Harga Material Melonjak, Program Percepatan Pembangunan Pasca Bencana di Aceh Tamiang Terancam Terkendala

Berita163 Dilihat

Karang Baru, Dailymail Indonesia

Pasca bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh Tamiang, pemerintah pusat dan daerah terus mengucurkan berbagai bantuan bagi masyarakat terdampak, termasuk program rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) rumah warga serta bangunan yang mengalami kerusakan akibat banjir Hidrometereologi.

Berbagai kegiatan pembangunan tersebut membutuhkan pasokan material konstruksi dalam jumlah besar, seperti pasir, kerikil, besi, semen, seng, dan bahan bangunan lainnya. Namun, di tengah upaya percepatan pemulihan pascabencana, muncul persoalan baru berupa kenaikan harga sejumlah material, terutama semen.

Kondisi ini mulai dikeluhkan oleh pihak sekolah yang sedang melaksanakan Program Bantuan Revitalisasi Sekolah dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Kenaikan harga semen dalam beberapa hari terakhir dinilai cukup signifikan dan berpotensi menghambat penyelesaian pekerjaan di lapangan.

Salah seorang perwakilan sekolah yang ditemui awak media mengaku khawatir terhadap lonjakan harga tersebut.

Menurutnya, anggaran yang telah disusun dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) mengacu pada harga semen sekitar Rp60.000 per sak.

“Dalam RAB kami, harga semen dianggarkan Rp60.000 per sak. Jika harga terus naik hingga Rp65.000 bahkan Rp75.000 per sak, sayangnya pembelian terbatas dan stok disebagian pengecer kosong, selain itu material lain juga merangsek naik seperti Pasir dari Rp 300 Ribu jadi Rp 600 Ribu, Seng dari harga Rp 52 Ribu jadi Rp 72 Ribu, ada juga Paku, dari Rp 15 Ribu jadi Rp 20 Ribu,” jelasnya, tentu akan sangat memberatkan dan berpotensi mengganggu kelancaran pekerjaan. Kami khawatir kegiatan revitalisasi tidak dapat diselesaikan tepat waktu,” ungkapnya.

Ia menilai kenaikan harga yang terjadi saat ini perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Di tengah tingginya kebutuhan material untuk pemulihan pascabencana, jangan sampai ada pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk mengambil keuntungan secara berlebihan.

“Kami tidak mempersoalkan keuntungan yang wajar dalam dunia usaha, tetapi jika kenaikannya terlalu tinggi dan tidak sesuai kondisi pasar, tentu akan berdampak pada program pembangunan yang sedang berjalan,” tambahnya.

Masyarakat dan pelaksana kegiatan berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang bersama instansi terkait segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan pengawasan terhadap distribusi serta harga material bangunan di pasaran. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah praktik penimbunan maupun permainan harga yang dapat menghambat proses rehabilitasi dan pembangunan pascabencana.

Dengan pengawasan yang ketat, diharapkan kebutuhan material pembangunan tetap tersedia dengan harga yang wajar sehingga berbagai program pemulihan, termasuk revitalisasi sekolah dan rehabilitasi rumah warga, dapat berjalan lancar demi percepatan kebangkitan Aceh Tamiang pascabencana.