BANDA ACEH – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan dayah di Aceh. Di tengah derasnya arus informasi, Pemerintah Aceh menilai peran ulama dan dayah semakin penting dalam membimbing generasi muda agar mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan pijakan agama, adab, dan identitas ke-Aceh-an.
Pesan tersebut mengemuka dalam Malam Puncak Milad ke-27 Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) yang berlangsung di Aula Asrama Haji Embarkasi Aceh, Banda Aceh, Senin malam, 14 September 2026.
Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin Thahir, S.Pd.I., M.Pd.I., hadir mewakili Gubernur Aceh dalam kegiatan yang dihadiri jajaran pengurus PB HUDA, para ulama, pimpinan dayah, pengurus wilayah HUDA se-Aceh, unsur Forkopimda, serta sejumlah tamu undangan.
Dalam sambutan Gubernur Aceh yang dibacakannya, Muhsin menyampaikan apresiasi Pemerintah Aceh terhadap perjalanan HUDA selama 27 tahun dalam menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus memperkuat peran ulama di tengah masyarakat.
Menurutnya, keberadaan ulama dan dayah memiliki posisi strategis dalam pembangunan Aceh. Dayah bukan sekadar lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menjadi tempat pembentukan karakter, akhlak, kemandirian, serta tempat lahirnya generasi yang diharapkan mampu menjadi pemimpin dan penggerak masyarakat.
Karena itu, memasuki era digital, tantangan dunia dayah tidak lagi hanya berkaitan dengan bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi juga bagaimana membekali santri agar mampu menghadapi perubahan teknologi dan derasnya arus informasi.
Pemerintah Aceh mendorong agar literasi digital berjalan beriringan dengan literasi agama. Santri diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan menggunakan perangkat teknologi, media sosial, maupun berbagai platform digital, tetapi juga memiliki kemampuan menyaring informasi serta memahami batas antara hal yang bermanfaat dan hal yang dapat merusak moral.
Kecakapan teknologi, menurut Pemerintah Aceh, harus dibarengi dengan akhlak. Begitu pula perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) perlu diimbangi dengan kecerdasan moral sehingga teknologi benar-benar menjadi alat yang memberikan manfaat bagi kehidupan, bukan justru mengendalikan manusia.
Pesan tersebut menjadi sangat relevan karena generasi muda saat ini tumbuh di tengah lingkungan digital yang memungkinkan berbagai informasi diakses dengan cepat. Tanpa fondasi agama dan akhlak yang kuat, kemudahan tersebut dapat membawa berbagai pengaruh negatif.
Dalam konteks inilah ulama dan dayah diharapkan tampil sebagai benteng moral bagi para santri.
Pemerintah Aceh menegaskan bahwa teknologi pada dasarnya bukan sesuatu yang harus dijauhi. Sebaliknya, teknologi perlu dimanfaatkan secara bijak untuk mendukung pendidikan, dakwah, tata kelola dayah hingga pengembangan kemandirian ekonomi lembaga pendidikan Islam.
Dengan demikian, santri Aceh diharapkan tidak menjadi generasi yang gagap teknologi, tetapi juga tidak kehilangan identitasnya sebagai generasi yang beriman, berilmu dan berakhlak.
“Teknologi harus menjadi alat, bukan penguasa. Kita harus menguasai teknologi, bukan dikuasai oleh teknologi,” demikian pesan Pemerintah Aceh dalam momentum Milad HUDA ke-27.
Muhsin juga mengajak para ulama, pimpinan dayah dan santri untuk terus membangun kolaborasi dengan pemerintah. Penguatan dayah, kata dia, tidak hanya menyangkut pembangunan sarana dan prasarana, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan kurikulum, tata kelola lembaga serta kemandirian ekonomi dayah.
Dayah yang kuat akan melahirkan generasi yang kuat. Santri yang memiliki ilmu sekaligus akhlak diyakini akan menjadi salah satu kekuatan penting bagi masa depan Aceh.
Milad ke-27 Jadi Momentum Perkuat Peran Ulama
Milad ke-27 HUDA tahun ini mengusung tema “Menjaga Ilmu, Merawat Adab, Menaati Guree Umat.” Tema tersebut menjadi refleksi atas perjalanan HUDA sekaligus penegasan kembali pentingnya tradisi keilmuan, adab dan penghormatan kepada guru dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Ketua Tanfidziyah PB HUDA, Dr. Tgk. H. Anwar Usman, MM atau Abiya Kuta Krueng, dalam kesempatan tersebut mengingatkan bahwa perjalanan HUDA selama 27 tahun bukanlah waktu yang singkat.
HUDA lahir ketika Aceh berada dalam situasi konflik dan darurat militer. Kehadiran organisasi tersebut menjadi bagian dari ikhtiar para ulama untuk mengambil peran dalam menjaga masyarakat serta mendorong terciptanya Aceh yang lebih damai dan aman.
Dalam perjalanannya, HUDA berkembang menjadi wadah pemersatu ulama dayah yang tidak hanya bergerak dalam bidang keagamaan, tetapi juga ikut memberikan pandangan terhadap berbagai persoalan sosial dan kemasyarakatan di Aceh.
Momentum Milad ke-27 pun menjadi kesempatan untuk mengenang jasa para ulama terdahulu sekaligus memperkuat persaudaraan di antara ulama dan keluarga besar dayah.
Pada malam puncak tersebut juga diserahkan Anugerah Milad HUDA ke-27 kepada dua tokoh ulama yang dinilai memiliki jasa besar dalam perjalanan dan perkembangan HUDA, yakni almarhum Abu H. Ibrahim Bardan (Abu Panton Labu) dan almarhum Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tu Sop).
Selain pemberian penghargaan, kegiatan juga diisi dengan refleksi perjalanan berdirinya HUDA serta tausiah yang disampaikan ulama kharismatik Aceh, Waled H. Nuruzzahri Yahya atau Waled Nu.
Rangkaian Milad HUDA ke-27 tidak berhenti pada malam puncak. Pada Selasa, 15 September 2026, kegiatan dilanjutkan dengan rapat koordinasi yang diikuti jajaran pengurus PB HUDA se-Aceh. Rakor tersebut membahas sejumlah persoalan strategis yang berkaitan dengan kondisi Aceh dan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Peringatan Milad ke-27 HUDA akhirnya tidak hanya menjadi seremoni hari jadi organisasi, tetapi juga menjadi momentum untuk mempertegas kembali posisi ulama dan dayah dalam menghadapi perubahan zaman.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, tantangan terbesar bukan sekadar memastikan santri mampu menggunakan teknologi, melainkan memastikan mereka tetap memiliki iman, ilmu, adab dan identitas yang kuat.
Dengan fondasi tersebut, generasi santri diharapkan mampu menjadikan teknologi sebagai sarana untuk berkembang dan memberi manfaat, sekaligus tetap menjadikan nilai-nilai agama sebagai kompas dalam menjalani kehidupan.(**)







