Bang Opi, Potret Pemimpin Bersahaja yang Dekat dengan Rakyat

Aceh Besar255 Dilihat

Aceh Besar – Sosok politisi yang lahir dari akar rumput kerap memiliki daya tarik tersendiri di mata publik. Mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga merasakan langsung dinamika kehidupan masyarakat. Hal inilah yang tergambar dalam diri Apriono, ST, atau yang akrab disapa Bang Opi—seorang anggota DPRK Aceh Besar yang dinilai memiliki karakter kepemimpinan bersahaja dan merakyat.

Dalam pandangan akademisi dari Universitas Iskandar Muda, M. Nur, Bang Opi bukan sekadar politisi biasa. Ia merupakan figur yang tumbuh melalui proses panjang, bukan dari jalur instan kekuasaan. Perjalanan hidupnya diwarnai oleh pengalaman di berbagai sektor, mulai dari dunia kerja, organisasi, hingga akhirnya berkiprah di dunia politik.

Karakter kepemimpinan Bang Opi dinilai unik karena memadukan pengalaman praktis, kesadaran intelektual, serta kedekatan sosial dengan masyarakat. Kombinasi ini menjadikannya mampu memahami kebutuhan riil warga sekaligus merumuskan solusi yang tepat sasaran.

Perjalanan politiknya sendiri dimulai sejak 2009 bersama Partai Aceh. Selama lebih dari satu dekade, ia berproses dan membangun basis pengalaman politik yang kuat. Keputusan penting diambil pada 2024 ketika ia bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), hanya beberapa hari sebelum penetapan Daftar Calon Tetap (DCT). Dalam perspektif komunikasi politik, langkah tersebut mencerminkan keberanian sekaligus kemampuan adaptasi yang matang terhadap dinamika politik.

Dari sisi akademik, Bang Opi memiliki latar belakang pendidikan Teknik Mesin dari Universitas Iskandar Muda. Pendidikan ini membentuk pola pikir yang sistematis, terukur, dan berbasis solusi. Tidak berhenti di situ, ia juga melanjutkan studi Magister Hukum Keluarga Islam di STIS NU Aceh. Langkah ini menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat kapasitas intelektual, khususnya dalam memahami aspek hukum dan sosial masyarakat.

Rekam jejak profesionalnya juga tidak kalah menarik. Ia pernah bekerja di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias sebagai staf aset, kemudian berkarier di Bank BRI. Selanjutnya, ia menjabat sebagai Direktur Utama PT Samana Citra Persada selama lebih dari satu dekade. Pengalaman lintas sektor ini memperlihatkan kemampuannya dalam mengelola organisasi serta memahami kompleksitas sistem kerja.

Namun, kekuatan utama Bang Opi justru terlihat saat ia mengemban amanah sebagai wakil rakyat. Program-program yang diinisiasinya cenderung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Pada 2024, ia mendorong pembangunan 21 unit MCK di sejumlah wilayah seperti Deunong, Darul Imarah, dan Darul Kamal sebagai solusi atas persoalan sanitasi.

Tidak berhenti di sana, pada 2025 ia kembali menunjukkan komitmennya dengan mendorong pembangunan irigasi, distribusi pupuk untuk petani, serta pembangunan talud. Program-program tersebut menegaskan keberpihakannya pada sektor pertanian dan infrastruktur lingkungan—dua sektor yang menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat lokal.

Memasuki 2026, fokusnya tetap konsisten. Ia terus mengupayakan bantuan pupuk, pembangunan jalan, serta penguatan berbagai kegiatan masyarakat. Pendekatan yang ia gunakan mencerminkan model pembangunan bottom-up, di mana kebijakan berangkat dari kebutuhan masyarakat, bukan semata-mata dari kepentingan elite.

Di luar aktivitas politik, Bang Opi juga aktif dalam berbagai organisasi seperti PMI, Mapala UNIDA, dan HMI. Pengalaman organisasi ini membentuk karakter kepemimpinan yang responsif, komunikatif, dan memiliki jaringan sosial yang luas.

Kesederhanaan menjadi ciri khas yang paling menonjol dari sosok Bang Opi. Ia dikenal sebagai figur yang mudah diakses, tidak berjarak dengan masyarakat, dan lebih mengedepankan kerja nyata dibanding retorika. Dalam konteks politik lokal, karakter ini menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam membangun kepercayaan publik.

Dalam dinamika internal partai, Bang Opi juga disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat untuk memimpin DPC PKB Aceh Besar. Dengan rekam jejak yang dimilikinya, ia dinilai memiliki kapasitas teknokratis, pengalaman organisasi, serta legitimasi sosial yang mumpuni untuk membawa partai semakin dekat dengan masyarakat.

Pada akhirnya, sosok Apriono, ST mencerminkan model kepemimpinan yang tumbuh dari bawah, ditempa oleh pengalaman, dan dijalankan dengan kesadaran intelektual. Ia hadir bukan hanya sebagai wakil rakyat, tetapi juga sebagai bagian dari rakyat itu sendiri—mewujudkan politik yang lebih membumi, sederhana, dan bermakna.(**)