Lhoksukon – Banjir bandang dahsyat yang melanda Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, pada 27 November 2025 lalu, meninggalkan jejak kerusakan yang mendalam, tak hanya pada rumah warga dan fasilitas umum, tetapi juga pada rumah ibadah. Salah satu yang terdampak parah adalah Masjid Keude Alue Ie Mirah, yang kini berdiri dalam kondisi memprihatinkan setelah pagar-pagar pembatasnya dihancurkan derasnya terjangan air.
Air bah yang datang secara tiba-tiba membawa material lumpur, kayu, dan bebatuan dengan kekuatan luar biasa. Pagar masjid yang selama ini menjadi pembatas halaman dan area suci tak mampu menahan amukan banjir bandang tersebut. Akibatnya, pagar roboh dan terseret arus, menyisakan halaman masjid yang terbuka lebar tanpa pelindung.
Kondisi ini meninggalkan pemandangan yang menggetarkan hati. Masjid Keude Alue Ie Mirah tampak “hampar”, terbuka sepenuhnya, seolah tanpa sekat antara rumah Allah dan lingkungan sekitarnya. Bagi sebagian warga, kejadian ini bukan sekadar musibah alam, tetapi juga menghadirkan renungan spiritual yang mendalam.
“Seakan-akan Allah ingin menunjukkan kepada hamba-Nya, inilah rumah-Ku. Maka sering-seringlah kalian mengunjunginya, dan kini tak ada lagi yang menghalangi langkah kalian,” ujar seorang warga setempat dengan mata berkaca-kaca saat melihat kondisi masjid pascabanjir.
Meski struktur utama bangunan masjid masih berdiri kokoh, bekas-bekas banjir masih terlihat jelas. Lumpur mengendap di beberapa sudut halaman, sementara puing-puing pagar berserakan di sekitar area masjid. Warga bersama pengurus masjid secara gotong royong mulai membersihkan lingkungan masjid agar kembali layak digunakan untuk beribadah.
Tokoh masyarakat setempat menyampaikan bahwa masjid ini memiliki peran penting sebagai pusat ibadah dan aktivitas keagamaan warga Keude Alue Ie Mirah. Oleh karena itu, kerusakan yang terjadi menjadi perhatian bersama. Selain membutuhkan pembersihan, masjid juga memerlukan perbaikan pagar dan penataan kembali halaman agar keamanan dan kenyamanan jamaah tetap terjaga.
Di tengah duka akibat banjir bandang, masyarakat Tanah Jambo Aye berusaha mengambil hikmah. Musibah ini diharapkan menjadi pengingat akan kebesaran Allah sekaligus memperkuat keimanan dan kebersamaan warga. Masjid yang kini terbuka tanpa pagar justru menjadi simbol ajakan untuk semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Warga berharap adanya perhatian dan bantuan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun para dermawan, untuk membantu pemulihan Masjid Keude Alue Ie Mirah. Mereka yakin, dengan kebersamaan dan niat tulus, rumah Allah ini akan kembali berdiri indah dan menjadi pusat ibadah yang lebih makmur dari sebelumnya.(**)






