Inflasi Aceh Capai 6,09 Persen, BI Perkuat Stabilitas Harga

Ekonomi65 Dilihat

ACEH – Laju inflasi di Aceh pada Januari 2026 tercatat cukup tinggi. Berdasarkan data terbaru, inflasi tahunan (year on year) mencapai 6,09 persen, sementara inflasi bulanan pada Januari berada di angka 3,55 persen. Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh dampak bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November 2025, yang menyebabkan terganggunya distribusi dan produksi sejumlah komoditas penting di berbagai wilayah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menjelaskan bahwa tekanan inflasi saat ini lebih banyak berasal dari kelompok bahan pangan. Gangguan distribusi akibat kerusakan infrastruktur serta hambatan transportasi menyebabkan pasokan tidak stabil, sehingga harga beberapa komoditas strategis mengalami kenaikan signifikan.

Komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi antara lain beras, bawang merah, dan cabai merah. Selain itu, penyesuaian tarif listrik serta kenaikan harga angkutan udara turut memperbesar tekanan inflasi pada awal tahun.

Lonjakan harga tercatat terjadi di sejumlah daerah seperti Banda Aceh, Lhokseumawe, Meulaboh, Takengon, dan Kuala Simpang. Wilayah-wilayah tersebut sempat mengalami gangguan pasokan akibat terhambatnya jalur distribusi pascabencana.

Agus menyebutkan bahwa kondisi ini bersifat sementara. Seiring dengan perbaikan infrastruktur dan mulai pulihnya aktivitas distribusi barang, tekanan inflasi diperkirakan akan berangsur menurun pada bulan-bulan berikutnya.

Untuk mengendalikan situasi, Bank Indonesia bersama Pemerintah Aceh dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah terus memperkuat berbagai langkah strategis. Upaya tersebut meliputi operasi pasar, pengawasan distribusi bahan pokok, serta koordinasi lintas instansi guna memastikan ketersediaan pasokan tetap terjaga.

Selain langkah pemerintah, peran masyarakat juga dinilai penting dalam menjaga stabilitas harga. Agus mengimbau masyarakat agar menerapkan pola konsumsi yang bijak, yakni membeli sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan yang dapat memicu lonjakan permintaan.

Ia juga mendorong diversifikasi konsumsi pangan lokal sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada komoditas tertentu yang rentan mengalami kenaikan harga.

“Perilaku belanja yang bijak sangat membantu menjaga stabilitas harga, terutama di tengah proses pemulihan distribusi pascabencana,” ujar Agus.

Ke depan, Bank Indonesia optimistis inflasi Aceh dapat kembali terkendali melalui sinergi kebijakan antara pemerintah daerah, pelaku usaha, serta masyarakat. Stabilitas harga dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong pemulihan ekonomi daerah secara berkelanjutan.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *