Israel Serang Iran, Ketegangan Timur Tengah Kembali Memanas

Internasional8 Dilihat

Teheran – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Israel dilaporkan melancarkan serangan militer terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan tersebut disebut sebagai operasi militer yang telah direncanakan sejak lama dan diduga melibatkan dukungan dari Amerika Serikat di tengah dinamika diplomasi terkait program nuklir Iran.

Informasi awal mengenai serangan ini muncul dari sejumlah pejabat keamanan yang menyebutkan bahwa operasi tersebut merupakan langkah strategis untuk menekan potensi ancaman yang dianggap membahayakan stabilitas kawasan. Situasi ini sekaligus memperlihatkan meningkatnya ketegangan setelah proses negosiasi nuklir antara Washington dan Teheran berjalan alot dalam beberapa bulan terakhir.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa operasi tersebut dilakukan sebagai tindakan pencegahan untuk melindungi keamanan nasional negaranya. Ia menegaskan bahwa pemerintah Israel telah memantau perkembangan program militer Iran secara intensif sebelum akhirnya memutuskan langkah operasi militer terbatas.

Menurut laporan media internasional, serangan tersebut telah dirancang selama berbulan-bulan, dengan waktu pelaksanaan ditentukan beberapa pekan sebelumnya setelah melalui pertimbangan militer dan intelijen yang matang. Tidak lama setelah serangan terjadi, sirene peringatan berbunyi di sejumlah wilayah Israel sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan serangan balasan.

Pemerintah Israel juga langsung menetapkan status darurat nasional. Otoritas penerbangan setempat menutup sementara wilayah udara untuk seluruh penerbangan sipil dan meminta masyarakat menunda aktivitas perjalanan. Langkah ini dilakukan guna mengurangi risiko keamanan apabila terjadi eskalasi serangan lanjutan.

Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan bahwa beberapa titik di ibu kota Teheran mengalami ledakan. Stasiun televisi nasional Islamic Republic of Iran News Network (IRINN) menayangkan informasi melalui teks berjalan terkait munculnya asap tebal di sejumlah lokasi strategis. Siaran tersebut bahkan sempat mengalami gangguan audio sebelum kembali normal beberapa menit kemudian.

Kantor berita Tasnim News Agency menyebutkan bahwa ledakan terdengar di kawasan Seyyed Khandam yang berada di bagian utara kota. Sementara itu, laporan dari Fars News Agency mengungkapkan bahwa beberapa proyektil diduga menghantam ruas jalan di wilayah Jomhouri.

Salah satu titik yang dilaporkan berada di sekitar area kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Namun, seorang pejabat Iran menyatakan bahwa Khamenei tidak berada di lokasi tersebut karena telah dipindahkan ke tempat yang lebih aman sebelum serangan berlangsung.

Di sisi lain, laporan dari media internasional Al Jazeera mengutip seorang pejabat Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa operasi tersebut merupakan aksi militer gabungan antara Israel dan AS. Pernyataan itu memperkuat dugaan keterlibatan Washington dalam eskalasi terbaru konflik di kawasan.

Serangan ini juga dikaitkan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya beberapa kali mengingatkan bahwa opsi militer tetap terbuka apabila kesepakatan nuklir baru dengan Iran tidak tercapai.

Pengamat hubungan internasional menilai, situasi ini berpotensi memicu ketegangan lebih luas di Timur Tengah apabila Iran melakukan serangan balasan secara langsung ataupun melalui sekutunya di kawasan. Selain itu, kondisi ini juga diperkirakan berdampak pada stabilitas keamanan global serta fluktuasi harga energi dunia.

Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban maupun kerusakan infrastruktur secara rinci. Namun, perkembangan situasi masih terus dipantau oleh komunitas internasional yang berharap konflik tidak berkembang menjadi konfrontasi terbuka berskala besar.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *