Banda Aceh Jadi Contoh Kota Ramah Lingkungan di Forum Nasional APEKSI 2025

Banda Aceh – Kota Banda Aceh kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Dalam ajang Forum Nasional Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2025, Banda Aceh dipercaya untuk menjadi salah satu kota yang berbagi pengalaman dan inovasi dalam penerapan konsep Low Carbon Model Town (LCMT) — sebuah model pembangunan kota rendah emisi karbon yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Forum bergengsi yang dihadiri oleh para wali kota dari seluruh Indonesia itu menjadi wadah penting untuk bertukar gagasan, strategi, dan pengalaman dalam mewujudkan pembangunan kota yang maju, hijau, dan berdaya saing.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Banda Aceh, Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal, yang mewakili Banda Aceh, memaparkan bagaimana ibu kota Provinsi Aceh itu secara konsisten menjalankan berbagai program yang mendukung efisiensi energi, pengelolaan lingkungan, dan pengurangan emisi karbon.

“Alhamdulillah, Banda Aceh kembali dipercaya berbagi pengalaman di Forum Nasional APEKSI 2025. Kami memaparkan konsep Low Carbon Model Town, tentang bagaimana upaya bersama menuju kota yang efisien energi, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” ujar Illiza.

Menurutnya, konsep LCMT bukan hanya sekadar jargon, melainkan telah menjadi bagian dari arah kebijakan pembangunan Banda Aceh. Berbagai langkah nyata telah dilakukan, mulai dari pemanfaatan energi terbarukan, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, pembangunan ruang terbuka hijau, hingga pengendalian polusi dan transportasi beremisi rendah.

Illiza menambahkan, inisiatif Banda Aceh dalam program kota rendah karbon sejalan dengan upaya global untuk mengatasi perubahan iklim. “Semoga langkah kecil ini mampu memberikan kontribusi dalam menjaga kondisi bumi,” ungkapnya dengan penuh harapan.

Program Low Carbon Model Town yang diadaptasi Banda Aceh sendiri merupakan tindak lanjut dari kerja sama dengan sejumlah lembaga internasional, termasuk Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang telah memperkenalkan model pembangunan rendah emisi di beberapa kota di Indonesia.

Melalui forum APEKSI 2025, Banda Aceh menunjukkan komitmennya untuk menjadi kota kolaboratif, di mana pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan akademisi bersinergi dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

“Banda Aceh tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Kolaborasi adalah kunci untuk menciptakan kota yang tangguh menghadapi tantangan perubahan iklim,” kata Illiza.

Peserta forum mengapresiasi inisiatif Banda Aceh sebagai salah satu kota di Indonesia yang telah mengambil langkah konkret dalam menekan emisi karbon melalui pendekatan kolaboratif. Sejumlah kepala daerah bahkan menyatakan minat untuk belajar dari praktik baik yang diterapkan di Banda Aceh.

Dengan visi “Banda Aceh Kota Kolaborasi”, pemerintah kota terus mendorong partisipasi aktif warga dalam berbagai program hijau, termasuk gerakan menanam pohon, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, dan penerapan teknologi hemat energi di sektor publik.

Langkah-langkah kecil tersebut diyakini akan membawa dampak besar dalam menjaga keberlanjutan kota sekaligus memperkuat posisi Banda Aceh sebagai kota pelopor lingkungan di Indonesia bagian barat.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *