Dari Banda Aceh ke Bireuen, Tgk Ahmada DPD RI Hadiri Pernikahan Guru Dayah

News70 Dilihat

BIREUEN | Jarak yang jauh tidak pernah menjadi penghalang untuk sebuah silaturahmi. Kalimat itu terbukti pada Minggu (8/11/2026), saat Anggota DPD RI / MPR RI Dapil Aceh 2024-2029, Tgk. Ahmada, menempuh perjalanan dari Banda Aceh menuju Kabupaten Bireuen, hanya untuk menghadiri satu undangan yang sangat istimewa.

Undangan itu adalah Walimatul ‘Ursy Tgk. Edy, Dewan Guru Dayah Lam Ateuk, yang digelar dengan penuh adat dan syariat Aceh di Gampong Paya, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen.

Bagi sebagian orang, perjalanan jauh untuk sebuah undangan pernikahan mungkin terasa melelahkan. Tapi bagi Beliau perjalanan itu adalah sebuah kehormatan, Karena yang menikah bukan orang sembarangan. Yang menikah adalah seorang guru dayah. Seorang yang setiap harinya mengabdikan dirinya untuk mendidik santri, mengajarkan Al-Qur’an, dan menanamkan akhlak mulia kepada generasi muda Aceh.

Dalam foto terlihat suasana yang begitu hangat dan penuh kekeluargaan. Beliau yang berada di tengah, mengenakan rompi hijau kotak-kotak, baju hitam, dan celana jeans, dengan peci hitam khasnya, berdiri tegak sambil tersenyum. Di kanan kirinya, empat tokoh dan panitia acara berdiri dengan rapi, mengenakan baju koko putih, sarung Aceh, dan peci hitam.

Latar belakang mereka adalah pelaminan yang begitu megah. Dekorasi berwarna merah, emas, dan hijau dengan ornamen khas Aceh, ditambah bunga-bunga segar di kanan kiri pelaminan, membuat suasana acara semakin meriah dan penuh kemewahan adat Aceh. Di sanalah, kedua mempelai duduk bersanding, menerima ucapan selamat dan doa dari seluruh tamu yang hadir.

Kedatangan Tgk. Ahmada DPD di Gampong Paya, Peudada, ini langsung disambut hangat oleh keluarga besar mempelai, pimpinan Dayah Lam Ateuk, dan seluruh masyarakat gampong. Mereka merasa sangat terhormat, karena di tengah kesibukannya sebagai Senator Aceh di Jakarta, Tgk. Ahmada masih menyempatkan diri untuk datang langsung ke Bireuen.

Bagi masyarakat Peudada, Tgk. Edy bukanlah sosok yang asing. Ia dikenal sebagai seorang guru dayah yang sabar, yang ikhlas, dan yang sangat dicintai oleh para santrinya. Setiap hari, ia mengajar di Dayah Lam Ateuk, membimbing santri-santri untuk menjadi hafidz, menjadi ulama, dan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dan agamanya.

Karena itu, pernikahan Tgk. Edy menjadi kebahagiaan bersama, bukan hanya kebahagiaan keluarga, tetapi juga kebahagiaan seluruh keluarga besar Dayah Lam Ateuk dan masyarakat Gampong Paya. Ratusan tamu undangan pun hadir, mulai dari para ulama, pimpinan dayah, tokoh masyarakat, para santri, hingga masyarakat umum dari berbagai gampong di Kecamatan Peudada.

Dalam kesempatan tersebut, Tgk. Ahmada DPD menyampaikan ucapan selamat dan doa restu kepada kedua mempelai. Ia mendoakan agar rumah tangga yang baru dibina ini menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, keluarga yang diberkahi Allah SWT, dan dikaruniai keturunan yang sholeh dan sholehah, yang kelak akan menjadi penerus perjuangan dakwah di Aceh.

Tidak hanya itu, Tgk. Ahmada DPD juga menyampaikan rasa hormatnya kepada para guru dayah. Menurutnya, guru dayah adalah pahlawan tanpa tanda jasa bagi Aceh. Mereka bekerja dengan ikhlas, dengan gaji yang tidak seberapa, tetapi dengan keikhlasan yang luar biasa. Mereka adalah orang-orang yang menjaga Aceh tetap menjadi Serambi Mekkah, menjaga syariat tetap hidup, dan menjaga generasi muda Aceh tetap berada di jalan Allah.

Dalam tradisi Aceh, Walimatul ‘Ursy adalah wujud syukur kepada Allah SWT atas bersatunya dua insan dalam ikatan suci pernikahan. Acara ini juga menjadi ajang silaturahmi yang mempertemukan keluarga besar kedua belah pihak, para ulama, para guru dayah, dan seluruh masyarakat.

Dan di Gampong Paya hari itu, silaturahmi itu terasa begitu kuat. Para tamu saling menyapa, saling berpelukan, saling mendoakan. Para santri Dayah Lam Ateuk pun turut membantu menyambut tamu, menyajikan hidangan, dan memastikan acara berjalan dengan lancar. Suasana kekeluargaan begitu terasa, membuat siapa pun yang hadir merasa seperti berada di rumah sendiri.

Hidangan khas Aceh pun disajikan untuk seluruh tamu undangan. Ada kuah beulangong, nasi putih, ayam, daging, hingga berbagai kue tradisional Aceh. Semua disajikan dengan penuh keikhlasan, sebagai bentuk penghormatan kepada tamu dan sebagai wujud syukur kepada Allah.

Bagi Beliau sendiri, kehadiran di pernikahan seorang guru dayah memiliki makna yang sangat mendalam. Sebagai seorang yang juga dibesarkan dalam lingkungan dayah, ia tahu betul bagaimana kehidupan seorang guru dayah. Ia tahu bagaimana perjuangan mereka, bagaimana keikhlasan mereka, dan bagaimana besar jasa mereka bagi Aceh.

Karena itu, ia selalu berkomitmen untuk terus memperjuangkan nasib para guru dayah dan santri Aceh di tingkat pusat. Di DPD RI dan MPR RI, ia selalu menyuarakan agar pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar kepada dayah, kepada guru dayah, dan kepada pendidikan agama di Aceh.

Menjelang sore, acara Walimatul ‘Ursy pun berakhir dengan penuh keberkahan. Sebelum pulang, Tgk. Ahmada MZ masih sempat berfoto bersama para tokoh, panitia, dan keluarga besar mempelai di depan pelaminan. Foto itu menjadi kenangan yang tak terlupakan, bukti bahwa silaturahmi antara ulama, wakil rakyat, dan masyarakat Aceh akan selalu terjalin erat, sejauh apa pun jarak yang memisahkan.

Perjalanan Tgk. Ahmada DPD dari Banda Aceh ke Bireuen pada Minggu, 8 November 2026 ini pun menjadi cerita yang akan dikenang oleh masyarakat Gampong Paya. Sebuah perjalanan silaturahmi yang membuktikan, bahwa seorang wakil rakyat yang sejati tidak pernah merasa jauh dari rakyatnya. Sejauh apa pun jaraknya, selama ada undangan dari rakyatnya, ia akan selalu berusaha hadir.

Semoga pernikahan Tgk. Edy dan pasangannya diberkahi Allah SWT, menjadi keluarga yang bahagia, harmonis, dan menjadi teladan bagi para santri dan masyarakat Aceh. Dan semoga silaturahmi antara Dayah Lam Ateuk, masyarakat Peudada, dan Tgk. Ahmada DPD semakin erat di masa yang akan datang.(**)