Dialog Pendidikan Banda Aceh Soroti Kekurangan Guru hingga Mitigasi Bencana

BANDA ACEH — Momentum peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh ke-67 dimanfaatkan para kepala sekolah di Kota Banda Aceh untuk menyampaikan berbagai persoalan pendidikan yang masih dihadapi di lapangan.

Ratusan kepala sekolah yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Banda Aceh mengikuti Dialog Pendidikan bersama Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, di SMP Negeri 1 Banda Aceh, Rabu (2/9/2026).

Dialog yang mengusung tema “Kuatkan Kolaborasi untuk Pendidikan Berkualitas” tersebut menjadi ruang terbuka bagi para kepala sekolah untuk menyampaikan berbagai persoalan, keresahan, sekaligus gagasan yang dinilai penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di ibu kota Provinsi Aceh.

Pertemuan itu tidak hanya membahas persoalan akademik, tetapi juga menyentuh berbagai tantangan yang semakin kompleks dalam pengelolaan sekolah. Mulai dari keterbatasan tenaga pendidik, persoalan pembiayaan guru honorer, pembinaan karakter dan pergaulan siswa, hingga kebutuhan memperkuat pendidikan kebencanaan di sekolah.

Kekurangan Guru Masih Jadi Persoalan

Salah satu persoalan yang mencuat dalam dialog tersebut adalah masih adanya sekolah yang mengalami kekurangan tenaga pendidik. Kondisi ini membuat sejumlah sekolah harus mencari solusi secara mandiri dengan merekrut guru honorer untuk memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan.

Namun, kebijakan tersebut tidak serta-merta menyelesaikan persoalan. Para kepala sekolah menghadapi kendala lain, terutama terkait sumber pembiayaan honorarium bagi guru yang direkrut.

Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang bersumber dari APBN memiliki ketentuan penggunaan yang harus dipatuhi. Akibatnya, terdapat keterbatasan dalam pemanfaatan dana tersebut untuk membiayai guru yang direkrut sekolah di luar ketentuan yang berlaku.

Kondisi tersebut menjadi dilema bagi pihak sekolah. Di satu sisi, kebutuhan guru harus segera dipenuhi agar kegiatan pembelajaran tidak terganggu. Namun di sisi lain, sekolah juga harus berhati-hati agar pengelolaan anggaran tetap sesuai dengan regulasi.

Para kepala sekolah berharap Pemerintah Kota Banda Aceh dapat mencarikan formula dan kebijakan strategis untuk mengatasi persoalan tersebut. Dukungan pemerintah dinilai penting agar sekolah tidak terus-menerus dihadapkan pada pilihan sulit antara memenuhi kebutuhan tenaga pengajar dan keterbatasan anggaran.

Pembinaan Siswa Tak Bisa Hanya Dibebankan kepada Sekolah

Selain persoalan tenaga pendidik, para kepala sekolah juga menyoroti tantangan dalam pembinaan siswa di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang begitu cepat.

Persoalan pergaulan siswa, perundungan atau bullying, hingga berbagai pengaruh negatif dari lingkungan menjadi perhatian serius. Sekolah dinilai tidak mungkin bekerja sendiri dalam membentuk karakter dan menjaga perilaku peserta didik.

Para pendidik menilai waktu siswa berada di sekolah relatif terbatas, yakni sekitar lima hingga enam jam dalam sehari. Selebihnya, siswa lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, teman sebaya, serta berada di lingkungan masyarakat dan ruang digital.

Karena itu, pembentukan karakter dan pengawasan terhadap anak membutuhkan keterlibatan bersama.

Sekolah memiliki tanggung jawab dalam memberikan pendidikan dan pembinaan, tetapi orang tua juga memegang peranan penting dalam mengawasi aktivitas anak di rumah. Lingkungan masyarakat pun diharapkan ikut menciptakan suasana yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak.

Dalam konteks tersebut, media juga dinilai memiliki peran strategis. Media dapat menjadi mitra edukasi dengan menghadirkan informasi yang mendidik sekaligus membantu membangun kesadaran publik mengenai pentingnya perlindungan dan pembinaan generasi muda.

Kolaborasi antara sekolah, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan media menjadi salah satu kunci agar persoalan sosial yang melibatkan pelajar dapat ditangani secara lebih komprehensif.

Pendidikan Kebencanaan Dinilai Mendesak

Persoalan lain yang mendapat perhatian dalam dialog adalah pentingnya memperkuat pendidikan kebencanaan di sekolah.

Aceh, termasuk Kota Banda Aceh, memiliki sejarah panjang menghadapi berbagai potensi bencana. Karena itu, para pendidik menilai pengetahuan mengenai kebencanaan tidak cukup hanya diberikan dalam bentuk teori, tetapi perlu diterapkan melalui pembelajaran yang praktis dan berkelanjutan.

Pendidikan kebencanaan diharapkan dapat membekali siswa dengan pengetahuan mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi darurat.

Selain pemahaman mengenai mitigasi bencana, pembelajaran mengenai ketahanan hidup atau survival juga dinilai penting. Siswa perlu dibekali kemampuan dasar untuk menyelamatkan diri, memahami jalur evakuasi, mengenali titik kumpul, memberikan pertolongan awal, serta tetap tenang ketika menghadapi kondisi darurat.

Dengan demikian, sekolah bukan hanya menjadi tempat untuk mengejar prestasi akademik, tetapi juga menjadi ruang pembentukan generasi yang memiliki kesiapsiagaan menghadapi berbagai kemungkinan bencana.

Hardikda Jadi Momentum Evaluasi Pendidikan

Dialog Pendidikan yang digelar dalam rangka Hardikda Aceh ke-67 tersebut pada akhirnya menjadi momentum untuk melihat kembali berbagai persoalan pendidikan secara lebih menyeluruh.

Pendidikan berkualitas tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan siswa memperoleh nilai akademik yang baik. Ketersediaan guru, kualitas pembelajaran, lingkungan sekolah yang aman, keterlibatan orang tua, pembentukan karakter, serta kesiapsiagaan menghadapi bencana juga menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan.

Tema “Kuatkan Kolaborasi untuk Pendidikan Berkualitas” pun menjadi semakin relevan dengan berbagai persoalan yang disampaikan dalam forum tersebut.

Para kepala sekolah berharap dialog tidak berhenti sebatas forum penyampaian aspirasi, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui kebijakan dan program konkret Pemerintah Kota Banda Aceh.

Kebutuhan akan guru, dukungan terhadap sekolah, penguatan pendidikan karakter, pencegahan bullying, pengawasan terhadap pergaulan siswa, hingga pendidikan kebencanaan membutuhkan langkah bersama dan berkelanjutan.

Dengan kolaborasi yang semakin kuat antara pemerintah, sekolah, guru, orang tua, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, pendidikan di Banda Aceh diharapkan mampu mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter, tangguh, peduli, dan siap menghadapi tantangan masa depan.