Aceh Tamiang – Semangat belajar siswa di Kabupaten Aceh Tamiang kembali bergelora meski daerah tersebut masih dalam tahap pemulihan pascabencana banjir bandang dan longsor yang terjadi pada akhir November 2025. Pada hari pertama masuk sekolah, Senin (5/1/2026), Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kota Banda Aceh, Sulaiman Bakri, memimpin langsung upacara bendera di SD Negeri 2 Tualang Cut, salah satu sekolah yang terdampak paling parah akibat bencana tersebut.
Kehadiran Kadisdikbud Banda Aceh di sekolah itu merupakan tindak lanjut dari arahan Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, yang menetapkan SD Negeri 2 Tualang Cut sebagai sekolah binaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh. Langkah ini menjadi wujud nyata solidaritas dan kepedulian Pemerintah Kota Banda Aceh terhadap dunia pendidikan di wilayah terdampak bencana.
Upacara bendera yang berlangsung sederhana namun khidmat tersebut menjadi momen simbolis kebangkitan pendidikan di tengah keterbatasan. Sejumlah siswa tampak mengikuti upacara dengan pakaian seadanya, bahkan sebagian hanya mengenakan sandal, lantaran seragam dan perlengkapan sekolah mereka hanyut atau rusak diterjang banjir. Meski demikian, antusiasme dan semangat para siswa tidak surut sedikit pun.
“Anak-anak tetap datang ke sekolah dengan penuh semangat meskipun kondisi masih sulit. Ini adalah bukti ketangguhan dan semangat generasi muda Aceh yang patut kita banggakan,” ujar Sulaiman Bakri dalam amanatnya sebagai pembina upacara.
Ia menegaskan bahwa kehadiran rombongan dari Kota Banda Aceh bukan sekadar untuk menyerahkan bantuan, melainkan juga untuk menyampaikan pesan moral bahwa para siswa, guru, dan masyarakat Aceh Tamiang tidak berjuang sendirian dalam menghadapi masa pemulihan pascabencana.
“Kami hadir membawa semangat, harapan, dan keyakinan bahwa pendidikan harus terus berjalan, apa pun tantangannya,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, Sulaiman Bakri turut didampingi Ketua K3TK Nur Afni, Ketua K3S Ramli, Ketua MKKS Arlis, serta sejumlah kepala sekolah. Ia juga menjelaskan bahwa sehari sebelumnya, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal telah menyerahkan berbagai bentuk bantuan pendidikan secara langsung kepada siswa dan guru SD Negeri 2 Tualang Cut.
Bantuan tersebut antara lain berupa paket Al-Qur’an yang dihimpun dari TK, SD, dan SMP negeri maupun swasta di Kota Banda Aceh sebagai bentuk dukungan spiritual bagi para siswa. Selain itu, disalurkan pula 22 paket seragam guru yang berasal dari sumbangan karyawan dan karyawati Disdikbud Kota Banda Aceh serta para kepala sekolah SD dan SMP di Banda Aceh.
Untuk mendukung kelancaran administrasi dan proses pembelajaran, PGRI Kota Banda Aceh turut memberikan bantuan berupa laptop dan printer. Sementara itu, bantuan 360 paket seragam sekolah untuk siswa disalurkan oleh Yayasan Fatih Bilingual School, Yayasan Al Azhar Cairo Banda Aceh, dan Sekolah Bunga Matahari International School.
“Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban para siswa dan guru, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan dengan baik meski di tengah kondisi pemulihan,” kata Sulaiman Bakri.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antarlembaga pendidikan di Aceh dalam membangun kembali sistem pendidikan yang sempat terganggu akibat bencana alam. Menurutnya, solidaritas dan kerja sama lintas daerah menjadi kunci agar anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan yang layak.
Kehadiran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh di SD Negeri 2 Tualang Cut tidak hanya menjadi simbol kepedulian, tetapi juga cerminan komitmen bersama untuk memastikan pendidikan tetap menjadi prioritas utama, bahkan di tengah situasi darurat. Dari halaman sekolah sederhana di Tualang Cut, pesan optimisme pun mengalir: pendidikan adalah cahaya yang tak boleh padam, meski diterpa bencana.(**)












