Aceh Tamiang – Harapan baru mulai tumbuh di tengah duka warga terdampak bencana banjir yang melanda kawasan Simpang Empat Opak. Hunian sementara (huntara) yang dibangun sebagai tempat tinggal sementara bagi warga yang rumahnya hanyut kini mulai menunjukkan wujud nyata. Sejumlah unit huntara dilaporkan telah rampung dikerjakan dan siap dihuni secara bertahap.
Pantauan di lapangan menunjukkan bangunan huntara berdiri rapi dan fungsional. Meski bersifat sementara, hunian ini dirancang untuk memberikan kenyamanan dasar bagi para penyintas bencana. Di dalam setiap unit telah disiapkan fasilitas penting seperti tempat tidur dan lemari, sehingga warga tidak harus memulai dari nol setelah kehilangan tempat tinggal mereka.
Pembangunan huntara ini ditujukan secara khusus bagi warga yang benar-benar terdampak, terutama mereka yang rumahnya hanyut diterjang banjir. Prinsip ketepatan sasaran menjadi perhatian utama agar bantuan ini benar-benar sampai kepada masyarakat yang paling membutuhkan.
“Buat warga yang rumahnya hanyut, semoga bisa tinggal di sini,” ujar salah satu relawan di lokasi. Harapan besar disematkan agar huntara ini dapat menjadi tempat berlindung yang layak sembari menunggu proses pemulihan dan pembangunan hunian permanen.
Tim BAT yang terlibat dalam proses pemantauan menyampaikan bahwa pembangunan huntara akan terus dikebut hingga seluruh unit selesai. Mereka secara rutin turun ke lapangan untuk memastikan kualitas bangunan, kelengkapan fasilitas, serta progres pekerjaan berjalan sesuai rencana.
“Alhamdulillah, sebagian huntara sudah selesai. Kami akan terus memantau perkembangannya agar bisa segera dihuni oleh warga,” ungkap perwakilan tim BAT.
Di tengah upaya percepatan pembangunan huntara, empati juga terus mengalir bagi warga yang saat ini masih bertahan di tenda-tenda pengungsian. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa proses pemulihan pascabencana bukan hanya soal membangun bangunan, tetapi juga tentang memulihkan rasa aman dan harapan masyarakat.
“Peluk hangat dari jauh buat warga yang saat ini mungkin masih tinggal di tenda,” demikian pesan penuh empati yang disampaikan relawan kepada para penyintas.
Dengan selesainya pembangunan huntara secara bertahap, diharapkan tidak ada lagi warga terdampak yang harus berlama-lama hidup dalam kondisi darurat. Huntara di Simpang Empat Opak menjadi simbol awal kebangkitan, sekaligus bukti bahwa kepedulian dan kerja bersama mampu menghadirkan harapan di tengah musibah.(**)












