Siswa SMAN di Bener Meriah Diduga Dikeroyok Senior hingga Tak Sadarkan Diri

Berita14 Dilihat

BENER MERIAH – Kasus dugaan kekerasan berbasis senioritas kembali mencoreng lingkungan pendidikan di Kabupaten Bener Meriah. Seorang siswa kelas II di salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di daerah tersebut diduga menjadi korban pengeroyokan yang dilakukan sejumlah siswa kelas III pada Sabtu (22/8/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, peristiwa tersebut diduga bermula ketika korban diajak oleh sejumlah siswa senior menuju sebuah lahan kosong yang berada di belakang kawasan sekolah. Lokasi tersebut diduga menjadi tempat berlangsungnya aksi kekerasan terhadap korban.

Sebuah rekaman video yang beredar di masyarakat memperlihatkan sejumlah siswa berkumpul di sekitar lokasi sebelum dugaan penganiayaan terjadi. Rekaman tersebut kemudian menjadi perhatian masyarakat dan memunculkan desakan agar pihak sekolah maupun aparat penegak hukum segera melakukan penyelidikan secara menyeluruh.

Dalam kejadian itu, korban diduga dikeroyok secara bersama-sama oleh sejumlah siswa senior. Rekan-rekan korban yang berada di sekitar lokasi disebut tidak berani memberikan pertolongan karena jumlah mereka lebih sedikit dibandingkan para siswa yang diduga melakukan pengeroyokan.

Situasi semakin memprihatinkan ketika korban disebut mengalami benturan pada bagian kepala hingga kehilangan kesadaran. Meski korban sudah dalam kondisi tidak berdaya, aksi kekerasan tersebut diduga masih berlanjut dengan pukulan dan tendangan.

Korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Datu Beru untuk mendapatkan penanganan medis. Kondisi korban menjadi perhatian serius keluarga dan masyarakat, mengingat kekerasan yang diduga dilakukan secara bersama-sama tersebut telah menyebabkan korban mengalami luka dan kehilangan kesadaran.

Peristiwa ini sekaligus kembali menyoroti persoalan kekerasan dan praktik senioritas di lingkungan sekolah. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman bagi peserta didik untuk belajar, berkembang, dan membangun karakter justru harus tercoreng oleh dugaan tindakan kekerasan antarsiswa.

Pihak keluarga korban bersama masyarakat setempat kini mendesak pihak sekolah mengambil langkah tegas dan tidak menutup-nutupi kasus tersebut. Mereka juga meminta aparat kepolisian segera melakukan penyelidikan untuk memastikan kronologi, mengidentifikasi seluruh pihak yang terlibat, serta menentukan ada atau tidaknya unsur pidana dalam peristiwa tersebut.

Masyarakat berharap kasus ini tidak berhenti pada pemberian sanksi internal sekolah semata apabila hasil penyelidikan menemukan adanya tindak kekerasan yang memenuhi unsur hukum. Penanganan secara tegas dinilai penting sebagai bentuk perlindungan terhadap korban sekaligus memberikan efek jera bagi siswa lain agar tidak menjadikan senioritas sebagai alasan untuk melakukan kekerasan.

Di sisi lain, seluruh pihak juga diharapkan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah dan menunggu hasil pemeriksaan resmi dari pihak sekolah serta kepolisian. Informasi yang beredar di media sosial perlu diverifikasi agar tidak menimbulkan kesimpulan sepihak maupun merugikan pihak-pihak yang belum terbukti terlibat.

Kasus dugaan pengeroyokan tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan perundungan dan kekerasan di sekolah membutuhkan perhatian serius dari semua pihak. Pengawasan sekolah, peran guru, komunikasi dengan orang tua, serta keberanian siswa untuk melaporkan tindakan kekerasan harus diperkuat agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Keluarga korban berharap proses penanganan kasus berjalan transparan dan korban mendapatkan pemulihan secara maksimal. Sementara masyarakat menunggu langkah konkret pihak sekolah dan aparat kepolisian dalam mengungkap fakta di balik dugaan pengeroyokan tersebut.

Catatan: Identitas korban maupun siswa yang diduga terlibat sebaiknya tidak dipublikasikan sebelum ada keterangan resmi dari pihak berwenang, terutama karena mereka masih berstatus pelajar.(**)