Dinas Pendidikan Aceh Buka Lomba Pidato Bahasa Aceh, Guru dan Siswa SMA-Sederajat Bisa Ikut

Pendidikan5 Dilihat

BANDA ACEH – Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh ke-67 Tahun 2026, Dinas Pendidikan Aceh menggelar Lomba Pidato Bahasa Aceh/Daerah yang terbuka bagi guru dan siswa tingkat SMA, SMK, MA dan sederajat se-Aceh.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperkuat penggunaan bahasa Aceh dan bahasa daerah di kalangan generasi muda, sekaligus menanamkan nilai-nilai akhlak serta kecintaan terhadap identitas budaya Aceh di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial.

Mengusung tema “Hardikda Aceh: Meneguhkan Bahasa dan Akhlak Aceh di Tengah Gempuran Media Sosial”, lomba ini diharapkan menjadi ruang bagi guru dan peserta didik untuk menyampaikan gagasan, pesan pendidikan, budaya, serta nilai-nilai kehidupan menggunakan bahasa Aceh atau bahasa daerah masing-masing.

Tema tersebut dinilai relevan dengan kondisi generasi muda saat ini yang semakin dekat dengan media sosial. Penggunaan bahasa daerah dalam ruang digital diharapkan tidak hanya menjadi simbol kebanggaan, tetapi juga dapat terus hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.

Terbuka untuk Guru dan Siswa

Berdasarkan informasi yang diumumkan Dinas Pendidikan Aceh, lomba pidato ini terdiri atas dua kategori peserta, yakni kategori guru dan siswa.

Untuk kategori guru, peserta merupakan guru aktif pada jenjang SMA/SMK/MA atau sederajat yang berada di wilayah Aceh. Sementara kategori siswa diperuntukkan bagi siswa aktif SMA/SMK/MA atau sederajat se-Aceh.

Dengan dibukanya dua kategori tersebut, lomba diharapkan tidak hanya menjadi ajang kreativitas peserta didik, tetapi juga mendorong para guru ikut menjadi teladan dalam penggunaan bahasa daerah sekaligus menyampaikan pesan-pesan positif kepada masyarakat.

Peserta diwajibkan menggunakan Bahasa Aceh/Bahasa Daerah dalam pidatonya. Materi pidato juga harus merupakan karya asli peserta dan bukan hasil plagiasi.

Setiap peserta diwajibkan membuat video pidato dengan durasi antara 3 hingga 6 menit. Video harus memiliki kualitas gambar dan suara yang jelas sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton maupun dewan juri.

Menariknya, video peserta nantinya juga akan dipublikasikan secara terbuka melalui Instagram atau TikTok. Ketentuan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya membawa bahasa Aceh dan bahasa daerah ke ruang digital yang lebih luas.

Peserta juga diwajibkan menandai akun resmi yang telah ditentukan, termasuk akun Dinas Pendidikan Aceh dan akun sekolah, serta menggunakan sejumlah tanda pagar atau hashtag, di antaranya:

#HardikdaAceh2026, #LombaPidatoBahasaAceh dan #BahasaAcehSetiapKamis.

Batas Pengumpulan 30 September 2026

Bagi guru dan siswa yang berminat mengikuti lomba tersebut, Dinas Pendidikan Aceh menetapkan 30 September 2026 pukul 23.59 WIB sebagai batas akhir pengunggahan video dan pengumpulan tautan.

Setelah seluruh video peserta terkumpul, proses penjurian dijadwalkan berlangsung pada 1–2 Oktober 2026.

Selanjutnya, pengumuman pemenang sekaligus penyerahan penghargaan dijadwalkan pada 3 Oktober 2026.

Peserta juga perlu memperhatikan ketentuan bahwa satu peserta hanya dapat mengirimkan satu video untuk satu kategori. Dengan demikian, peserta harus mempersiapkan materi pidato sebaik mungkin agar mampu menyampaikan gagasan secara menarik, komunikatif dan sesuai dengan tema lomba.

Perebutkan Juara I hingga Juara Harapan

Dinas Pendidikan Aceh menyiapkan penghargaan bagi para peserta terbaik pada masing-masing kategori. Penghargaan diberikan untuk Juara I, Juara II, Juara III dan Juara Harapan pada kategori guru maupun siswa.

Para pemenang akan memperoleh uang pembinaan dan sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas, kemampuan berpidato serta kepedulian mereka dalam melestarikan bahasa Aceh atau bahasa daerah.

Lebih dari sekadar perlombaan, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk membangun kembali kebiasaan menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda.

Di tengah derasnya arus informasi dan budaya yang berkembang melalui media sosial, bahasa daerah menghadapi tantangan untuk tetap digunakan oleh generasi penerus. Karena itu, keberadaan ruang-ruang kreatif seperti lomba pidato dinilai penting untuk menjaga agar bahasa daerah tidak semakin jauh dari kehidupan anak-anak muda Aceh.

Kemampuan berpidato menggunakan bahasa Aceh juga dapat menjadi sarana untuk melatih kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, penguasaan bahasa serta keberanian menyampaikan gagasan di ruang publik.

Di sisi lain, pesan yang disampaikan melalui pidato diharapkan tidak berhenti pada kemampuan berbahasa semata. Sesuai tema lomba, peserta juga didorong mengangkat persoalan akhlak, pendidikan, budaya, kehidupan sosial, serta tantangan generasi muda di tengah perkembangan media sosial.

Ajakan Melestarikan Bahasa Aceh

Dinas Pendidikan Aceh mengajak para guru dan siswa di seluruh Aceh untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai wadah menunjukkan kemampuan sekaligus ikut menjaga keberlangsungan bahasa daerah.

Ajakan tersebut tergambar melalui slogan lomba yang berbunyi “Bek Tuwoe Jak Dapeuta Droe Lam Lomba Pidato Bahasa Aceh”, serta seruan “Ayoo Kita Lestarikan Bahasa Aceh/Daerah.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian bahasa Aceh bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga pendidikan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat, terutama generasi muda sebagai pengguna bahasa di masa depan.

Dengan menggabungkan unsur pendidikan, budaya dan pemanfaatan media sosial, lomba pidato ini diharapkan mampu menghadirkan cara baru dalam memperkenalkan bahasa Aceh kepada masyarakat luas.

Para peserta juga diwajibkan menyertakan teks terjemahan dalam Bahasa Indonesia pada setiap konten lomba. Ketentuan ini membuat isi pidato tetap dapat dipahami oleh masyarakat yang lebih luas, sekaligus memperkenalkan bahasa Aceh kepada pengguna media sosial dari berbagai daerah.

Bagi calon peserta yang membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai ketentuan dan persyaratan lomba, panitia menyediakan narahubung melalui WhatsApp 0811 6849 800 (Hakim).

Lomba tersebut sekaligus menjadi bagian dari semangat Hardikda Aceh ke-67 Tahun 2026 untuk menjadikan pendidikan bukan hanya sebagai sarana peningkatan pengetahuan, tetapi juga sebagai kekuatan dalam menjaga bahasa, budaya, karakter dan jati diri Aceh di tengah perubahan zaman.(**)