GAYO LUES – Badan Narkotika Nasional (BNN) melalui Program Grand Design Alternative Development (GDAD) berhasil mendorong transformasi ekonomi masyarakat Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Masyarakat yang sebelumnya menggantungkan penghidupan pada budidaya tanaman ganja secara bertahap beralih menjadi petani kopi yang produktif, legal, dan memiliki nilai ekonomi menjanjikan.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa penanganan permasalahan narkotika tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan penegakan hukum, tetapi juga harus menyentuh akar persoalan, yakni faktor ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Sejak dilaksanakan pada tahun 2019, Program GDAD yang dikembangkan BNNK Gayo Lues telah menunjukkan capaian signifikan. Hingga saat ini, pengembangan perkebunan kopi telah mencapai 3.554,6 hektare dengan melibatkan 3.346 petani yang tersebar di 11 kecamatan.
Program ini secara khusus menyasar mantan petani ganja, masyarakat yang rentan terhadap kultivasi ganja, mantan penyalahguna narkoba, mantan pelaku tindak pidana narkotika, serta masyarakat miskin.
Salah satu keberhasilan nyata terlihat di Gampong Agusen yang menjadi salah satu lokasi percontohan GDAD. Jika pada tahun 2019 luas perkebunan kopi di wilayah tersebut hanya sekitar 70 hektare, kini telah berkembang menjadi 250 hektare.
Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari luas lahan perkebunan, tetapi juga dari meningkatnya nilai ekonomi hasil pertanian masyarakat. Harga jual kopi yang sebelumnya sekitar Rp18.600 per kilogram kini meningkat menjadi Rp68.000 per kilogram. Penguatan akses pasar melalui kerja sama dengan PT Ujang Jaya Internasional dan Starbucks turut membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi petani.
Kepala BNNP Aceh menyampaikan bahwa keberhasilan GDAD di Gayo Lues merupakan wujud nyata perubahan pendekatan dalam strategi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).
“BNN tidak hanya hadir untuk memberantas tanaman ganja, tetapi juga menghadirkan solusi bagi masyarakat. Kita ingin memastikan bahwa masyarakat yang sebelumnya menanam ganja memiliki pilihan ekonomi yang lebih baik melalui komoditas kopi. Tujuannya agar masyarakat tidak lagi bergantung pada tanaman ilegal, melainkan mampu membangun masa depan melalui usaha pertanian yang legal, produktif, dan berkelanjutan,” ungkap Kepala BNNP Aceh.
*BNNP ACEH BERSAMA BUPATI, FORKOPIMDA, DAN PT PUPUK INDONESIA PERKUAT KEBERLANJUTAN GDAD*
Sebagai langkah konkret untuk memastikan keberlanjutan dan pengembangan program, Kepala BNNP Aceh melaksanakan rapat koordinasi bersama Bupati Gayo Lues, Ketua DPRK, Kapolres, Dandim, Kajari, Kepala BNNK Gayo Lues, serta Manajer Wilayah Aceh PT Pupuk Indonesia di Aula Pertemuan Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, Jumat (6/11).
Rapat tersebut membahas berbagai upaya kolaboratif untuk memperkuat Program GDAD, khususnya dalam meningkatkan produktivitas perkebunan kopi, memperkuat dukungan sarana produksi pertanian, meningkatkan kapasitas petani, serta memperluas akses pemasaran hasil perkebunan.
Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Kabupaten Gayo Lues menyampaikan komitmennya untuk mendukung pengembangan perkebunan kopi melalui pengadaan 1,5 juta bibit kopi beserta pupuk melalui Kementerian Pertanian, rencana pembangunan pabrik pupuk lokal, serta pembentukan koperasi simpan pinjam petani kopi guna memperkuat akses permodalan dan keberlanjutan usaha petani.
Sementara itu, PT Pupuk Indonesia menyatakan kesiapan mendukung pengembangan perkebunan kopi GDAD melalui pendampingan dan sosialisasi teknis budidaya kopi, pengujian sampel serta tingkat keasaman (pH) tanah untuk menentukan kebutuhan pupuk yang tepat, serta pemberian bantuan demplot sebagai lokasi percontohan pengembangan tanaman kopi bagi kelompok tani.
Kepala BNNP Aceh menegaskan bahwa sinergi lintas sektor merupakan faktor penting dalam menjaga keberhasilan GDAD.
“Keberhasilan mengalihkan masyarakat dari budidaya ganja menuju perkebunan kopi harus diikuti dengan jaminan keberlanjutan ekonomi. Jangan sampai masyarakat kembali menanam ganja karena keterbatasan akses modal, pupuk, pendampingan, maupun pasar. Karena itu, diperlukan komitmen bersama agar petani kopi GDAD benar-benar mendapatkan dukungan dari hulu hingga hilir,” tegasnya.
GDAD: MEMBANGUN HARAPAN, MENGUBAH MASA DEPAN GAYO LUES
BNN menegaskan bahwa keberhasilan GDAD bukan sekadar tentang mengganti tanaman ganja dengan tanaman kopi. Lebih dari itu, program ini merupakan upaya mengubah pola pikir, membangun kemandirian ekonomi, memulihkan kehidupan sosial masyarakat, serta menciptakan lingkungan yang lebih aman dari ancaman narkotika.
Dari lahan yang dahulu menjadi tempat tumbuhnya tanaman ganja, kini berkembang perkebunan kopi yang memberikan harapan dan penghidupan bagi ribuan keluarga.
Transformasi ini menjadi pesan bahwa masyarakat dapat keluar dari persoalan kultivasi ganja apabila diberikan pendampingan, akses ekonomi, dan kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
BNNP Aceh bersama Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, Forkopimda, PT Pupuk Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan berkomitmen untuk terus memperkuat keberlanjutan Program GDAD sebagai model pembangunan alternatif dalam mendukung terwujudnya Gayo Lues Bersinar (Bersih Narkoba).
Dari Ganja Menjadi Kopi, dari Keterbatasan Menjadi Kemandirian. BNN Hadir Membangun Harapan dan Masa Depan Masyarakat Aceh.
*HUMAS BNNP ACEH*









