Ketua DPRK Banda Aceh Soroti Ancaman Genangan Air, Dorong Pembenahan Drainase dan Tata Kota

Parlementaria38 Dilihat

BANDA ACEH – Curah hujan dengan intensitas tinggi yang kerap mengguyur Kota Banda Aceh kembali memunculkan rasa waswas di tengah masyarakat. Setiap kali hujan deras turun, kekhawatiran akan munculnya genangan air hingga potensi banjir seolah menjadi bayang-bayang yang tak terpisahkan dari kehidupan warga di sejumlah kawasan kota.

Fenomena ini mendapat perhatian serius dari Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Irwansyah. Ia menilai persoalan genangan air yang berulang hampir setiap musim hujan tidak lagi bisa dianggap sebagai masalah rutin tahunan. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan persoalan struktural yang membutuhkan penanganan menyeluruh, terencana, dan berkelanjutan.

“Setiap hujan lebat dengan intensitas tinggi turun, selalu ada kegelisahan di hati warga. Apakah banjir akan datang lagi atau tidak,” ujar Irwansyah saat berdiskusi bersama para keuchik dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Banda Raya. Pernyataan tersebut ia sampaikan melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @irwansyahst2, Rabu (7/1/2026).

Dalam pertemuan itu, Irwansyah mengungkapkan bahwa DPRK Banda Aceh secara langsung mendengarkan berbagai keluhan dan aduan dari aparatur gampong serta pihak kecamatan. Keluhan tersebut mayoritas berkaitan dengan genangan air yang cukup tinggi dan kerap terjadi di sejumlah titik wilayah Banda Raya, terutama saat hujan deras berlangsung cukup lama.

“Alhamdulillah, melalui pertemuan ini kita bisa bersilaturahmi dan mendengar langsung apa yang dirasakan para keuchik dan unsur Forkopimcam. Genangan air di kawasan Banda Raya memang cukup tinggi dan sangat mengganggu aktivitas masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan, forum tersebut tidak hanya menjadi tempat menyampaikan keluhan, tetapi juga ruang untuk mencari solusi konkret. Menurut Irwansyah, diperlukan kesepahaman bersama antara legislatif, eksekutif, aparatur gampong, dan masyarakat agar persoalan genangan air dapat ditekan secara signifikan ke depan.

Salah satu persoalan utama yang disorot adalah kondisi sistem drainase dan tata ruang Kota Banda Aceh yang dinilai sudah tidak relevan dengan perkembangan kota saat ini. Banyak saluran drainase yang dibangun puluhan tahun lalu, ketika kepadatan penduduk dan pembangunan belum seintensif sekarang.

“Sistem drainase dan tata ruang kita usianya sudah puluhan tahun. Sudah saatnya dilakukan peninjauan ulang agar sesuai dengan kondisi kekinian, di mana pertumbuhan hunian semakin padat, sementara ruang hijau dan daerah resapan air justru semakin berkurang,” jelas Irwansyah.

Ia juga menyoroti kondisi sejumlah kawasan permukiman yang secara kontur tanah berada lebih rendah dibandingkan permukaan jalan. Situasi ini membuat air hujan sulit mengalir dan akhirnya menggenang di lingkungan warga, bahkan berpotensi masuk ke rumah-rumah penduduk.

“Sudah banyak kawasan permukiman yang posisinya jauh di bawah muka jalan. Ini tentu memperparah genangan saat hujan deras turun,” tambahnya.

Selain persoalan infrastruktur, Irwansyah menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan. Menurutnya, kebiasaan membuang sampah sembarangan masih menjadi salah satu penyebab tersumbatnya saluran drainase, yang pada akhirnya memperparah genangan air.

“Kerja sama semua pihak sangat dibutuhkan. Warga juga harus disiplin dalam mengelola sampah. Jangan sampai drainase dan akses jalan tertutup karena sampah, karena itu juga menjadi pemicu banjir,” tegasnya.

Sebagai langkah jangka menengah dan panjang, DPRK Banda Aceh bersama para pemangku kepentingan mulai membahas solusi strategis. Di antaranya pembangunan kolam retensi, rumah pompa, serta penerapan sumur resapan atau drainase vertikal di kawasan-kawasan yang rawan genangan.

Usai pertemuan tersebut, Irwansyah menyampaikan sejumlah rekomendasi yang diharapkan dapat segera ditindaklanjuti oleh pihak terkait. Rekomendasi itu meliputi pembersihan sedimen drainase secara rutin dengan melibatkan aparatur gampong, pembangunan saluran drainase baru untuk menghubungkan saluran yang terputus, serta pembangunan saluran crossing agar aliran air dapat terhubung langsung ke saluran utama.

“Beberapa rekomendasi sudah kita sampaikan. Mudah-mudahan dengan langkah-langkah ini, persoalan banjir genangan di Banda Aceh dapat kita minimalisir, sehingga dampaknya tidak lagi terlalu dirasakan oleh masyarakat,” pungkas Irwansyah.

Dengan sinergi antara pemerintah, DPRK, aparatur gampong, dan masyarakat, Irwansyah berharap Banda Aceh ke depan dapat memiliki sistem pengelolaan air yang lebih baik dan adaptif terhadap perubahan iklim serta perkembangan kota.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *