Tgk Ahmada DPD RI Ziarah ke Makam Tgk Chik di Tiro

Aceh Besar142 Dilihat

ACEH BESAR – Anggota DPD-RI Tgk Ahmada berziarah ke makam Pahlawan Nasional Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman di Gampong Meureu, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Kamis (29/10/2026). Dalam kunjungan tersebut, Tgk Ahmada DPD memanjatkan doa sebagai bentuk penghormatan kepada ulama besar sekaligus pejuang yang memiliki peran penting dalam sejarah perlawanan rakyat Aceh terhadap penjajahan Belanda.

Ziarah tersebut memiliki makna tersendiri bagi Tgk Ahmada DPD. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh yang berjasa dalam sejarah Aceh, kunjungan itu juga berkaitan dengan penelusuran garis keturunan keluarga yang memiliki hubungan dengan sejumlah ulama besar di Tanah Rencong.

Dalam kunjungan tersebut, Tgk Ahmada DPD didampingi Abu Muhyiddin Sebagai Anggota MPU aceh barat daya. Beliau juga mantan Anggota DPRA dari Partai Aceh priode 2009 – 2014.

Berdasarkan keterangan yang disampaikan, Tgk Ahmada DPD merupakan cucu keempat dari Tgk Chik Tanoh Mirah, seorang ulama yang dimakamkan di Geumpang, Kecamatan Mane, Kabupaten Pidie. Tgk Chik Tanoh Mirah disebut memiliki garis keturunan dari Tgk Chik di Tiro dan Tgk Chik Tanoh Abee, dua nama yang dikenal dalam sejarah keulamaan dan perjuangan masyarakat Aceh.

Hubungan silsilah tersebut menjadikan ziarah Tgk Ahmada DPD bukan sekadar kunjungan ke makam seorang pahlawan nasional. Momentum ini juga menjadi kesempatan untuk mengenang leluhur, menghormati jasa para pendahulu, serta mengingat kembali nilai-nilai keagamaan, keilmuan, dan perjuangan yang diwariskan para ulama Aceh.

Teungku Chik di Tiro, yang memiliki nama asli Muhammad Saman, merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan rakyat Aceh melawan kolonialisme Belanda. Lahir pada 1836, beliau tumbuh dalam lingkungan masyarakat yang memiliki tradisi keislaman kuat dan menjadikan pendidikan agama sebagai bagian penting dalam kehidupan.

Sejak muda, Muhammad Saman mendalami ilmu agama melalui pendidikan yang dibimbing para ulama. Bekal keilmuan tersebut membentuk dirinya menjadi sosok yang tidak hanya memiliki pemahaman agama, tetapi juga kepedulian besar terhadap nasib masyarakat Aceh ketika menghadapi tekanan kolonial.

Ketika Belanda semakin memperluas kekuasaannya di Aceh, Teungku Chik di Tiro tampil sebagai salah seorang pemimpin perlawanan rakyat. Sekitar 1881, beliau menggerakkan perjuangan yang dikenal sebagai Perang Sabil, dengan semangat keagamaan dan dukungan masyarakat yang ingin mempertahankan tanah kelahirannya.

Perjuangan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah panjang perlawanan rakyat Aceh. Di tengah keterbatasan dan tekanan yang dihadapi, Teungku Chik di Tiro mampu membangkitkan semangat masyarakat untuk terus mempertahankan keyakinan, martabat, dan kedaulatan tanah air.

Peran beliau menunjukkan bahwa ulama Aceh pada masa itu tidak hanya menjadi pembimbing umat dalam urusan keagamaan, tetapi juga mengambil bagian dalam perjuangan menghadapi penjajahan. Perpaduan antara ilmu agama, keberanian, dan kepemimpinan menjadikan Teungku Chik di Tiro dikenang sebagai salah satu tokoh besar dalam sejarah Aceh.

Setelah bertahun-tahun memimpin perjuangan, Teungku Chik di Tiro wafat pada 1891. Jasa dan pengorbanannya kemudian mendapat pengakuan negara melalui penetapannya sebagai Pahlawan Nasional pada 1973.

Hingga kini, namanya tetap menjadi bagian penting dari ingatan kolektif masyarakat Aceh. Perjuangannya mewariskan pelajaran tentang keteguhan prinsip, keberanian menghadapi ketidakadilan, serta pengabdian kepada agama dan tanah air.

Menelusuri Silsilah Keluarga Ulama Aceh

Bagi Tgk Ahmada DPD, ziarah ke makam Teungku Chik di Tiro juga menjadi momentum untuk mengenang hubungan keluarga dan menelusuri kembali riwayat para leluhur.

Tgk Chik Tanoh Mirah, yang disebut sebagai leluhur Tgk Ahmada DPD, dimakamkan di Geumpang, Kecamatan Mane, Kabupaten Pidie. Berdasarkan keterangan keluarga yang disampaikan, beliau merupakan keturunan Tgk Chik di Tiro dan Tgk Chik Tanoh Abee.

Keterangan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya mengenali perjalanan keluarga ulama Aceh dari satu generasi ke generasi berikutnya. Silsilah keluarga tidak hanya menunjukkan hubungan kekerabatan, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah pendidikan agama, tradisi dayah, serta pengabdian para pendahulu kepada masyarakat.

Dalam tradisi masyarakat Aceh, hubungan antara ulama, keluarga, dan dayah memiliki peranan penting dalam menjaga keberlanjutan ilmu agama. Pengetahuan dan nilai-nilai keislaman diwariskan melalui pendidikan, pengajaran kitab, dakwah, serta keteladanan dalam kehidupan bermasyarakat.

Karena itu, penelusuran silsilah para ulama perlu disertai upaya dokumentasi yang baik. Catatan keluarga, kesaksian para tetua, manuskrip, dan sumber sejarah tertulis dapat membantu memastikan bahwa riwayat para leluhur tersampaikan secara tepat kepada generasi berikutnya.

Makam Tgk Chik Tanoh Mirah di Geumpang juga menjadi bagian dari jejak sejarah keluarga yang patut dikenali. Riwayat kehidupan, perjuangan, dan kiprah keagamaannya masih perlu ditelusuri lebih lanjut melalui sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan agar kisahnya dapat didokumentasikan secara lebih lengkap.

Tgk Chik Tanoh Abee dan Warisan Keilmuan Islam

Selain Teungku Chik di Tiro, nama Tgk Chik Tanoh Abee juga memiliki tempat penting dalam tradisi keilmuan Islam di Aceh.

Tanoh Abee, yang berada di kawasan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam bersejarah. Dayah Tanoh Abee memiliki tradisi keilmuan yang panjang dan dikenal menyimpan berbagai manuskrip keagamaan yang bernilai bagi perkembangan pengetahuan Islam di Aceh.

Keberadaan pusat-pusat pendidikan seperti dayah memperlihatkan bahwa peran ulama Aceh tidak hanya berkaitan dengan perjuangan melawan penjajahan. Para ulama juga berperan dalam mendidik masyarakat, mengembangkan ilmu agama, membimbing kehidupan sosial, serta menjaga keberlanjutan tradisi intelektual Islam.

Melalui pendidikan dayah, generasi demi generasi dibekali pengetahuan agama, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Tradisi tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk karakter masyarakat Aceh.

Dalam konteks silsilah keluarga yang disampaikan mengenai Tgk Ahmada DPD, nama Tgk Chik Tanoh Abee menjadi bagian dari rangkaian sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Namun, hubungan kekerabatan antartokoh tersebut tetap perlu diperkuat dengan catatan keluarga atau sumber sejarah yang relevan agar tidak terjadi kekeliruan dalam penulisan sejarah.

Ziarah ke makam ulama dan tokoh perjuangan telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat yang ingin mengenang jasa para pendahulu. Melalui ziarah, masyarakat mendoakan mereka yang telah wafat sekaligus mengingat kembali perjalanan hidup dan pengabdian yang pernah diberikan.

Bagi Tgk Ahmada DPD, kunjungan ke makam Teungku Chik di Tiro memiliki nilai historis dan kekeluargaan. Hubungannya dengan Tgk Chik Tanoh Mirah, sebagaimana disampaikan dalam keterangan keluarga, memberikan latar tersendiri bagi kunjungan tersebut.

Lebih jauh, ziarah juga menjadi pengingat bahwa warisan leluhur tidak cukup hanya dikenang melalui nama dan silsilah. Nilai-nilai yang diwariskan perlu diteruskan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain melalui penguatan pendidikan agama, kepedulian terhadap sesama, pemeliharaan persatuan, dan keteladanan bagi generasi muda.

Perjuangan para ulama Aceh memberikan pelajaran bahwa ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada masyarakat merupakan dua hal yang saling berkaitan. Ulama tidak hanya menyampaikan ajaran agama, tetapi juga menjadi teladan dalam menghadapi tantangan zaman.

Oleh sebab itu, mengenalkan kembali sejarah para ulama kepada generasi muda menjadi langkah penting untuk menjaga identitas dan warisan budaya Aceh.

Merawat Sejarah untuk Generasi Mendatang

Ziarah Tgk Ahmada DPD ke makam Teungku Chik di Tiro di Gampong Meureu, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Kamis (29/10/2026), menjadi momentum untuk mengenang jasa seorang ulama dan pahlawan nasional sekaligus menyoroti pentingnya pelestarian sejarah keluarga para ulama Aceh.

Keterangan mengenai Tgk Ahmada DPD sebagai cucu keempat Tgk Chik Tanoh Mirah, serta hubungan garis keturunan yang dikaitkan dengan Teungku Chik di Tiro dan Tgk Chik Tanoh Abee, menjadi titik awal untuk menelusuri lebih jauh perjalanan keluarga tersebut.

Upaya pelestarian sejarah dapat dilakukan melalui pendokumentasian silsilah, pengumpulan cerita dari para tetua, penelitian terhadap manuskrip, serta pencatatan lokasi makam dan tempat-tempat bersejarah yang berkaitan dengan kehidupan para ulama.

Langkah tersebut penting agar kisah para tokoh terdahulu tidak hanya bertahan melalui cerita lisan, tetapi juga memiliki dokumentasi yang dapat dipelajari dan diverifikasi oleh generasi mendatang.

Bagi masyarakat Aceh, sejarah para ulama merupakan bagian dari kekayaan daerah yang harus dijaga. Di dalamnya terdapat nilai perjuangan, keteguhan iman, kecintaan terhadap ilmu, serta semangat pengabdian yang relevan untuk dijadikan teladan hingga saat ini.

Pada akhirnya, ziarah Tgk Ahmada DPD bukan sekadar kunjungan ke makam seorang pahlawan nasional. Kunjungan tersebut juga menjadi momentum untuk menghormati leluhur, mengenang jasa para ulama, dan mendorong pelestarian sejarah Aceh agar tetap hidup dalam ingatan masyarakat.(**)