Di Meunasah Lambaet, Tgk Ahmada DPD RI Larut Dalam Gema Maulid

Aceh Besar31 Dilihat

KUTA BARO, ACEH BESAR | Sabtu siang itu, Meunasah Lambaet tidak seperti biasanya. Halamannya lebih ramai. Suara shalawat mengalun dari pengeras suara, menyambut siapa saja yang datang. Bau kenduri, aroma kopi, dan tawa anak-anak yang berlarian berpadu menjadi satu suasana yang hanya bisa ditemukan di Aceh saat Maulid tiba.

Dan di tengah keramaian itu, ada satu sosok yang kehadirannya langsung menyedot perhatian. Tgk. Ahmada, Anggota DPD RI / MPR RI Dapil Aceh 2024-2029 itu datang bukan dengan rombongan besar dan pengawalan ketat. Ia datang seperti seorang anak gampong yang pulang ke rumahnya sendiri. Sederhana. Tersenyum. Menyalami satu per satu jamaah yang menyambutnya.

Di Meunasah Lambaet, Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar, Sabtu (7/11/2026) itu, sedang digelar Peringatan Maulidurrasul 1448 H. Sebuah perayaan yang bagi orang Aceh bukan sekadar tradisi, tapi sudah menjadi denyut nadi kehidupan.

Begitu tiba, Tgk. Ahmada DPD langsung disambut oleh para tokoh gampong, pengurus meunasah, dan para orang tua. Tidak ada jarak. Tidak ada sekat antara wakil rakyat dan rakyatnya. Mereka berpelukan, saling menepuk pundak, saling mendoakan. Seperti keluarga yang sudah lama tidak bertemu.

Dalam foto yang diunggah terlihat Tgk. Ahmada DPD berdiri di tengah-tengah para tokoh dan jamaah, di dalam meunasah. Ia mengenakan baju koko hijau kotak-kotak dengan peci hitam. Di kanan kirinya, para tokoh gampong berdiri dengan wajah sumringah. Semua tersenyum ke arah kamera. Tapi di balik senyum itu, ada rasa bangga yang tidak bisa disembunyikan. Bangga karena meunasah mereka didatangi oleh seorang Senator Aceh.

Di Aceh, meunasah itu bukan sekadar bangunan. Meunasah adalah jantung gampong. Di sanalah anak-anak belajar mengaji. Di sanalah musyawarah gampong digelar. Di sanalah orang-orang berkumpul saat ada suka dan duka. Dan di sanalah pula, setiap tahunnya, Maulid Nabi diperingati dengan penuh cinta.

Maka ketika Maulid digelar di Meunasah Lambaet, itu bukan sekadar acara seremonial. Itu adalah perayaan cinta seluruh warga gampong kepada Rasulullah Muhammad SAW. Cinta yang diwariskan turun-temurun, dari kakek nenek mereka, hingga ke anak cucu mereka hari ini.

Di dalam meunasah, lantunan shalawat dan zikir terus menggema. Para ibu-ibu majelis taklim duduk rapi dengan jilbab terbaik mereka. Para bapak-bapak duduk bersila, mendengarkan tausiyah dengan khusyuk. Para santri dan anak-anak duduk di sudut, sesekali berbisik, lalu kembali diam saat nama Rasulullah disebut.

Beliaupun larut dalam suasana itu. Ia duduk bersama jamaah, mendengarkan, berzikir, dan bershalawat. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai tamu VIP yang harus diistimewakan. Ia menempatkan dirinya sebagai seorang jamaah, sebagai seorang santri, sebagai seorang pecinta Rasulullah yang sama seperti warga lainnya.

Dan mungkin, di situlah letak keistimewaan sosok yang akrab disapa Abu Ahmad ini. Ia tidak pernah merasa lebih tinggi dari rakyatnya. Di Jakarta ia adalah Senator. Di Senayan ia adalah anggota MPR RI. Tapi di gampong-gampong Aceh, ia tetaplah Tgk. Ahmada, anak Aceh yang dibesarkan dalam tradisi dayah dan meunasah.

Dalam obrolan santai usai acara, beberapa tokoh gampong menyampaikan rasa syukur mereka. Mereka bercerita tentang kondisi meunasah, tentang kegiatan pengajian, tentang anak-anak muda yang mulai aktif di gampong. Dan Tgk. Ahmada mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia mengangguk, sesekali ia bertanya, sesekali ia tertawa lepas mendengar cerita lucu warga.

Bagi warga Lambaet, kehadiran Tgk. Ahmada bukan hanya tentang Maulid. Lebih dari itu, kehadiran itu adalah bukti bahwa mereka tidak dilupakan. Bahwa ada wakil mereka di Jakarta yang masih mau turun ke gampong, masih mau duduk di meunasah, masih mau makan kenduri bersama mereka.

Karena bagi orang Aceh, Maulid itu juga soal silaturahmi. Soal makan bersama. Soal duduk bersama. Soal saling memaafkan. Dan di Meunasah Lambaet hari itu, semua itu terjadi dengan begitu indah.

Kenduri Maulid pun digelar. Nasi dan lauk-pauk khas Aceh dihidangkan dalam talam-talam besar. Semua jamaah makan bersama. Tidak ada yang dibedakan. Pejabat dan rakyat, tua dan muda, kaya dan miskin, semua duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Itulah ajaran Rasulullah yang sesungguhnya. Itulah Islam yang membumi di Aceh.

Menjelang sore, acara pun usai. Namun kehangatan itu tidak langsung hilang. Tgk. Ahmada masih sempat berfoto bersama para tokoh dan jamaah, sebelum akhirnya berpamitan. Satu per satu jamaah menyalaminya, mendoakannya agar selalu sehat, agar selalu diberi kekuatan dalam memperjuangkan Aceh di pusat.

Perjalanan Tgk. Ahmada DPD hari itu belum selesai. Dari satu gampong ke gampong lain, dari satu meunasah ke meunasah lain, dari satu Maulid ke Maulid lainnya. Begitulah cara ia menjaga amanah sebagai wakil rakyat Aceh. Bukan dengan duduk di balik meja, tapi dengan berjalan kaki, menyapa, dan mendengarkan langsung suara rakyatnya.

Dan Meunasah Lambaet, pada Sabtu, 7 November 2026 itu, menjadi saksi bisu. Bahwa di gampong kecil di Kuta Baro itu, cinta kepada Rasulullah masih menyala terang. Dan silaturahmi antara ulama, wakil rakyat, dan rakyatnya, masih terjalin erat, seerat simpul tali yang tidak akan pernah putus.(**)