Aceh Tamiang – Suasana haru dan penuh emosi mewarnai berakhirnya tugas kemanusiaan Prajurit Yonif 115 Macan Leuser dalam membantu masyarakat terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang. Tangis, pelukan hangat, serta ungkapan terima kasih menjadi pemandangan yang tak terelakkan saat para prajurit bersiap meninggalkan wilayah Kuala Simpang, Rabu (21/01/2026).
Perpisahan tersebut menjadi momen emosional bagi warga yang selama beberapa hari terakhir merasakan langsung kehadiran TNI di tengah-tengah kesulitan pascabencana. Sejak banjir melanda, Prajurit Macan Leuser hadir tanpa mengenal lelah, bahu-membahu bersama masyarakat memulihkan kondisi lingkungan yang terdampak cukup parah.
Momen paling mengharukan terjadi saat warga bersama para tenaga pendidik melepas kepulangan para prajurit. Sejumlah guru tampak menitikkan air mata, tak kuasa menahan rasa haru atas dedikasi dan kepedulian yang telah diberikan. Pelukan perpisahan pun mengiringi langkah para prajurit, menandai eratnya ikatan emosional yang terbangun selama masa tanggap darurat.
Selama menjalankan tugas kemanusiaan, Prajurit Yonif 115 Macan Leuser terjun langsung ke lokasi-lokasi terdampak banjir. Mereka bergelut dengan lumpur, sisa material banjir, serta medan yang cukup berat. Dengan penuh semangat dan keikhlasan, para prajurit membersihkan rumah warga, fasilitas umum, rumah ibadah, sekolah-sekolah, jalan utama, hingga saluran air dan gorong-gorong agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal.
Tidak hanya fokus pada kerja fisik, para prajurit juga memberikan dukungan moril kepada masyarakat. Mereka menyapa warga, menghibur anak-anak, serta menghadirkan rasa aman di tengah situasi yang sempat menimbulkan kecemasan. Kehadiran TNI menjadi penguat mental bagi warga yang tengah berjuang bangkit dari dampak bencana.
Salah seorang guru SD Negeri 04 Kuala Simpang, Ibu Supaiah, S.Pd, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi mendalam atas peran Prajurit Macan Leuser, khususnya bagi dunia pendidikan. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengungkapkan bahwa bantuan tersebut sangat berarti, tidak hanya dalam pemulihan fisik sekolah, tetapi juga kondisi psikologis para siswa.
“Kami sangat terharu dan bersyukur. Prajurit Macan Leuser datang bukan hanya membantu membersihkan sekolah, tetapi juga memberi semangat kepada kami dan anak-anak. Kehadiran mereka membuat kami merasa tidak sendirian menghadapi musibah ini,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan Rahmat (45), warga Kuala Simpang, yang menilai kehadiran TNI memberikan dampak besar dalam percepatan pemulihan pascabanjir.
“Kalau tidak dibantu TNI, mungkin sampai sekarang lingkungan kami masih kotor dan sulit beraktivitas. Mereka bekerja tulus, tanpa pamrih, dan benar-benar dekat dengan rakyat,” ujarnya.
Tangisan dan pelukan perpisahan yang terjadi menjadi simbol betapa besar arti kehadiran TNI di tengah masyarakat. Nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian yang ditunjukkan Prajurit Yonif 115 Macan Leuser meninggalkan kesan mendalam bagi warga Aceh Tamiang, khususnya di wilayah Kuala Simpang.
Berakhirnya tugas kemanusiaan ini bukanlah akhir dari hubungan yang telah terjalin, melainkan awal dari kenangan indah dan rasa hormat yang akan terus hidup di hati masyarakat. Aksi nyata Prajurit Macan Leuser kembali membuktikan bahwa TNI selalu hadir untuk rakyat, menjadi pelindung sekaligus sahabat dalam setiap situasi, terutama saat masyarakat menghadapi masa-masa sulit akibat bencana alam.(**)











