ACEH BESAR – Suasana khidmat menyelimuti Yayasan Dayah Ulee Titi, Siron Lamgarut, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, pada Selasa, 25 Agustus 2026. Ribuan santri, ulama, dan masyarakat dari berbagai daerah berkumpul untuk memperingati Haul Ke-30 Abu Chiek Ulee Titi, ulama kharismatik yang dikenang luas karena jasa dan dakwahnya di Bumi Serambi Mekkah.
Hadir dalam acara tersebut Anggota DPD-RI sekaligus Anggota MPR-RI Dapil Aceh periode 2024-2029, Tgk. Ahmada MZ. Kehadirannya menjadi penanda kuatnya sinergi antara unsur ulama dan umara dalam menjaga nilai-nilai keislaman serta kearifan lokal Aceh.
Dalam kesempatan itu, Tgk. Ahmada tampak berjabat tangan dan berbincang hangat dengan pimpinan dayah dan para tokoh agama yang hadir. Momen tersebut menggambarkan penghormatan dan kedekatan antara wakil rakyat dengan dunia pesantren.
Haul Ke-30 Abu Chiek Ulee Titi ini bukan sekadar acara peringatan wafat seorang ulama. Bagi masyarakat Aceh, haul menjadi momentum untuk meneladani akhlak, ilmu, dan perjuangan ulama dalam mendidik umat. Pimpinan Dayah Ulee Titi dalam tausiyahnya menekankan pentingnya meneruskan wasiat Abu Chiek Ulee Titi untuk menjaga dayah sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan peradaban.
Tgk. Ahmada dalam pernyataannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan masyarakat yang telah menjaga tradisi haul tetap hidup. Ia menyebut dayah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda Aceh yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing.
“Kita semua punya tanggung jawab untuk memastikan warisan para ulama tidak berhenti di kitab dan cerita. Harus hidup dalam amal, dalam pendidikan, dan dalam pelayanan kepada umat,” ujarnya di sela acara.
Ia juga menegaskan komitmennya di Senayan untuk terus memperjuangkan anggaran dan kebijakan yang memperkuat kelembagaan dayah, baik dari sisi pendidikan, kesejahteraan guru dayah, maupun infrastruktur pesantren di Aceh.
Acara haul diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, zikir, doa bersama, dan ceramah agama. Ribuan jamaah tampak khusyuk mengikuti rangkaian acara hingga akhir. Hidangan khas Aceh juga disiapkan sebagai bentuk jamuan kepada para tamu yang datang dari dalam dan luar daerah.
Kehadiran pejabat negara dan anggota DPD-RI di tengah masyarakat dayah dinilai membawa pesan penting. Bahwa pembangunan Aceh tidak bisa dilepaskan dari akar budaya dan agama. Kolaborasi antara pemerintah, ulama, dan masyarakat menjadi kunci menjaga Aceh tetap damai dan maju.
Haul Abu Chiek Ulee Titi Ke-30 tahun ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Aceh besar karena ulamanya. Dan tugas generasi sekarang adalah menjaga api ilmu itu tetap menyala.(**)












