Disnak Aceh Kembangkan 12 Ribu Ayam Petelur, Target Produksi 10 Ribu Butir Telur per Hari untuk Kurangi Ketergantungan dari Sumut

News105 Dilihat

Banda Aceh — Dalam upaya menekan ketergantungan pasokan telur ayam ras dari Sumatera Utara, Dinas Peternakan (Disnak) Aceh terus berinovasi melalui program pengembangan peternakan ayam petelur di tahun anggaran 2025.

Tahun ini, Disnak Aceh telah mengalokasikan pengadaan sebanyak 12.000 ekor ayam petelur yang akan diternakkan secara modern menggunakan sistem kandang tertutup (closed house) di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Ternak Non Ruminansia (BNTR) Saree, Aceh Besar.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan Aceh, Fachrial, S.Pt., M.Si., menyampaikan optimismenya terhadap hasil program tersebut. Menurutnya, dengan perawatan yang baik dan sistem peternakan modern, produksi telur dari Aceh akan meningkat signifikan dan mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan masyarakat di daerah sendiri.

“Dari 12.000 ekor ayam petelur yang kita ternakkan, diharapkan mulai tahun depan bisa menghasilkan sekitar 10.000 butir telur setiap harinya,” ungkap Fachrial kepada media, Selasa (4/11) di Banda Aceh.

Ia menjelaskan, program pengembangan ayam petelur dengan sistem kandang tertutup bukan hal baru bagi Disnak Aceh. Program ini telah menjadi kegiatan rutin tahunan yang dilaksanakan melalui UPTD BNTR di Saree. Tujuannya bukan hanya untuk produksi telur, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran dan contoh (teaching farm) bagi masyarakat yang ingin memulai usaha peternakan ayam petelur dengan sistem modern.

“Peternakan ayam petelur dengan sistem tertutup ini sudah kita jalankan sejak beberapa tahun lalu. Selain efisien, sistem ini bisa menjadi tempat belajar bagi masyarakat atau peternak pemula yang ingin mengembangkan usaha dengan cara yang lebih higienis dan produktif,” tambahnya.

Fachrial menjelaskan, sistem closed house merupakan metode peternakan modern yang banyak diterapkan di negara maju seperti Australia, Inggris, dan berbagai negara Eropa. Sistem ini memungkinkan pengendalian suhu, ventilasi, dan kebersihan kandang secara otomatis, sehingga risiko penyakit lebih rendah dan produktivitas ayam meningkat.

“Memang biaya pembangunannya cukup besar, tapi keunggulannya luar biasa. Dengan lingkungan kandang yang terkontrol, ayam lebih sehat, dan produksi telurnya jauh lebih optimal,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala UPTD BNTR Disnak Aceh, drh. Yessy Fandiba, MM, menambahkan bahwa umur produktif ayam petelur dalam sistem tertutup bisa mencapai 18 hingga 24 bulan. Setelah masa produksi berakhir, ayam-ayam tersebut masih bisa dijual dengan harga yang relatif baik.

“Setelah tidak produksi telur lagi, ayam-ayam ini tetap memiliki nilai jual. Jadi selain menghasilkan telur dalam jumlah besar, peternak juga mendapatkan keuntungan dari penjualan ayam afkir,” terang Yessy.

Program pengembangan ayam petelur ini diharapkan menjadi langkah strategis Pemerintah Aceh dalam mewujudkan kemandirian pangan, khususnya dalam penyediaan telur ayam ras di wilayah Aceh. Dengan meningkatnya kapasitas produksi lokal, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah secara bertahap dapat dikurangi, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di sektor peternakan unggas.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *