Jakarta – Hujan deras dengan durasi panjang yang mengguyur wilayah Solo Raya pada Selasa (14/4) malam memicu banjir di Kota Surakarta atau Solo, Provinsi Jawa Tengah. Air mulai menggenangi sejumlah permukiman warga sejak pukul 21.42 WIB, menyebabkan ribuan warga terdampak dan sebagian terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Berdasarkan data yang dihimpun hingga Rabu (15/4) sore, sebanyak 1.083 kepala keluarga (KK) terdampak yang tersebar di berbagai kelurahan. Wilayah dengan jumlah terdampak terbesar di antaranya Kelurahan Kedung Lumbu sebanyak 230 KK, Tipes 211 KK, serta Panularan 187 KK. Selain itu, wilayah lain seperti Pajang, Joyosuran, Bumi, hingga Sangkrah juga turut merasakan dampak genangan air dengan ketinggian bervariasi.
Meski sebagian besar wilayah kini dilaporkan mulai berangsur surut, proses pendataan dan penanganan masih terus berlangsung di sejumlah titik. Di tengah kondisi tersebut, bencana juga memicu talud longsor di kawasan RW 14 Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, yang menambah kompleksitas penanganan di lapangan.
Sejumlah warga sempat mengungsi ke berbagai lokasi seperti masjid, balai warga, sekolah, hingga rumah kerabat. Puluhan jiwa dilaporkan masih membutuhkan bantuan logistik dan layanan dasar, termasuk makanan siap saji, selimut, dan kebutuhan darurat lainnya.
Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surakarta bersama unsur terkait bergerak cepat melakukan asesmen, evakuasi, serta koordinasi lintas sektor. Bantuan logistik pun telah disalurkan, mulai dari matras, selimut, hingga paket sembako. Dapur umum juga didirikan oleh Dinas Sosial bersama masyarakat untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi.
Di waktu yang hampir bersamaan, banjir juga melanda wilayah Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Tingginya intensitas hujan menyebabkan debit air Sungai Cisunggalah meningkat drastis hingga mengakibatkan tanggul jebol pada Selasa (14/4).
Banjir di Kabupaten Bandung berdampak pada dua kecamatan, yakni Majalaya dan Bojongsoang, yang mencakup empat desa: Bojong, Bojongsoang, Bojongsari, dan Tegalluar. Data sementara mencatat sekitar 95 KK atau 250 jiwa terdampak, dengan jumlah rumah terdampak mencapai 95 unit.
Kondisi di Kecamatan Majalaya dilaporkan telah surut sepenuhnya. Namun, di Kecamatan Bojongsoang, tinggi muka air masih berkisar antara 10 hingga 150 sentimeter, sehingga warga tetap diminta waspada terhadap kemungkinan banjir susulan.
BPBD Kabupaten Bandung bersama berbagai pihak terus melakukan pendataan dan pembersihan sisa lumpur yang menumpuk di permukiman warga. Kegiatan gotong royong pun dilakukan untuk mempercepat pemulihan pascabencana.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui program Teropong Bencana mengungkapkan bahwa tingginya curah hujan di wilayah barat Sumatra hingga Pulau Jawa dipengaruhi oleh dampak tidak langsung dari bibit siklon tropis 92S yang berada di barat daya Sumatra. Meskipun fenomena tersebut diprediksi menjauh dari wilayah Indonesia, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi dalam dua hingga tiga hari ke depan.
Wilayah yang diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan meliputi Sumatra bagian tengah dan selatan hingga Lampung, serta kawasan Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, hingga Jawa bagian tengah dan selatan.
BNPB mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah. Warga di daerah rawan banjir diminta rutin memantau kondisi tinggi muka air, membersihkan saluran drainase, serta segera melakukan evakuasi mandiri jika debit air meningkat secara signifikan.
Selain itu, masyarakat yang tinggal di lereng atau bantaran sungai juga diminta mewaspadai potensi longsor susulan. Pemerintah daerah diharapkan memastikan kesiapan logistik, jalur evakuasi, serta sistem peringatan dini guna meminimalkan risiko bencana.
Hingga saat ini, BNPB bersama BPBD setempat terus memantau perkembangan situasi di lapangan guna memastikan penanganan darurat berjalan optimal dan kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi.(**)






