“Aceh Memanggil”: Saatnya Anak Rantau Turun Tangan Pulihkan Bumi Muda Sedia

Berita25 Dilihat

Aceh Tamiang, Dailymail Indonesia

Musibah bencana yang melanda beberapa titik di Aceh Tamiang menyisakan duka dan tantangan besar bagi pemulihan infrastruktur serta kebutuhan dasar warga. Meski pemerintah daerah terus berupaya, pemulihan keadaan sejatinya bukan hanya beban pundak pemerintah semata. Ini adalah panggilan nurani bagi seluruh elemen masyarakat, terutama para “Anak Daerah” yang kini tengah sukses di perantauan.

​Semangat inilah yang diusung oleh Fahrizal, atau yang akrab disapa Si Boy BTN di kalangan kawan-kawan Simpang. Pria yang telah merantau ke Kalimantan Timur sejak tahun 1995 untuk menempuh studi di Universitas Mulawarman ini, tidak tinggal diam melihat tanah kelahirannya berduka. Bersama jejaring perantau lainnya, ia menginisiasi gerakan bantuan mandiri untuk menjangkau desa-desa yang belum sepenuhnya tertangani.

​Sinergi Lintas Provinsi: Dari Samarinda Hingga Jakarta

 

​Aksi nyata ini diawali dengan kolaborasi antara Himpunan Masyarakat Aceh (HMA) Samarinda dan Ikatan Alumni Fakultas Pertanian (IKA Faperta) Unmul. Mereka bergerak cepat mendistribusikan bantuan vital berupa air bersih ke berbagai pelosok Tamiang, termasuk wilayah yang terdampak cukup parah namun minim sentuhan bantuan, seperti BTN Satelit Graha, Desa Perkebunan Tanah Terban.

​Fahrizal tidak sendirian. Ia dibantu oleh rekan-rekan perantau lainnya seperti dr. Ispianto dari Pekanbaru dan dr. Wiwik Agustin dari Jakarta yang secara konsisten memastikan distribusi bantuan kesehatan dan kebutuhan pokok terus mengalir. Di tingkat lokal, kekeluargaan diperkuat dengan hadirnya keponakan Fahrizal, Atala dan Papi Heldi, yang membuka posko mandiri di Kampung Dalam.

​Membentuk “Sabuk Kebaikan” di Aceh Tamiang

​Untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan efisien, Fahrizal membentuk tim koordinator lapangan yang bergerak di beberapa titik:
​Frangki; Mengkoordinir wilayah Kampung Durian, Kampung Dalam, dan Tualang Cut (termasuk menyerahkan bantuan kompor gas kepada Ibu Bupati Tamiang)
​Andre; Fokus pada distribusi air bersih dan sembako di wilayah Sekrak dan Desa Pengidam.
​Miswan; Mengawal pembuatan sumur bor sebagai solusi jangka panjang air bersih di Kota Lintang.
​WJ dan Kiki; Bertanggung jawab penuh atas pemulihan di BTN Satelit Graha Tanah Terban.

​”Aceh sedang memanggil kita semua. Ini bukan soal siapa yang berkewajiban, tapi soal kepedulian. Kami yang di rantau merasa memiliki tanggung jawab moral untuk pulang, baik secara fisik maupun melalui bantuan, demi membangun kembali daerah kita,” ujar Fahrizal.

​Gotong Royong Tanpa Batas
​Kesuksesan distribusi ini juga tidak lepas dari peran Adrian (Ayang) serta Riyal, yang rela menempuh perjalanan Medan-Aceh Tamiang bolak-balik untuk berbelanja dan mengangkut logistik sembako.

​Gerakan ini menjadi pengingat bagi seluruh warga kelahiran Aceh di mana pun berada: Jakarta, Malaysia, Kalimantan, hingga luar negeri. Saatnya bersatu, bahu-membahu dengan pemerintah daerah untuk memastikan tidak ada satu desa pun yang tertinggal dalam proses pemulihan.

​“Jangan tanya apa yang daerah berikan untuk kita, tapi tanyakan apa yang bisa kita berikan untuk tanah yang melahirkan kita.”

​Lampiran Foto Kegiatan:

​Penyerahan bantuan kompor gas oleh Koordinator Frangki kepada Ibu Bupati Tamiang.

​Serah terima dan pengerjaan sumur bor oleh Koordinator Miswan di Kota Lintang.

​Koordinator WJ saat menerima bantuan bersama Ibu Wakil Bupati di BTN Satelit Graha.

​Aksi Koordinator Andre mendistribusikan air bersih dan sembako di pelosok Sekrak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *