ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Aceh untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan dan dampak cuaca ekstrem, meskipun wilayah Aceh secara umum telah melewati puncak musim hujan. Saat ini, Aceh berada dalam masa peralihan musim yang ditandai dengan kondisi cuaca yang masih fluktuatif dan sulit diprediksi.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda, Nabila, menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di berbagai wilayah Aceh. Kondisi ini, menurutnya, merupakan karakteristik umum pada masa peralihan musim, di mana hujan masih kerap turun secara sporadis di sejumlah daerah.
“Secara umum, wilayah Aceh masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Saat ini Aceh memang sudah melewati puncak musim hujan, namun kita masih berada dalam masa peralihan musim,” ujar Nabila, Senin (5/1/2026).
Ia menambahkan, kondisi tanah di beberapa wilayah Aceh saat ini sudah jenuh akibat hujan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Keadaan tersebut meningkatkan risiko terjadinya banjir, terutama jika hujan turun dengan intensitas lebat dan durasi yang cukup lama. Selain banjir, potensi tanah longsor juga perlu diwaspadai, khususnya di wilayah perbukitan dan daerah aliran sungai.
BMKG mencatat, hingga awal Januari ini, banjir masih terpantau di sejumlah kabupaten di Aceh, antara lain Aceh Tengah, Aceh Barat Daya, Bireuen, dan Aceh Tenggara. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak hujan masih dirasakan di berbagai wilayah meskipun intensitasnya cenderung menurun dibandingkan puncak musim hujan sebelumnya.
Aktivitas cuaca ekstrem juga disebut dapat memengaruhi aktivitas masyarakat, terutama kegiatan di luar ruangan. Hujan deras yang disertai angin kencang berpotensi mengganggu akses transportasi, aktivitas ekonomi, hingga keselamatan warga.
“Cuaca ekstrem seperti hujan lebat dan angin kencang dapat menimbulkan dampak lanjutan, seperti banjir dan tanah longsor, yang berpotensi mengganggu akses dan aktivitas masyarakat,” jelas Nabila.
BMKG pun mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan peka terhadap tanda-tanda perubahan cuaca. Apabila terlihat langit menggelap, awan tebal, terdengar suara gemuruh, atau angin bertiup kencang, masyarakat disarankan segera mencari tempat yang aman.
Warga diminta menghindari berada di tanah lapang, area tergenang air, serta menjauhi pohon besar, tiang listrik, dan benda tinggi lainnya yang berpotensi membahayakan keselamatan. BMKG juga mendorong masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG agar dapat mengantisipasi risiko sejak dini.
Dengan kewaspadaan bersama dan kesiapsiagaan yang baik, diharapkan dampak cuaca ekstrem pada masa peralihan musim ini dapat diminimalkan, sehingga keselamatan dan aktivitas masyarakat Aceh tetap terjaga.(**)












