Harga Minyak Dunia Turun, BBM di Indonesia Justru Naik: Ini Rinciannya

Artikel160 Dilihat

ACEH – Penurunan harga minyak dunia yang dipicu oleh keputusan Iran membuka kembali Selat Hormuz selama masa gencatan senjata dengan Amerika Serikat ternyata belum berdampak langsung pada harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Sebaliknya, PT Pertamina (Persero) justru melakukan penyesuaian harga yang cenderung meningkat di sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: mengapa saat harga minyak global melemah, harga BBM dalam negeri justru bergerak ke arah sebaliknya?

Berdasarkan informasi dari situs resmi MyPertamina per Sabtu, 18 April 2026, harga BBM di wilayah Aceh relatif masih stabil untuk beberapa jenis. BBM bersubsidi seperti Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, sementara Biosolar berada di angka Rp6.800 per liter.

Untuk BBM non-subsidi, Pertamax (RON 92) di Aceh dibanderol Rp12.600 per liter. Sementara itu, Pertamax Turbo dijual cukup tinggi, yakni Rp19.850 per liter. Adapun Dexlite dipatok Rp24.150 per liter dan Pertamina Dex mencapai Rp24.450 per liter. Harga Pertamax di jaringan Pertashop juga berada di kisaran Rp12.500 per liter.

Namun, harga tersebut tidak berlaku di Kawasan Bebas Pelabuhan Sabang. Di wilayah ini, terdapat perbedaan harga yang cukup signifikan. Pertamax dijual lebih murah, yakni Rp11.550 per liter, sementara Dexlite berada di angka Rp22.150 per liter. Pertamax Pertashop di Sabang juga lebih rendah, yakni Rp11.450 per liter.

Sementara itu di DKI Jakarta, penyesuaian harga justru menunjukkan lonjakan yang cukup tajam, terutama untuk BBM non-subsidi. Pertamax Turbo kini dipatok Rp19.400 per liter, melonjak drastis dari sebelumnya Rp13.100 per liter per 1 April 2026. Kenaikan serupa juga terjadi pada Dexlite yang kini menjadi Rp23.600 per liter dari sebelumnya Rp14.200 per liter, serta Pertamina Dex yang naik menjadi Rp23.900 per liter dari Rp14.500 per liter.

Meski demikian, Pertamina masih mempertahankan harga untuk beberapa jenis BBM. Pertamax (RON 92) tetap berada di Rp12.300 per liter, sementara Pertamax Green dijual Rp12.900 per liter. BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar juga tidak mengalami perubahan harga.

Fenomena ini menunjukkan bahwa harga BBM di Indonesia tidak sepenuhnya mengikuti dinamika harga minyak dunia secara langsung. Sejumlah faktor lain turut memengaruhi, seperti nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, biaya distribusi, hingga kebijakan pemerintah terkait subsidi energi.

Selain itu, mekanisme penetapan harga BBM non-subsidi di Indonesia juga mempertimbangkan rata-rata harga minyak dalam periode tertentu, sehingga dampak penurunan harga global tidak serta-merta dirasakan secara instan oleh konsumen.

Di sisi lain, keputusan Iran membuka Selat Hormuz memang memberi sentimen positif bagi pasokan minyak dunia, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi energi global. Namun, dampaknya terhadap harga domestik masih membutuhkan waktu untuk terefleksi secara nyata.

Dengan kondisi ini, masyarakat diimbau untuk tetap bijak dalam penggunaan energi serta mengikuti perkembangan kebijakan pemerintah terkait harga BBM ke depan.(**)