Kadishub Aceh Imbau Pelaku Transportasi Waspadai Kabut Asap

BANDA ACEH – Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Aceh, T. Faisal, meminta seluruh operator dan pemangku kepentingan sektor transportasi meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai memasuki wilayah Aceh dalam dua hari terakhir.

Kewaspadaan tersebut diperlukan untuk menjaga keselamatan pengguna jasa transportasi sekaligus mengantisipasi potensi gangguan operasional, terutama akibat berkurangnya jarak pandang yang dapat membahayakan perjalanan darat, laut, maupun udara.

Faisal menegaskan, keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan operasional transportasi. Karena itu, seluruh pelaku transportasi diminta terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi jarak pandang serta memperkuat koordinasi dengan instansi terkait.

“Kami mengimbau seluruh pelaku transportasi untuk meningkatkan kewaspadaan, memantau perkembangan kondisi cuaca dan jarak pandang, serta memperkuat koordinasi dengan instansi terkait. Keselamatan harus tetap menjadi prioritas dalam setiap operasional transportasi,” ujar Faisal di Banda Aceh, Jumat (16/10/2026).

Selain kepada operator transportasi, Faisal juga mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kondisi lingkungan dan cuaca sebelum melakukan perjalanan. Masyarakat diharapkan mengikuti informasi resmi dari petugas maupun operator transportasi, khususnya apabila terjadi perubahan jadwal atau layanan akibat kondisi kabut asap.

Penerbangan Perintis Kualanamu–Rembele Dibatalkan

Dampak kabut asap terhadap sektor transportasi udara telah terjadi pada Kamis (15/10/2026). Penerbangan perintis rute Kualanamu–Rembele, Kabupaten Bener Meriah, dan sebaliknya terpaksa dibatalkan akibat kondisi kabut asap.

Berdasarkan surat PT ASI Pudjiastuti Aviation (Susi Air) tertanggal 15 Oktober 2026, penerbangan dengan nomor SI 7307 dan SI 7308 dibatalkan karena terdampak kabut asap.

Pembatalan tersebut menjadi perhatian bagi penyelenggara dan operator transportasi untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan memburuknya kondisi cuaca dan jarak pandang di sejumlah wilayah Aceh.

Kondisi jarak pandang merupakan salah satu faktor penting dalam keselamatan penerbangan. Oleh sebab itu, pemantauan cuaca dan koordinasi antara operator penerbangan, pengelola bandara, serta instansi meteorologi perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan keselamatan penerbangan.

Operasional Bandara SIM Masih Normal

Di tengah kondisi kabut asap yang mulai memengaruhi sejumlah wilayah, operasional Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh Besar, pada Jumat (16/10/2026) dilaporkan masih berjalan normal, aman, dan lancar.

Berdasarkan laporan General Manager Bandara SIM, Rahmat Adil Indrawan, jarak pandang pada pukul 05.00 UTC tercatat mencapai 3.500 meter. Data tersebut merujuk pada informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui QAM dan METAR.

Hingga laporan tersebut disampaikan, belum terdapat dampak kabut asap yang mengganggu operasional penerbangan di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda.

Meski demikian, pihak bandara tidak mengabaikan potensi perubahan kondisi cuaca. Langkah antisipasi terus dilakukan guna memastikan seluruh aktivitas penerbangan tetap berlangsung dengan memperhatikan aspek keselamatan dan keamanan.

Pihak Bandara SIM telah melaksanakan briefing kesiapan operasional serta melanjutkan pemantauan kondisi cuaca dan jarak pandang. Koordinasi juga diperkuat bersama BMKG, AirNav Indonesia, dan para pemangku kepentingan terkait untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya penurunan jarak pandang akibat kabut asap.

Keselamatan Menjadi Prioritas

Dinas Perhubungan Aceh berharap seluruh operator dan penyelenggara transportasi tetap siaga menghadapi perkembangan situasi kabut asap. Pemantauan berkala, pertukaran informasi, serta koordinasi lintas instansi dinilai penting untuk mengambil langkah cepat apabila kondisi di lapangan mengalami perubahan.

Masyarakat juga diimbau tidak mengabaikan informasi resmi mengenai kondisi cuaca dan layanan transportasi sebelum bepergian. Apabila terjadi perubahan jadwal maupun pembatalan perjalanan, pengguna jasa diharapkan mengikuti arahan petugas dan operator yang berwenang.

Dengan meningkatnya kewaspadaan dan kesiapan seluruh pihak, diharapkan dampak kabut asap terhadap mobilitas masyarakat dapat diantisipasi, sementara keselamatan pengguna jasa dan kelancaran layanan transportasi di Aceh tetap terjaga.(**)