Plt.Kadisdik Aceh Perintahkan Sekolah Terdampak Banjir Tetap Buka, Fokus Pemulihan Trauma Siswa

Pendidikan265 Dilihat

BANDA ACEH — Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., MSP, mengeluarkan imbauan sekaligus perintah tegas kepada seluruh satuan pendidikan di Aceh yang terdampak bencana banjir, khususnya sekolah dengan kerusakan berat, agar tetap melaksanakan kegiatan pembelajaran mulai 5 Januari 2026 mendatang, selama kondisi memungkinkan.

Murthalamuddin menegaskan, kehadiran anak-anak di sekolah pascabencana jauh lebih penting dibandingkan sekadar proses belajar mengajar formal. Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang aman dan nyaman bagi anak-anak korban banjir untuk kembali berinteraksi, menata emosi, serta memulihkan kondisi psikologis mereka.

“Bagi sekolah yang memungkinkan untuk melakukan pembelajaran, kami minta dan kami perintahkan agar bagaimanapun proses pembelajaran itu tetap terjadi. Anak-anak harus berada di sekolah dan di ruang kelas,” tegas Murthalamuddin.

Ia menyadari, banyak sekolah yang kehilangan fasilitas akibat terjangan banjir. Bangku, kursi, buku pelajaran, hingga perlengkapan belajar lainnya rusak atau hanyut. Namun kondisi tersebut, kata dia, tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan aktivitas di sekolah.

“Kalau bangku dan kursi tidak ada, buku tidak tersedia, tidak apa-apa. Yang terpenting anak-anak berkumpul di ruang kelas bersama guru. Mereka bisa berdiskusi, berbagi pengalaman, saling bercerita, atau melakukan kegiatan positif lainnya,” ujarnya.

Menurut Murthalamuddin, aktivitas sederhana seperti berbincang dan berdiskusi memiliki peran besar dalam trauma healing bagi anak-anak korban bencana. Dengan kembali ke sekolah, anak-anak dapat perlahan melupakan kepedihan yang mereka alami saat banjir dan merasakan kembali kebersamaan dengan teman-temannya.

“Ini penting untuk pemulihan trauma. Anak-anak bisa melupakan sejenak pengalaman pahit kemarin, sekaligus membangun kembali interaksi sosial mereka,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Murtalamuddin juga menekankan peran guru sebagai pendamping dan fasilitator. Guru diminta tidak membebani siswa dengan target akademik, melainkan fokus menjaga suasana sekolah tetap kondusif dan menyenangkan.

“Tugas guru hanya memfasilitasi, memastikan anak-anak tidak melakukan tindakan negatif di sekolah. Tidak perlu memaksakan materi pelajaran seperti biasa,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa anak-anak korban bencana umumnya mengalami ketidakstabilan emosi. Oleh karena itu, dibutuhkan kesabaran ekstra, empati, serta pendekatan yang humanis dari para pendidik.

“Guru harus memahami bahwa emosi anak-anak tidak stabil. Mereka butuh perhatian, ketenangan, dan rasa aman. Sebagai guru, kita harus bisa membahagiakan mereka,” pungkas Murthalamuddin.

Kebijakan ini diharapkan dapat mencegah anak-anak berkeliaran tanpa pengawasan pascabencana serta memastikan mereka tetap berada dalam lingkungan yang positif. Dinas Pendidikan Aceh menilai, sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang pemulihan dan perlindungan bagi anak-anak di masa krisis.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *