Edukasi Kesehatan Pasca Bencana di Bireuen, 200 Warga Dibekali Air Bersih dan Sanitasi

Daerah3 Dilihat

BIREUEN – Upaya pemulihan pascabencana banjir dan longsor di Kabupaten Bireuen tidak hanya berfokus pada perbaikan infrastruktur, tetapi juga menyentuh aspek krusial kesehatan masyarakat. Kondisi darurat yang seringkali diwarnai keterbatasan akses air bersih dan fasilitas sanitasi berpotensi memicu berbagai penyakit berbasis lingkungan, seperti diare, penyakit kulit, hingga gangguan kesehatan reproduksi.

Menjawab tantangan tersebut, tim promosi kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen bersama petugas Puskesmas, relawan SIGAP PGRI, serta dukungan Yayasan Plan International Indonesia, turun langsung ke lapangan memberikan edukasi kepada masyarakat terdampak. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan warga tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat di tengah situasi darurat.

Selama dua hari, yakni 9 hingga 10 Maret 2026, kegiatan promosi kesehatan digelar di empat desa terdampak, yaitu Desa Simpang Jaya (Kecamatan Juli), Desa Ujong Blang dan Meuse (Kecamatan Kuta Blang), serta Desa Kubu Raya (Kecamatan Peusangan Siblah Krueng). Sebanyak 200 peserta yang merupakan warga terdampak mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusias.

Ketua Tim Promosi Kesehatan, Fadli Syahputra, S.K.M., M.K.M., bersama tim lintas profesi yang terdiri dari tenaga sanitarian dan bidan, menyampaikan berbagai materi penting secara interaktif melalui metode ceramah, diskusi, dan tanya jawab. Materi yang diberikan meliputi cara pengolahan air minum yang aman, pentingnya mencuci tangan pakai sabun, penggunaan jamban sehat, serta menjaga kebersihan lingkungan guna mencegah penyakit pascabencana.

Tak hanya itu, edukasi juga menyasar aspek kesehatan reproduksi yang kerap terabaikan dalam situasi darurat. Para peserta, khususnya perempuan dan remaja putri, diberikan pemahaman tentang Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM), pentingnya menjaga kebersihan organ reproduksi, serta pencegahan kekerasan berbasis gender (GBV) berikut mekanisme rujukannya.

Keterlibatan institusi pendidikan seperti STIKes Jabal Ghafur Sigli melalui Program Studi D-3 Sanitasi turut memperkuat kegiatan ini sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, relawan, dan organisasi kemanusiaan menjadi kunci keberhasilan kegiatan tersebut.

Antusiasme masyarakat terlihat dari keaktifan peserta dalam berdiskusi dan berbagi pengalaman. Mereka mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi, mulai dari kesulitan memperoleh air bersih hingga keterbatasan fasilitas sanitasi di lokasi pengungsian.

“Penyuluhan ini sangat membantu kami menjaga kebersihan air dan kesehatan keluarga, terutama anak-anak dan remaja putri,” ungkap salah seorang warga. Hal senada juga disampaikan oleh Yusniar (45), yang menilai materi yang diberikan mampu meningkatkan kesadaran untuk melindungi diri dari berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Sementara itu, Heni Maulana (25) berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak kalangan, termasuk anak sekolah dan remaja putri. Ia juga mengusulkan adanya dukungan berupa paket kebersihan perempuan, termasuk pembalut, untuk menunjang kesehatan reproduksi di masa darurat.

Fadli Syahputra menegaskan bahwa sinergi lintas sektor menjadi faktor penting dalam mempercepat pemulihan pascabencana. Edukasi yang diberikan tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga memberdayakan masyarakat agar lebih mandiri dalam menjaga kesehatan keluarga dan lingkungan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat Kabupaten Bireuen semakin siap menghadapi risiko kesehatan di masa darurat, mampu mencegah penyakit berbasis lingkungan, serta meningkatkan kualitas hidup secara berkelanjutan. Promosi kesehatan ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi berbagai pihak mampu menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat terdampak bencana.(**)