JATENG – Bencana banjir dan tanah longsor akibat cuaca ekstrem terus meluas di wilayah Pantura bagian timur Jawa Tengah. Kabupaten Kudus dan Kabupaten Pati menjadi daerah paling terdampak, dengan puluhan ribu warga mengalami dampak langsung, ratusan keluarga mengungsi, serta tiga korban jiwa hingga Selasa pagi, 13 Januari 2026.
Hujan dengan intensitas tinggi yang masih mengguyur kawasan tersebut sejak pagi hari menambah kekhawatiran masyarakat. Sejumlah wilayah masih tergenang air, sementara potensi banjir susulan tetap mengintai seiring meluapnya sungai-sungai besar dan kecil di kedua kabupaten.
Di Kabupaten Kudus, banjir tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga melumpuhkan jalur utama Pantura Kudus–Pati. Genangan air di ruas jalan nasional tersebut menyebabkan kemacetan panjang dan menghambat aktivitas transportasi serta distribusi logistik. Selain itu, banjir menggenangi delapan desa dengan ketinggian air bervariasi antara 20 hingga 80 sentimeter.
Dampak banjir juga dirasakan sektor pendidikan. Sebanyak 47 sekolah di Kudus terpaksa menghentikan pembelajaran tatap muka dan beralih ke sistem pembelajaran daring demi keselamatan siswa dan tenaga pendidik.
Sementara itu, kondisi di Kabupaten Pati tidak kalah memprihatinkan. Banjir akibat meluapnya sejumlah sungai merendam 59 desa yang tersebar di 15 kecamatan. Kecamatan yang terdampak meliputi Pati Kota, Wedarijaksa, Margoyoso, Tayu, Dukuhseti, Tlogowungu, Margorejo, Tambakromo, Gabus, Winong, Batangan, Juwana, Pucakwangi, Jakenan, dan Sukolilo. Ketinggian air di wilayah ini berkisar antara 20 hingga 100 sentimeter.
Genangan banjir juga menutup sebagian jalur Pantura Pati–Rembang, tepatnya di wilayah Kecamatan Batangan. Kondisi tersebut membuat arus lalu lintas tersendat dan memaksa kendaraan untuk melambat bahkan mencari jalur alternatif.
Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, Ahmad Munaji, menyampaikan bahwa jumlah warga terdampak di Kabupaten Kudus terus bertambah. “Jumlah warga terdampak banjir di Kudus meningkat menjadi 14.437 jiwa atau sekitar 4.610 keluarga. Selain itu, dilaporkan ada tiga korban jiwa,” ujarnya, dikutip dari Media Indonesia, Selasa (13/1/2026).
Munaji menjelaskan, banjir dan longsor di Kudus dipicu oleh cuaca ekstrem yang terjadi sejak Jumat, 9 Januari 2026. Hujan deras yang disertai angin kencang dan petir mengguyur kawasan Pegunungan Muria, menyebabkan tanah longsor di sejumlah titik serta meluapnya Sungai Piji, Sungai Dawe, dan Sungai Gelis.
Berdasarkan data BPBD Kudus, banjir melanda enam desa di Kecamatan Mejobo, dua desa di Kecamatan Kota Kudus, satu desa di Kecamatan Jekulo, serta lima desa di Kecamatan Kaliwungu. Sementara itu, bencana tanah longsor tercatat terjadi di 10 desa di Kecamatan Dawe dengan 24 titik longsor, dua desa di Kecamatan Gebog dengan 19 titik longsor, dan satu desa di Kecamatan Bae dengan dua titik longsor.
Tragedi kemanusiaan tak terelakkan dalam bencana ini. Korban meninggal dunia dilaporkan bertambah menjadi tiga orang. Satu korban meninggal akibat tertimbun longsor di Desa Menawan, Kecamatan Gebog. Dua korban lainnya meninggal setelah terseret arus banjir, masing-masing di Desa Bacin, Kecamatan Bae, serta di Sungai Perak, Desa Karangbener, Kecamatan Bae.
Hingga kini, BPBD bersama TNI, Polri, relawan, dan pemerintah daerah terus melakukan upaya evakuasi, pendataan, serta penyaluran bantuan kepada warga terdampak. Masyarakat di wilayah rawan bencana diimbau tetap waspada, mengingat curah hujan tinggi diperkirakan masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.(**)






