Tgk Ahmada DPD RI Hadiri Maulid 1448 H di Dayah Al-Fata Naga Umbang

Aceh Besar11 Dilihat

LHOKNGA, ACEH BESAR | Minggu pagi yang cerah di Naga Umbang terasa berbeda. Sejak pagi, jalan menuju Dayah Raudhatul ‘Ulum Al-Fata sudah ramai oleh jamaah. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik motor berboncengan bersama keluarga, ada pula yang datang rombongan dengan mobil bak terbuka. Semua punya satu tujuan yang sama, menghadiri Peringatan Maulidurrasul 1448 H.

Dan di tengah ribuan jamaah itu, hadir seorang tamu istimewa, Anggota DPD RI / MPR RI Dapil Aceh 2024-2029, Tgk. Ahmada MZ. Kehadirannya di Dayah Raudhatul ‘Ulum Al-Fata, Naga Umbang, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, pada Minggu (8/11/2026) itu, langsung disambut hangat oleh pimpinan dayah, para santri, dan seluruh masyarakat.

Dalam foto terlihat momen yang begitu humanis dan penuh kehangatan. Tgk. Ahmada yang mengenakan baju batik coklat bermotif khas dengan peci hitam, duduk berdampingan dan berbincang serius namun akrab dengan seorang tokoh dayah yang mengenakan jubah putih dan sorban di pundaknya. Di samping mereka, seorang anak kecil dengan peci putih dan baju kotak-kotak duduk dengan polosnya, ikut menyaksikan suasana Maulid yang meriah itu.

Momen itu menggambarkan dengan jelas, bagaimana hubungan antara ulama, wakil rakyat, dan masyarakat di Aceh terjalin begitu erat. Tidak ada jarak. Tidak ada formalitas yang kaku. Yang ada hanya obrolan hangat, saling bertukar pikiran, dan saling mendoakan.

Dayah Raudhatul ‘Ulum Al-Fata Naga Umbang sendiri bukanlah dayah biasa. Dayah ini telah lama menjadi pusat pendidikan agama dan pembinaan akhlak bagi masyarakat Lhoknga dan sekitarnya. Di sinilah, ratusan santri dididik untuk menjadi hafidz Qur’an, menjadi ulama, dan menjadi generasi yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Setiap tahun, peringatan Maulid Nabi di dayah ini selalu menjadi magnet bagi masyarakat. Bukan hanya warga Naga Umbang, tetapi juga warga dari gampong-gampong tetangga, bahkan dari luar Kecamatan Lhoknga. Semua datang untuk bershalawat, mendengarkan tausiyah, dan merasakan keberkahan Maulid bersama-sama.

Acara Maulidurrasul 1448 H tahun ini pun berlangsung dengan penuh khidmat. Dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh santri terbaik dayah, dilanjutkan dengan pembacaan shalawat dan dikir Maulid yang menggema ke seluruh penjuru dayah. Suasana pun menjadi haru, ketika nama Rasulullah Muhammad SAW disebut berulang-ulang, mengingatkan jamaah akan perjuangan dan pengorbanan beliau dalam menyebarkan Islam.

Dalam tausiyah yang disampaikan, para penceramah mengajak jamaah untuk tidak hanya sekadar merayakan Maulid dengan kenduri dan perayaan, tetapi benar-benar meneladani akhlak Rasulullah SAW. Jujur dalam berdagang, santun dalam bertutur kata, sayang kepada anak yatim, hormat kepada orang tua, dan peduli kepada sesama. Jika akhlak itu diamalkan, maka Aceh akan menjadi negeri yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur, negeri yang baik dan diampuni oleh Allah.

Tgk. Ahmada pun tampak sangat menikmati suasana tersebut. Ia duduk bersama jamaah, mendengarkan tausiyah dengan penuh perhatian, dan sesekali berbincang dengan pimpinan dayah tentang perkembangan dayah dan kebutuhan santri. Bagi beliau, momen seperti ini adalah momen untuk menyerap aspirasi langsung dari bawah. Bukan dari laporan di atas kertas, tetapi dari obrolan langsung dengan ulama dan masyarakat.

Bagi masyarakat Naga Umbang, kehadiran Beliau adalah sebuah kehormatan. Mereka merasa bahwa perjuangan mereka dalam membina dayah dan mendidik santri tidak sendirian. Ada wakil rakyat Aceh di Jakarta yang peduli, yang mau datang, yang mau mendengarkan, dan yang mau memperjuangkan nasib dayah dan santri di tingkat pusat.

Seperti yang selalu disampaikan Tgk. Ahmada ko dalam berbagai kesempatan, dayah adalah benteng terakhir Aceh. Jika dayah kuat, Aceh akan kuat. Jika santri bersatu, Aceh akan maju. Karena dari dayah-lah lahir ulama-ulama besar Aceh yang selama ini menjadi panutan dan penjaga syariat di Bumi Serambi Mekkah ini.

Karena itu, beliau selalu berkomitmen untuk terus memperjuangkan kepentingan dayah, ulama, dan santri Aceh di DPD RI dan MPR RI. Mulai dari dukungan anggaran, dukungan fasilitas, hingga dukungan regulasi yang berpihak kepada pendidikan dayah.

Acara Maulid di Dayah Raudhatul ‘Ulum Al-Fata ini juga diwarnai dengan kenduri Maulid yang menjadi tradisi khas Aceh. Hidangan nasi, kuah beulangong, ayam, daging, dan berbagai kue tradisional Aceh disajikan untuk seluruh jamaah. Semua makan bersama, duduk bersama, tanpa membedakan status dan jabatan. Itulah indahnya Maulid di Aceh. Semua sama di hadapan Allah, semua bersaudara dalam cinta kepada Rasulullah.

Hingga menjelang siang, suasana di Dayah Raudhatul ‘Ulum Al-Fata masih ramai. Para jamaah masih enggan beranjak pulang. Mereka masih asyik bersilaturahmi, berfoto bersama, dan saling mendoakan. Tgk. Ahmada DPD pun masih melayani jamaah yang ingin bersalaman dan berfoto bersama dengan penuh ramah dan sabar.

Peringatan Maulidurrasul 1448 H di Dayah Raudhatul ‘Ulum Al-Fata, Naga Umbang, Kecamatan Lhoknga, pada Minggu, 8 November 2026 ini pun berakhir dengan penuh keberkahan. Sebuah acara yang tidak hanya meninggalkan kenangan indah, tetapi juga meninggalkan semangat baru untuk terus mencintai Rasulullah, mencintai dayah, dan mencintai Aceh.

Semoga dengan momentum Maulid ini, silaturahmi antara ulama, santri, wakil rakyat, dan masyarakat Aceh semakin erat. Dan semoga Dayah Raudhatul ‘Ulum Al-Fata terus berkembang, melahirkan santri-santri terbaik yang akan menjadi penerus perjuangan ulama Aceh di masa depan.(**)