Dari Gerobak Nasi Padang ke Istana Negara, Kisah Inspiratif Halimah Yacob Presiden Perempuan Pertama Singapura

Opini18 Dilihat

OPINI – Kisah hidup Halimah Yacob menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih mimpi besar. Presiden ke-8 Singapura sekaligus perempuan pertama yang menduduki jabatan tertinggi di negeri tersebut ini memiliki perjalanan hidup yang sarat perjuangan, ketekunan, dan nilai kesederhanaan yang kuat sejak usia belia.

Siapa sangka, perempuan yang pernah membantu ibunya berjualan nasi padang dengan gerobak kecil di pinggir jalan, kelak dipercaya memimpin salah satu negara paling maju di Asia Tenggara. Kisah Halimah Yacob bukan hanya tentang prestasi politik, tetapi juga tentang kekuatan karakter yang ditempa oleh kerasnya kehidupan.

Tumbuh dari Keluarga Sederhana

Halimah Yacob lahir pada 23 Agustus 1954 di Singapura dari keluarga sederhana. Ayahnya yang berasal dari keturunan India bekerja sebagai penjaga keamanan. Namun, kehidupan Halimah berubah drastis ketika sang ayah meninggal dunia saat ia baru berusia delapan tahun. Sejak saat itu, ibunya yang berdarah Melayu menjadi tulang punggung keluarga.

Untuk menyambung hidup, sang ibu berjualan nasi padang dengan gerobak kecil. Halimah kecil pun ikut membantu tanpa rasa malu. Ia menemani ibunya berjualan, mendorong gerobak, dan melayani pembeli. Pengalaman hidup inilah yang membentuk kepribadian Halimah menjadi sosok tangguh, mandiri, dan memiliki empati mendalam terhadap masyarakat kecil.

Menembus Sekat Sosial Lewat Pendidikan

Meski hidup dalam keterbatasan, Halimah dikenal sebagai anak yang cerdas dan memiliki semangat belajar tinggi. Prestasinya membawanya masuk ke sekolah-sekolah unggulan yang saat itu didominasi oleh etnis Tionghoa, seperti Singapore Chinese Girls’ School. Hal ini menjadi pencapaian tersendiri, mengingat latar belakang sosial dan ekonominya.

Semangat belajar tersebut terus berlanjut hingga pendidikan tinggi. Halimah berhasil menamatkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Singapura. Bekal ilmu hukum kemudian menjadi fondasi kuat dalam perjalanan kariernya, baik sebagai praktisi hukum maupun saat terjun ke dunia politik. Atas kontribusinya, ia juga menerima sejumlah gelar kehormatan.

Karier Politik dan Deretan Sejarah “Pertama”

Langkah Halimah Yacob di dunia politik diwarnai berbagai catatan bersejarah. Sebelum menjadi Presiden, ia telah menorehkan prestasi sebagai perempuan pertama yang menjabat Ketua Parlemen Singapura pada tahun 2013. Posisi tersebut semakin mengukuhkan kapasitas dan kepemimpinannya di tingkat nasional.

Puncak kariernya terjadi pada tahun 2017, ketika Halimah Yacob resmi terpilih sebagai Presiden Singapura. Ia mencatatkan sejarah sebagai perempuan pertama yang menduduki jabatan tersebut. Masa jabatannya berlangsung selama enam tahun dan berakhir pada September 2023.

Selama menjabat, Halimah dikenal sebagai pemimpin yang membumi, dekat dengan rakyat, dan kerap menyoroti isu-isu sosial, persatuan, serta kesetaraan. Latar belakang hidupnya yang penuh perjuangan membuatnya peka terhadap kelompok rentan dan masyarakat berpenghasilan rendah.

Kesederhanaan yang Tetap Terjaga

Di tengah statusnya sebagai kepala negara, Halimah Yacob tetap mempertahankan gaya hidup sederhana. Ia sempat menjadi sorotan publik karena memilih tinggal di apartemen subsidi pemerintah (HDB) di kawasan Yishun bersama suaminya, Mohammed Abdullah Alhabshee, dan kelima anak mereka.

Pilihan hidup tersebut mencerminkan prinsip yang dipegang teguh Halimah: jabatan tinggi tidak harus diiringi kemewahan berlebihan. Kesederhanaan dan kedekatan dengan kehidupan rakyat biasa menjadi nilai yang terus ia rawat hingga akhir masa jabatannya.

Inspirasi dari Gerobak Kecil

Perjalanan hidup Halimah Yacob adalah potret nyata tentang kekuatan mimpi, kerja keras, dan pendidikan. Dari membantu ibunya berjualan nasi padang dengan gerobak kecil, hingga memimpin sebuah negara modern, kisahnya menjadi inspirasi lintas generasi.

Halimah Yacob membuktikan bahwa asal-usul bukanlah penentu masa depan. Dengan ketekunan, integritas, dan keberanian menembus batas, siapa pun memiliki peluang untuk mencapai puncak tertinggi dalam hidupnya. Sebuah kisah yang layak dikenang, bukan hanya di Singapura, tetapi juga oleh masyarakat dunia.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *