Isa Alima: Bintang dari Tanah Rencong dan Harapan Baru Aceh di Pundak Brigjen Dedy Tabarani

Berita31 Dilihat

BANDA ACEH — Ada kabar baik yang hari ini patut disyukuri bersama. Dari tanah Rencong, sebuah amanah besar kembali pulang ke rumahnya. Putra Aceh, Brigjen Pol. Dedy Tabarani, resmi menyandang bintang satu dan dipercaya mengemban tugas sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh. Bagi banyak kalangan, ini bukan sekadar kenaikan pangkat, melainkan momentum penting bagi masa depan Aceh.

Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik Aceh, Drs. Isa Alima, menyambut capaian tersebut dengan rasa harap yang jujur dan sikap yang tegas. Menurutnya, hadirnya putra daerah pada posisi strategis adalah sinyal positif bagi penguatan kolaborasi dan penegakan hukum di Aceh.

“Alhamdulillah, ini memudahkan koordinasi. Anak negeri paham denyut tanahnya sendiri. Tapi yang paling ditunggu masyarakat bukan seremoni, melainkan bukti nyata penegakan hukum yang adil dan berani,” ujar Isa Alima.

Brigjen Dedy Tabarani dikenal sebagai sosok yang tumbuh dari disiplin panjang dan pengabdian senyap. Lahir di Banda Aceh, menempuh karier kepolisian dari bawah, hingga akhirnya pecah bintang, perjalanan itu dibaca publik sebagai buah dari konsistensi, integritas, dan ketekunan. Kini, ia kembali ke Aceh bukan sebagai tamu, tetapi sebagai penjaga amanah.

Aceh, di mata banyak pemerhati sosial, sedang berada di persimpangan penting. Ancaman narkotika tidak lagi berdiri di pinggir, tetapi telah menyentuh ruang-ruang paling rapuh: generasi muda, keluarga, dan masa depan. Karena itu, kepemimpinan di BNN Aceh bukan jabatan biasa. Ia adalah medan juang yang menuntut ketegasan sekaligus empati.

Isa Alima menegaskan, bintang di pundak Brigjen Dedy harus dimaknai sebagai tanggung jawab moral. “Ini bukan hanya tentang institusi, tetapi tentang menyelamatkan anak-anak Aceh dari kehancuran yang sunyi. Hukum harus hadir sebagai pelindung, bukan sekadar penonton,” ujarnya.

Lebih jauh, Isa Alima yang juga Ketua PBN Aceh ini berharap kepemimpinan Brigjen Dedy mampu membangun sinergi luas: dengan pemerintah daerah, ulama, tokoh adat, akademisi, dan masyarakat akar rumput. Menurutnya, perang melawan narkotika tidak akan menang jika hanya mengandalkan pendekatan struktural tanpa sentuhan kultural.

“Aceh punya kearifan lokal, punya nilai agama yang kuat. Jika ini dirajut dengan penegakan hukum yang tegas dan bersih, maka harapan itu bukan mimpi,” tambahnya.

Penunjukan Brigjen Dedy Tabarani juga dipandang sebagai bentuk kepercayaan negara kepada putra Indonesia berdarah Aceh. Sebuah pesan halus namun penting: bahwa anak daerah mampu, layak, dan dipercaya memikul tanggung jawab besar untuk bangsanya.

Hari ini, Aceh tidak menuntut janji berlapis kata. Aceh hanya menunggu kerja yang jujur, langkah yang tegas, dan keberanian menjaga hukum tetap tegak meski angin kepentingan datang dari segala arah.

Dan di pundak Brigjen Dedy Tabarani, harapan itu kini disematkan setenang doa, setajam tanggung jawab, dan setulus pengabdian untuk negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *