BANDA ACEH – Semarak Maulidurrasul kembali menggema di Kota Banda Aceh. Anggota DPD RI sekaligus Anggota MPR RI Dapil Aceh periode 2024–2029, Tgk. Ahmada, menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Balai Pengajian Istiqamatuddin Darul Kautsar, Gampong Lambhuk, Banda Aceh, Selasa (25/8/2026).
Kedatangan Tgk Ahmada disambut hangat oleh pengurus balai pengajian, para teungku, serta masyarakat setempat. Dengan balutan baju koko putih dan sarung, ia tampak duduk bersila bersama warga mendengarkan tausiah dan lantunan shalawat yang menghidupkan suasana.
Dalam kesempatan itu, Tgk Ahmada menyampaikan bahwa peringatan Maulid bukan sekadar seremonial tahunan. Menurutnya, momentum ini menjadi ruang untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Maulid ini mengingatkan kita tentang pentingnya kasih sayang, kejujuran, dan persatuan. Nilai-nilai itu yang hari ini sangat kita butuhkan, baik di tingkat gampong maupun di Senayan,” ujarnya di hadapan jamaah.
Sebagai wakil Aceh di DPD dan MPR RI, Tgk Ahmada juga menyerap aspirasi warga Lambhuk terkait pembinaan keagamaan dan pemberdayaan balai pengajian. Ia menegaskan komitmennya untuk terus mendorong penguatan lembaga pendidikan Islam di Aceh agar lahir generasi yang cerdas, berakhlak, dan cinta tanah air.
“Balai pengajian seperti Istiqamatuddin Darul Kautsar ini adalah benteng moral. Negara harus hadir mendukung. Saya akan terus suarakan di DPD dan MPR agar anggaran pembinaan keumatan dan pendidikan dayah mendapat perhatian lebih,” tambahnya.
Ketua Balai Pengajian Istiqamatuddin Darul Kautsar menyambut baik kehadiran senator Aceh tersebut. Ia berharap silaturahmi ini tidak berhenti di acara Maulid saja, tetapi berlanjut dalam bentuk kerja sama nyata untuk memajukan pendidikan agama di Lambhuk.
Acara ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah. Warga tampak antusias bersalaman dan berfoto bersama Tgk Ahmada. Momen kebersamaan itu dinilai memperkuat ikatan antara wakil rakyat dengan konstituennya.
Kehadiran Tgk Ahmada di Lambhuk menjadi bagian dari rangkaian safari dakwah dan silaturahmi yang rutin ia lakukan ke berbagai gampong di Aceh. Baginya, membangun Aceh tidak cukup hanya dari ruang sidang, tetapi harus dimulai dari majelis taklim dan balai pengajian.(**)









