BI Aceh Edukasi CBP Rupiah kepada 700 Pelajar dan Masyarakat di Pidie

Ekonomi66 Dilihat

PIDIE – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh (KPw BI Aceh) terus memperluas edukasi mengenai pentingnya Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah kepada masyarakat. Melalui program CBP Rupiah Saweu Sikula dan Saweu Gampong, Bank Indonesia menyapa lebih dari 700 pelajar, santri, dan masyarakat di Kabupaten Pidie untuk meningkatkan pemahaman tentang cara merawat, mengenali keaslian, serta menggunakan uang Rupiah secara bijak.

Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, mulai 29 September hingga 2 Oktober 2026, tersebut menyasar sembilan sekolah dan pesantren serta satu kelompok masyarakat. Program ini menjadi bagian dari upaya Bank Indonesia untuk menanamkan kesadaran bahwa Rupiah bukan sekadar alat transaksi, melainkan simbol kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang harus dihargai dan dijaga bersama.

Dalam pelaksanaannya, tim KPw BI Aceh mengunjungi sejumlah lembaga pendidikan di Kabupaten Pidie, yakni SMAN 1 Sigli, SMAN 2 Sigli, SMAN 3 Sigli, SMAN 1 Mutiara Sigli, SMKN 1 Sigli, MAN 1 Pidie, SMPN 3 Unggul Sigli, SMA Sukma Bangsa Pidie, serta Pesantren Ummul Quran Sigli.

Selain menyasar kalangan pelajar dan santri, edukasi juga diberikan kepada ibu-ibu Tim Penggerak PKK Kecamatan Peukan Baro. Kelompok masyarakat ini diajak memahami pentingnya memperlakukan uang Rupiah dengan baik sekaligus mengelola keuangan secara bijak, khususnya dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Melalui pendekatan langsung ke sekolah, pesantren, dan lingkungan masyarakat, Bank Indonesia berupaya memastikan edukasi Rupiah dapat menjangkau berbagai kalangan. Masyarakat tidak harus menunggu untuk datang ke kantor Bank Indonesia, karena informasi dan pengetahuan mengenai Rupiah dibawa langsung ke tempat mereka beraktivitas.

Tanamkan Kebiasaan Merawat Rupiah Sejak Dini

Salah satu materi utama dalam kegiatan tersebut adalah cara merawat uang Rupiah agar tetap bersih, tidak mudah rusak, dan layak digunakan dalam transaksi sehari-hari.

Para peserta diperkenalkan dengan prinsip 5J, yaitu Jangan Dilipat, Jangan Dicoret, Jangan Distapler, Jangan Diremas, dan Jangan Dibasahi. Prinsip sederhana ini diharapkan dapat menjadi kebiasaan yang diterapkan masyarakat setiap kali menerima, menyimpan, maupun menggunakan uang Rupiah.

Edukasi tersebut penting diberikan sejak usia sekolah agar generasi muda memahami bahwa menjaga kondisi uang bukan hanya tanggung jawab Bank Indonesia, tetapi juga seluruh masyarakat sebagai pengguna Rupiah.

Uang yang dirawat dengan baik akan lebih nyaman digunakan dalam transaksi. Sebaliknya, kebiasaan merusak atau memperlakukan uang secara sembarangan dapat menyebabkan uang lebih cepat mengalami kerusakan.

Karena itu, melalui program Saweu Sikula, Bank Indonesia ingin membangun kesadaran sejak dini agar pelajar dan santri tidak hanya mengetahui nilai nominal uang, tetapi juga memahami pentingnya menjaga kualitas fisik Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah.

Ajarkan Cara Mengenali Keaslian Uang Rupiah

Selain perawatan uang, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai cara mengenali ciri-ciri keaslian Rupiah. Pengetahuan ini menjadi bekal penting agar masyarakat semakin waspada terhadap kemungkinan peredaran uang palsu.

Dengan mengenali ciri keaslian uang, masyarakat diharapkan mampu membedakan Rupiah asli dan uang yang patut dicurigai, terutama ketika melakukan transaksi jual beli.

Pemahaman tersebut juga perlu diteruskan kepada keluarga dan lingkungan sekitar sehingga semakin banyak masyarakat yang mengetahui langkah-langkah dasar dalam memeriksa keaslian uang.

Bank Indonesia memandang edukasi seperti ini perlu dilakukan secara berkelanjutan, mengingat uang Rupiah masih digunakan secara luas dalam berbagai aktivitas ekonomi masyarakat, baik di perkotaan maupun di pedesaan.

Melalui penyampaian materi yang sederhana dan mudah dipahami, para peserta diharapkan dapat menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika berbelanja, menerima pembayaran, ataupun melakukan transaksi lainnya.

Pelajar Diperkenalkan dengan Peran Bank Indonesia

Khusus bagi siswa SMA dan sederajat, materi edukasi tidak hanya berfokus pada pengenalan dan perawatan uang Rupiah. Mereka juga mendapatkan pengetahuan mengenai tugas dan peran Bank Indonesia sebagai bank sentral serta perkembangan sistem pembayaran di Indonesia.

Materi ini memberikan wawasan yang lebih luas kepada generasi muda mengenai bagaimana Bank Indonesia menjalankan perannya dalam menjaga kestabilan nilai Rupiah dan mendukung kelancaran sistem pembayaran sesuai kewenangannya.

Para siswa juga diajak memahami bahwa perkembangan teknologi telah membawa perubahan dalam cara masyarakat melakukan transaksi. Sistem pembayaran kini semakin beragam dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas ekonomi sehari-hari.

Dengan demikian, edukasi CBP Rupiah diharapkan tidak berhenti pada kemampuan mengenali uang secara fisik, tetapi juga membangun pemahaman mengenai Rupiah, peran bank sentral, dan perkembangan sistem pembayaran yang semakin modern.

Pengetahuan ini dinilai penting bagi generasi muda agar mereka dapat menjadi pengguna sistem pembayaran yang lebih cerdas, bertanggung jawab, dan memahami pentingnya menjaga keamanan dalam bertransaksi.

Rupiah Bukan Sekadar Alat Pembayaran

Program Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah membawa pesan bahwa hubungan masyarakat dengan mata uang nasional tidak hanya berkaitan dengan kegiatan ekonomi, tetapi juga menyangkut identitas dan kedaulatan bangsa.

Cinta Rupiah diwujudkan melalui perilaku merawat uang dengan baik dan mengenali karakteristik keasliannya. Bangga Rupiah berarti menempatkan Rupiah sebagai simbol kedaulatan Indonesia sekaligus alat pembayaran yang sah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara itu, Paham Rupiah berkaitan dengan kemampuan menggunakan uang secara bijak sesuai kebutuhan dan kemampuan keuangan.

Ketiga aspek tersebut saling melengkapi dalam membangun perilaku masyarakat yang lebih bertanggung jawab terhadap uang yang digunakan setiap hari.

Bagi kalangan pelajar dan santri, pemahaman tersebut diharapkan dapat membentuk kebiasaan positif sejak dini. Sementara bagi masyarakat, termasuk ibu-ibu PKK, edukasi ini menjadi pengingat mengenai pentingnya menjaga Rupiah sekaligus mengatur pengeluaran keluarga secara cermat.

Melalui kegiatan yang menjangkau berbagai kelompok tersebut, Bank Indonesia ingin memastikan bahwa pemahaman mengenai Rupiah tidak hanya diterima di lingkungan pendidikan, tetapi juga tumbuh dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Perluas Edukasi ke Berbagai Daerah di Aceh

Pelaksanaan program Saweu Sikula dan Saweu Gampong di Kabupaten Pidie menjadi salah satu langkah KPw BI Aceh dalam memperluas jangkauan edukasi Rupiah kepada masyarakat.

Ke depan, KPw BI Aceh berkomitmen melanjutkan kegiatan serupa ke berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Aceh. Kerja sama dengan sekolah, pesantren, serta kelompok masyarakat akan terus diperkuat agar semakin banyak warga memperoleh pemahaman mengenai pentingnya Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.

Pendekatan langsung melalui lembaga pendidikan dan kelompok masyarakat diharapkan mampu membuat edukasi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pelajar dapat meneruskan pengetahuan kepada teman dan keluarga, sedangkan peserta dari kelompok masyarakat dapat membagikannya kepada lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Dengan melibatkan berbagai lapisan masyarakat, edukasi CBP Rupiah diharapkan berkembang menjadi gerakan bersama yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku dalam memperlakukan dan menggunakan uang.

Melalui program ini, Bank Indonesia mengajak masyarakat Aceh untuk semakin menghargai Rupiah, merawatnya dengan baik, mengenali keasliannya, serta menggunakannya secara bijak. Upaya tersebut menjadi bagian dari membangun kesadaran bersama bahwa menjaga Rupiah merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia.