Banjir dan Angin Kencang Dominasi Bencana Awal April, Ribuan Warga Terdampak

Nasional34 Dilihat

Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis laporan terkini terkait kejadian bencana yang terjadi dalam periode Selasa hingga Rabu, 7–8 April 2026 pukul 07.00 WIB. Dalam laporan tersebut, bencana hidrometeorologi seperti banjir dan angin kencang masih menjadi kejadian yang paling dominan di berbagai wilayah Indonesia.

Di Provinsi Bengkulu, banjir melanda wilayah Kota Bengkulu setelah hujan deras mengguyur sejak dini hari pada Senin (6/4) sekitar pukul 02.00 WIB. Air dengan ketinggian antara 30 hingga 100 sentimeter menggenangi permukiman warga dan berdampak luas pada aktivitas masyarakat.

Sebanyak 26 kelurahan di delapan kecamatan terdampak banjir tersebut, meliputi Kecamatan Singaran Pati, Muara Bangkahulu, Ratu Agung, Selebar, Ratu Samban, Sungai Serut, Kampung Melayu, dan Gading Cempaka. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat sedikitnya 2.855 rumah terendam, serta satu fasilitas ibadah dan satu fasilitas pendidikan turut terdampak.

Petugas BPBD bergerak cepat dengan melakukan asesmen di lapangan, pendataan korban terdampak, serta penyaluran bantuan logistik. Selain itu, evakuasi warga yang terjebak banjir juga dilakukan guna memastikan keselamatan masyarakat. Tenda pengungsian didirikan sebagai langkah antisipasi apabila warga harus meninggalkan rumah mereka. Meski banjir mulai berangsur surut pada Selasa (7/4), petugas tetap bersiaga mengantisipasi kemungkinan banjir susulan akibat kiriman air dari wilayah hulu.

Masih di Provinsi Bengkulu, banjir juga terjadi di Kabupaten Bengkulu Tengah sejak Minggu (5/4). Sembilan desa di tiga kecamatan terdampak, yaitu Kecamatan Talang Empat, Karang Tinggi, dan Pondok Kubang. Sebanyak 219 kepala keluarga (KK) tercatat terdampak, dengan rincian 140 KK di Kecamatan Karang Tinggi, 67 KK di Talang Empat, dan 12 KK di Pondok Kubang.

Tim BPBD Kabupaten Bengkulu Tengah melakukan kaji cepat, koordinasi lintas instansi, serta evakuasi warga di lokasi terdampak. Kondisi terkini menunjukkan bahwa banjir telah surut, namun pemantauan tetap dilakukan untuk memastikan situasi aman dan terkendali.

Sementara itu, di Desa Tanah Abang, Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, banjir juga dilaporkan terjadi pada Senin (6/4) siang. Sebanyak 74 kepala keluarga atau sekitar 180 jiwa terdampak dengan tinggi muka air mencapai 130 sentimeter. Meski air telah surut pada keesokan harinya, wilayah tersebut masih memiliki potensi terendam kembali mengingat kondisi geografisnya yang lebih rendah dibandingkan daerah sekitar.

Selain banjir, BNPB juga mencatat kejadian cuaca ekstrem di Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Hujan deras disertai angin kencang pada Senin (6/4) sore menyebabkan kerusakan pada puluhan rumah warga dan tumbangnya sejumlah pohon.

Sebanyak 62 rumah dilaporkan mengalami kerusakan, dengan rincian 41 rumah di Desa Ngadipiro dan 21 rumah di Desa Wilangan. Mayoritas kerusakan terjadi pada bagian atap rumah. Selain itu, satu fasilitas Tempat Pemakaman Umum (TPU) juga terdampak akibat pohon tumbang.

Petugas BPBD bersama warga setempat segera melakukan penanganan darurat, termasuk membersihkan pohon tumbang dan memperbaiki rumah yang rusak. Gotong royong masyarakat menjadi kunci dalam mempercepat pemulihan pascakejadian. Kondisi cuaca di wilayah tersebut dilaporkan telah membaik pada Selasa (7/4) dengan langit cerah berawan.

Menanggapi berbagai kejadian tersebut, BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di masa peralihan musim hujan ke kemarau. Pada periode ini, potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, puting beliung, hingga gelombang tinggi masih dapat terjadi secara tiba-tiba.

Selain itu, masyarakat juga diingatkan akan potensi bencana geologi seperti gempa bumi yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Oleh karena itu, kesiapsiagaan menjadi hal yang sangat penting.

Masyarakat diimbau untuk menyiapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan dasar, dokumen penting, serta perlengkapan darurat lainnya. Warga yang tinggal di bantaran sungai juga diminta untuk rutin memantau ketinggian muka air. Jika hujan deras terjadi dalam durasi lama, evakuasi mandiri sangat dianjurkan demi menghindari risiko yang lebih besar.

Informasi resmi dari lembaga terpercaya seperti BNPB, BPBD, dan BMKG diharapkan menjadi rujukan utama masyarakat dalam menghadapi potensi bencana, sehingga langkah penanganan dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi.(**)