memang jelas: melahirkan bibit-bibit tangguh dari Aceh yang siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Nama “Klub Catur Aceh” dipilih agar identitas daerah melekat kuat. Setiap pecatur yang lahir dari KCA diharapkan membawa nama Aceh saat bertanding di luar.

Strategi pembinaan yang dijalankan KCA terdiri dari tiga pilar. Pertama, turnamen rutin seperti hari ini untuk memberi jam terbang. Kedua, pelatihan dan bedah partai oleh master dan WNM agar pemahaman teori dan endgame meningkat. Ketiga, pembinaan mental karena di catur cepat, pengendalian emosi sering jadi penentu.

“Kami tidak mengejar juara instan. Kami membangun proses. Hari ini mungkin ada yang kalah telak, tapi dari kekalahan itu dia belajar. 6 bulan atau 1 tahun ke depan, hasilnya akan terlihat,” jelas Iswanda.

Bagi peserta yang masih merasa kurang puas, KCA sudah menyiapkan agenda lanjutan. Turnamen Catur akan kembali digelar pada tanggal 27 dan 28 Juni 2026. Bedanya, event dua hari itu akan mengusung hadiah yang lebih meriah dan besar dibanding turnamen 7 Juni.

“Ini komitmen kami. Setiap event harus naik kelas. Kalau hari ini hadiahnya X, bulan ini harus lebih dari X. Tujuannya memacu semangat peserta dan menarik sponsor masuk,” kata Iswanda.

Rencana turnamen dua hari itu akan menggunakan format yang lebih panjang, kemungkinan catur klasik atau rapid, agar kualitas permainan lebih dalam. KCA juga berencana mengundang pecatur master dari luar Aceh untuk menaikkan level kompetisi. Dengan begitu, pecatur lokal mendapat pelajaran langsung dari lawan yang lebih kuat.

Informasi pendaftaran dan technical meeting akan diumumkan melalui kanal resmi KCA. Peserta diimbau memantau sejak awal karena kuota diprediksi cepat penuh melihat animo turnamen kali ini.