Sekda Bahas Seleksi Calon Kafilah MTQ Banda Aceh

Banda Aceh25 Dilihat

BANDA ACEH | Pemerintah Kota Banda Aceh terus mematangkan persiapan untuk menghadapi ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Hal itu terlihat dari rapat penting yang digelar Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh, Ir. Jalaluddin, untuk membahas seleksi calon kafilah MTQ Kota Banda Aceh.

Rapat tersebut berlangsung pada Jumat, 6 November 2026, bertempat di Ruang Rapat Sekda, Balai Kota Banda Aceh. Sejak pagi, para pejabat terkait, pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ), para ustadz, pelatih, dan panitia seleksi sudah berkumpul untuk menyamakan langkah.

Dalam foto  terlihat suasana rapat berlangsung khidmat dan penuh keseriusan. Para peserta duduk melingkar mengelilingi meja rapat besar, sambil berdiskusi dan mencatat poin-poin penting. Di dinding ruang rapat, terpajang lambang Garuda Pancasila, menjadi pengingat bahwa rapat ini bukan hanya soal lomba, tetapi juga soal membawa nama besar Kota Banda Aceh.

Rapat ini membahas persiapan dan proses seleksi calon kafilah guna memastikan kesiapan peserta yang akan mewakili Kota Banda Aceh dalam ajang MTQ.

Artinya, Pemko Banda Aceh tidak ingin asal kirim peserta. Semua harus melalui seleksi yang ketat, transparan, dan benar-benar berdasarkan kemampuan. Karena kafilah yang terpilih nanti bukan hanya membawa nama dirinya sendiri, tetapi membawa nama Kota Banda Aceh di tingkat provinsi, bahkan hingga tingkat nasional.

MTQ bagi masyarakat Aceh, khususnya Banda Aceh, bukan sekadar lomba biasa. MTQ adalah syiar Islam, ajang untuk mengagungkan Al-Qur’an, sekaligus menjadi wadah untuk melahirkan generasi Qur’ani yang cinta Al-Qur’an, hafal Al-Qur’an, dan mengamalkan isi kandungannya dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, seleksi calon kafilah menjadi tahapan yang sangat penting. Dalam rapat ini, dibahas secara detail bagaimana mekanisme seleksi akan dilakukan. Mulai dari cabang-cabang yang akan dilombakan, seperti Tilawah, Tahfidz, Tafsir, Fahmil Qur’an, Syarhil Qur’an, Khattil Qur’an, hingga Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an.

Setiap cabang memiliki kriteria penilaian yang berbeda. Ada yang dinilai dari segi tajwid, makhraj, irama, dan adab membaca. Ada yang dinilai dari kekuatan hafalan. Ada pula yang dinilai dari kemampuan memahami dan menjelaskan isi Al-Qur’an. Karena itu, proses seleksi harus dilakukan oleh dewan hakim dan pelatih yang benar-benar kompeten dan berpengalaman.

Sekda Jalaluddin dalam rapat tersebut menekankan pentingnya seleksi yang jujur dan objektif. Tidak boleh ada titip-titipan, tidak boleh ada peserta yang lolos karena kedekatan. Semua harus berdasarkan kemampuan dan prestasi. Hanya dengan cara itu, kafilah Banda Aceh bisa bersaing dan meraih juara.

Selain soal seleksi, rapat ini juga membahas soal kesiapan peserta secara menyeluruh. Tidak hanya kesiapan dari segi kemampuan membaca dan menghafal, tetapi juga kesiapan mental, kesiapan fisik, dan kesiapan untuk tampil di panggung besar dengan tekanan yang tinggi.

Pemko Banda Aceh juga membahas soal pembinaan berkelanjutan. Para calon kafilah yang lolos seleksi tidak langsung dilepas begitu saja. Mereka akan dibina, dilatih, dan didampingi secara intensif oleh pelatih-pelatih terbaik. Mulai dari pemantapan tajwid, penguatan hafalan, latihan mental, hingga simulasi lomba agar mereka benar-benar siap saat hari H.

Hal ini penting, karena Banda Aceh selama ini dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki tradisi kuat dalam MTQ. Banyak qari dan qariah terbaik lahir dari kota ini. Banyak hafidz dan hafidzah yang mengharumkan nama Aceh di tingkat nasional. Tradisi itu harus terus dijaga dan ditingkatkan.

Tidak heran jika Sekda Jalaluddin turun langsung memimpin rapat ini. Sebagai motor penggerak birokrasi di lingkungan Pemko Banda Aceh, Sekda ingin memastikan semua persiapan berjalan matang. Mulai dari anggaran, fasilitas, pelatih, hingga jadwal pembinaan, semuanya harus terencana dengan baik.

Dalam rapat ini juga dibahas soal dukungan dari berbagai pihak. LPTQ Kota Banda Aceh, Dinas Syariat Islam, Kantor Kementerian Agama Kota Banda Aceh, para ulama, pimpinan dayah dan pesantren, hingga para orang tua peserta, semuanya diharapkan bisa ikut mendukung dan mendoakan perjuangan kafilah Banda Aceh.

Sebab, MTQ bukan hanya tanggung jawab pemerintah. MTQ adalah tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. Ketika kafilah Banda Aceh tampil dan meraih juara, yang bangga bukan hanya pemerintah, tetapi seluruh masyarakat Kota Banda Aceh.

Banda Aceh sebagai ibu kota Provinsi Aceh yang berjuluk Kota Gemilang, sekaligus kota yang menerapkan Syariat Islam, memiliki beban moral untuk selalu tampil terbaik dalam setiap ajang MTQ. Kemenangan dalam MTQ bukan hanya soal piala, tetapi soal syiar, soal martabat, dan soal menunjukkan kepada dunia bahwa Banda Aceh adalah kota yang cinta Al-Qur’an.

Warga Banda Aceh pun menaruh harapan besar pada hasil rapat pada Jumat, 6 November 2026 ini. Mereka berharap seleksi calon kafilah berjalan lancar, melahirkan peserta-peserta terbaik, dan pada akhirnya bisa membawa pulang prestasi membanggakan untuk Kota Banda Aceh.

Ke depan, Pemko Banda Aceh diharapkan terus memberikan perhatian serius terhadap pembinaan MTQ. Tidak hanya menjelang lomba, tetapi pembinaan yang berkelanjutan sepanjang tahun. Dengan begitu, akan lahir generasi-generasi Qur’ani yang tidak hanya juara di atas panggung, tetapi juga menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Rapat pembahasan seleksi calon kafilah MTQ ini menjadi penanda bahwa Pemko Banda Aceh tidak main-main dalam mempersiapkan MTQ. Semua dipersiapkan dengan matang, dievaluasi, dan dibahas bersama agar kafilah yang terpilih benar-benar siap bertarung dan mengharumkan nama Kota Banda Aceh.

Kini, tinggal menunggu hasil seleksi. Siapa saja yang akan terpilih menjadi duta Banda Aceh dalam ajang MTQ nanti, akan menjadi kebanggaan baru bagi kota ini. Dan masyarakat Banda Aceh siap memberikan dukungan penuh, baik dengan doa maupun dengan semangat.(**)