Direktur Poltekpel Malahayati Sampaikan Duka atas Meninggalnya Calon Taruna

News31 Dilihat

BANDA ACEH – Direktur Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Banda Aceh, Andi Fiardi, menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya calon taruna Muhammad Rasya Fadhillah (18), yang mengembuskan napas terakhir di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, Minggu (27/9/2026).

Andi Fiardi mengatakan, kepergian Muhammad Rasya Fadhillah menjadi duka mendalam bagi keluarga besar Poltekpel Malahayati. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada pihak keluarga atas musibah yang terjadi.

“Atas nama pribadi dan seluruh keluarga besar Poltekpel Malahayati, kami menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya kepada keluarga atas musibah dan kehilangan ini,” ujar Andi Fiardi, Rabu (30/9/2026).

Ia menjelaskan, Muhammad Rasya Fadhillah merupakan calon taruna Program Studi Sistem Kelistrikan Kapal (SKK), yang diterima melalui jalur seleksi program mandiri tahun 2026.

Sebelum mengikuti proses pembelajaran, Rasya bersama calon taruna lainnya menjalani kegiatan orientasi pembentukan karakter pada 4–14 September 2026. Kegiatan tersebut mencakup pengenalan lingkungan kampus, kuliah umum yang menghadirkan sejumlah instansi pemerintah, serta latihan baris-berbaris.

Menurut Andi, kegiatan orientasi tersebut diikuti sebanyak 251 calon taruna. Setelah masa orientasi berakhir pada 14 September 2026, Rasya mulai mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas dan aktivitas rutin lainnya di lingkungan kampus.

Andi menegaskan bahwa seluruh rangkaian orientasi tidak dirancang ataupun dilaksanakan dalam bentuk kegiatan yang mengarah pada kekerasan.

“Perlu kami tegaskan pula bahwa kegiatan orientasi tersebut tidak dirancang maupun dilaksanakan menjurus bentuk kekerasan apa pun,” katanya.

Ia juga menyebutkan, Poltekpel Malahayati menerapkan pola interaksi yang tidak melibatkan hubungan senior dan junior dalam kegiatan rutin kampus. Kebijakan tersebut diterapkan sebagai salah satu langkah pencegahan terhadap potensi perundungan atau bullying.

Terkait kondisi kesehatan Rasya sebelum meninggal dunia, Andi mengatakan pihak kampus telah melakukan penanganan sesuai prosedur sejak Sabtu (26/9/2026).

Saat itu, Rasya dilaporkan mengalami sakit dengan keluhan demam. Penanganan awal dilakukan oleh dokter dan tim medis di Poliklinik Poltekpel Malahayati.

Dalam proses pemeriksaan, tim medis menemukan adanya ruam atau bintik pada tubuh Rasya yang kemudian semakin bertambah.

Karena kondisi kesehatannya tidak kunjung membaik, pihak Poltekpel Malahayati kemudian mengambil langkah merujuk Rasya ke RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

Rujukan tersebut dilakukan agar Rasya mendapatkan pemeriksaan laboratorium sekaligus penanganan medis lebih lanjut melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Namun, pada Minggu (27/9/2026) sekitar pukul 16.14 WIB, kondisi Rasya dilaporkan mengalami penurunan secara mendadak. Setelah mendapatkan penanganan medis, Rasya kemudian dinyatakan meninggal dunia.

Andi mengatakan, setelah mendapat kabar duka tersebut, pihak Poltekpel Malahayati turut mengawal proses pemakaman Muhammad Rasya Fadhillah dan membantu mengurus berbagai keperluan sesuai prosedur yang berlaku di lingkungan Poltekpel Malahayati.

Pihak kampus, kata Andi, menyampaikan kembali rasa duka mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan serta berharap keluarga diberikan kekuatan dalam menghadapi kehilangan tersebut.(**)