OJK Aceh Serahkan 1.150 Rekening dan 1.000 Polis Asuransi untuk Pelajar Bireuen

Berita6 Dilihat

BIREUEN – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Aceh terus memperkuat literasi dan inklusi keuangan di kalangan generasi muda. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan peringatan Hari Indonesia Menabung (HIM) dan Bulan Literasi Keuangan 2026 yang digelar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bireuen, Kamis (27/8/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Merajut Masa Depan melalui Literasi dan Inklusi Keuangan” itu menjadi momentum penting untuk mengenalkan pengelolaan keuangan sejak usia sekolah sekaligus membuka akses pelajar terhadap layanan jasa keuangan formal.

Lebih dari 1.300 pelajar dari Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Bireuen, SMA Negeri 1 Juli, serta Pesantren Modern Al Zahrah Bireuen mengikuti kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya mendapatkan edukasi mengenai pentingnya menabung, tetapi juga dibekali pemahaman mengenai perencanaan keuangan, perlindungan konsumen, serta kewaspadaan terhadap berbagai bentuk kejahatan keuangan digital.

Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah penyerahan 1.150 rekening tabungan pelajar dan 1.000 polis asuransi kecelakaan diri kepada pelajar. Program ini merupakan hasil kolaborasi OJK bersama Pemerintah Kabupaten Bireuen, Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), serta Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Aceh.

Pembukaan rekening tabungan tersebut diharapkan mampu menanamkan kebiasaan menabung sejak dini. Pelajar didorong untuk tidak hanya memahami pentingnya menyisihkan sebagian uang yang dimiliki, tetapi juga belajar merencanakan penggunaan uang secara bijak sesuai kebutuhan dan tujuan di masa depan.

Sementara itu, pemberian polis asuransi kecelakaan diri menjadi bagian dari upaya memperluas perlindungan terhadap pelajar dari risiko yang mungkin terjadi. Manfaat perlindungan tersebut diberikan sesuai dengan ketentuan dan manfaat yang tercantum dalam masing-masing polis.

Kepala OJK Provinsi Aceh, Daddi Peryoga, mengatakan literasi dan inklusi keuangan sejak usia sekolah merupakan salah satu fondasi penting dalam membentuk perilaku keuangan masyarakat yang sehat, mandiri, dan bertanggung jawab.

Menurutnya, menabung tidak sekadar menyisihkan uang, tetapi merupakan langkah untuk membangun kebiasaan positif sekaligus mempersiapkan masa depan.

“Menabung bukan hanya tentang menyisihkan uang, melainkan cara kita menabung harapan dan merancang masa depan yang berdaulat,” ujar Daddi.

Ia menjelaskan, melalui kegiatan tersebut OJK ingin memastikan pelajar tidak hanya mengetahui manfaat menabung, tetapi juga memahami berbagai produk dan layanan jasa keuangan yang sesuai dengan kebutuhan. Di saat yang sama, pelajar juga perlu memiliki pemahaman mengenai pentingnya perlindungan dari berbagai risiko.

Daddi menegaskan, keberadaan OJK di tengah masyarakat harus memberikan manfaat yang nyata. Karena itu, edukasi keuangan harus berjalan beriringan dengan pembukaan akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan yang legal, aman, dan sesuai kebutuhan masyarakat.

“Edukasi keuangan perlu berjalan beriringan dengan pembukaan akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan yang legal, aman, dan sesuai kebutuhan masyarakat,” katanya.

Selain pengenalan budaya menabung, para pelajar juga mendapatkan pemahaman mengenai tugas dan fungsi OJK dalam mengatur serta mengawasi sektor jasa keuangan. Materi pelindungan konsumen juga menjadi bagian penting agar generasi muda mampu mengenali hak dan kewajibannya sebagai pengguna produk jasa keuangan.

Hal tersebut dinilai semakin penting di tengah perkembangan teknologi digital yang membuat akses terhadap layanan keuangan semakin mudah. Di sisi lain, perkembangan tersebut juga diikuti munculnya berbagai modus penipuan dan kejahatan keuangan digital yang menyasar masyarakat, termasuk generasi muda.

Karena itu, pelajar diberikan edukasi agar lebih berhati-hati dalam menggunakan layanan keuangan digital, mengenali modus penipuan, serta tidak mudah memberikan data pribadi maupun informasi penting kepada pihak yang tidak bertanggung jawab.

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan industri perbankan turut memberikan edukasi mengenai Simpanan Pelajar (SimPel). Para peserta diperkenalkan dengan tata cara pembukaan rekening, manfaat menabung, hingga kemudahan yang dapat diperoleh pelajar melalui penggunaan layanan perbankan formal.

Bupati Bireuen, Mukhlis, menyampaikan apresiasi terhadap sinergi yang dibangun OJK Provinsi Aceh, industri jasa keuangan, dan Pemerintah Kabupaten Bireuen dalam memperluas edukasi serta akses keuangan bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Menurut Mukhlis, edukasi keuangan bagi pelajar merupakan bentuk investasi jangka panjang dalam membentuk generasi yang memiliki kemandirian serta kemampuan mengelola keuangan secara bijak.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada OJK Provinsi Aceh, jajaran perbankan, dan industri jasa keuangan atas kolaborasi yang telah terbangun,” ujar Mukhlis.

Ia menilai, pemahaman mengenai pengelolaan keuangan perlu ditanamkan sejak bangku sekolah agar para pelajar memiliki bekal ketika memasuki kehidupan sosial dan ekonomi yang lebih luas.

Kegiatan di Bireuen tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian program edukasi dan inklusi keuangan berkelanjutan yang dilakukan OJK Provinsi Aceh bersama TPAKD, FKIJK Aceh, pemerintah daerah, satuan pendidikan, serta industri jasa keuangan.

Kolaborasi lintas sektor tersebut diarahkan untuk memperluas jangkauan literasi keuangan sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan formal. Sasaran utamanya tidak hanya masyarakat perkotaan, tetapi juga kelompok masyarakat dan wilayah yang masih membutuhkan penguatan akses keuangan.

Daddi menegaskan, peningkatan literasi dan inklusi keuangan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kerja sama berkelanjutan antara regulator, pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan industri jasa keuangan agar tercipta ekosistem keuangan yang sehat dan inklusif.

Melalui kegiatan Hari Indonesia Menabung dan Bulan Literasi Keuangan 2026 ini, OJK Aceh berharap kebiasaan menabung dapat tumbuh menjadi budaya di kalangan pelajar. Lebih jauh, generasi muda diharapkan mampu menjadi masyarakat yang cerdas dalam mengambil keputusan keuangan, memahami risiko, serta menggunakan produk dan layanan jasa keuangan secara aman dan bertanggung jawab.

Dengan penyerahan ribuan rekening tabungan dan polis asuransi tersebut, langkah literasi dan inklusi keuangan di Bireuen tidak berhenti pada penyampaian teori. Program tersebut sekaligus menghadirkan akses nyata bagi pelajar untuk mulai mengenal, menggunakan, dan merasakan manfaat layanan keuangan formal sejak dini.(**)