Durasi Puasa Ramadan Berbeda di Tiap Negara, dari 11 hingga 16 Jam Lebih

Nasional, new28 Dilihat

Jakarta – Umat Islam di berbagai belahan dunia kembali bersiap menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1477 Hijriah. Sebagian umat Muslim, termasuk warga Muhammadiyah di Indonesia, dijadwalkan mulai menjalankan ibadah puasa pada Rabu, 18 Februari 2026.

Namun, tahukah Anda bahwa durasi puasa Ramadan tidak sama di setiap negara? Perbedaan letak geografis dan panjang waktu siang serta malam menyebabkan umat Islam menjalani waktu puasa yang bervariasi, mulai dari sekitar 11 jam hingga lebih dari 16 jam per hari.

Secara umum, puasa Ramadan dilaksanakan sejak terbit fajar (imsak/subuh) hingga terbenam matahari (maghrib). Rentang waktu ini sepenuhnya bergantung pada posisi matahari di masing-masing wilayah.

Seperti dilansir CNBC Indonesia , negara-negara yang berada di sekitar garis khatulistiwa, seperti Indonesia, relatif memiliki durasi puasa yang stabil, rata-rata sekitar 12 hingga 13 jam.

Sebaliknya, negara-negara yang terletak lebih jauh dari garis khatulistiwa, khususnya yang mendekati wilayah kutub, mengalami perbedaan durasi siang dan malam yang lebih ekstrem. Di beberapa negara Eropa bagian utara atau wilayah Skandinavia, misalnya, durasi puasa bisa mencapai lebih dari 16 jam saat Ramadan bertepatan dengan musim panas. Sementara di wilayah lain yang sedang mengalami musim dingin, durasi puasa bisa lebih singkat, sekitar 11 jam.

Fenomena ini terjadi karena kemiringan sumbu bumi yang memengaruhi distribusi cahaya matahari sepanjang tahun. Semakin tinggi lintang suatu negara—baik di belahan bumi utara maupun selatan—maka semakin besar pula variasi panjang siang dan malam yang dirasakan masyarakatnya.

Perbedaan durasi puasa ini menunjukkan betapa luasnya penyebaran umat Islam di seluruh dunia, dengan tantangan dan pengalaman spiritual yang beragam. Meski waktu menahan lapar dan dahaga berbeda, esensi Ramadan tetap sama: meningkatkan ketakwaan, memperbanyak ibadah, serta mempererat kepedulian sosial.

Di Indonesia, pemerintah melalui sidang isbat biasanya menetapkan awal Ramadan berdasarkan rukyatul hilal dan hisab. Sementara itu, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan awal puasa berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal.

Ramadan bukan sekadar ibadah menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga momentum refleksi diri, memperkuat solidaritas, serta memperbanyak amal kebaikan. Perbedaan durasi puasa justru menjadi pengingat bahwa umat Islam, meski hidup di bawah langit yang berbeda, tetap bersatu dalam satu waktu spiritual yang sama.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *