Banda Aceh – Suasana Ramadhan di Banda Aceh tahun ini semakin semarak dengan digelarnya Peukan Raya Ramadhan (PRR) 2026 yang diinisiasi oleh Pemerintah Kota Banda Aceh. Event tahunan tersebut resmi dibuka di kawasan bekas lahan Pasar Aceh Shopping Center dan langsung menghadirkan nuansa religius sekaligus geliat ekonomi masyarakat.
Pembukaan PRR berlangsung meriah dengan tradisi khas Aceh teumok beulangong Kanji Rumbi yang dilakukan langsung oleh Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal bersama Wakil Wali Kota Afdhal serta Ketua DPRK Irwansyah. Kanji Rumbi yang menjadi simbol kebersamaan Ramadan itu kemudian dibagikan gratis kepada para pengunjung sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus pelestarian tradisi lokal.
Dalam sambutannya, Illiza menegaskan bahwa Peukan Raya Ramadhan bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan strategi nyata untuk menggerakkan ekonomi berbasis kolaborasi selama bulan suci. Tahun ini, sebanyak 150 brand UMKM ikut ambil bagian dalam 120 stan yang tersebar di berbagai zona kegiatan.
Pemko menargetkan sekitar 10 ribu pengunjung hadir setiap hari dengan proyeksi perputaran ekonomi mencapai lebih dari Rp2 miliar. Target tersebut dinilai realistis karena PRR tidak hanya menghadirkan kuliner berbuka puasa, tetapi juga produk kreatif, kerajinan lokal, hingga pertunjukan seni budaya.
“Tahun ini kita ingin PRR menjadi pusat transaksi ekonomi rakyat. Tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi benar-benar memberikan dampak peningkatan pendapatan bagi pelaku UMKM,” ujar Illiza.
Untuk memperkuat konsep tersebut, PRR 2026 dibagi dalam tiga zona utama. Peukan Raseuki menjadi pusat kuliner berbuka puasa yang menawarkan berbagai menu khas Aceh. Peukan Khanduri difokuskan pada kegiatan berbagi takjil gratis bagi masyarakat. Sementara Peukan Silaturahmi menghadirkan panggung hiburan religi dan pertunjukan seni budaya yang mempererat kebersamaan warga.
Selain itu, di kawasan yang sama juga berlangsung program Peukan QRIS Ramadan yang digelar sejak 20 Februari hingga 15 Maret 2026 melalui kolaborasi dengan Bank Indonesia serta sejumlah perbankan syariah. Program ini bertujuan mendorong digitalisasi transaksi di pasar tradisional agar pelaku usaha semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi pembayaran.
Illiza menekankan bahwa transformasi digital tidak boleh menghilangkan nilai sosial pasar tradisional sebagai ruang interaksi masyarakat. Justru, digitalisasi diharapkan mampu memperkuat daya saing pedagang lokal.
“Ramadan adalah momentum kebangkitan ekonomi. Mari belanja produk UMKM lokal dan manfaatkan transaksi digital agar ekonomi masyarakat semakin tumbuh,” ujarnya.
Dengan konsep kolaboratif antara ekonomi, budaya, dan nilai religius, Peukan Raya Ramadhan 2026 diharapkan menjadi salah satu agenda unggulan kota yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat identitas Banda Aceh sebagai kota syariat yang produktif dan kreatif.(**)












