Lumpur Tebal dan Gotong Royong Warga Babah Krueng Pasca Banjir

Aceh Utara59 Dilihat

Lhoksukon – Pagi hari di Gampong Babah Krueng, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, kini terasa berbeda. Banjir yang melanda beberapa waktu lalu memang telah surut, namun meninggalkan persoalan baru yang tak kalah berat bagi warga. Lumpur cokelat pekat masih menguasai hampir setiap sudut permukiman—dari halaman rumah hingga ruang-ruang dalam yang sebelumnya menjadi pusat aktivitas keluarga.

Endapan lumpur yang tersisa bukan sekadar tipis. Di banyak rumah, ketebalannya mencapai betis orang dewasa. Dinding dan tiang-tiang teras dipenuhi noda kecokelatan yang telah mengering, menjadi penanda jelas betapa derasnya air banjir menerjang kawasan ini. Bangunan yang sebelumnya bersih dan terang kini tampak kusam, seolah kehilangan warna kehidupan.

Di sejumlah rumah, perabotan seperti kursi, lemari, hingga kasur terpaksa dikeluarkan ke halaman. Sebagian sudah rusak dan tak bisa diselamatkan, sementara yang masih bisa digunakan dibersihkan secara sederhana dengan air seadanya. Bau lumpur bercampur sisa genangan masih terasa, menambah berat suasana pascabanjir.

Namun, di tengah keterbatasan itu, semangat warga Babah Krueng justru tampak menyala. Tanpa menunggu bantuan datang, mereka memilih bergerak bersama. Berbekal cangkul, sekop, dan ember, warga bahu-membahu membersihkan lumpur dari rumah ke rumah. Gotong royong menjadi pilihan utama agar kehidupan bisa kembali berjalan.

Pemandangan kebersamaan terlihat hampir di setiap lorong gampong. Anak-anak membantu mengangkat ember kecil berisi lumpur, para pemuda menyekop endapan tebal dari teras dan jalan, sementara orang tua mengarahkan dan membersihkan bagian dalam rumah. Meski kelelahan jelas tergambar di wajah mereka, tak ada keluhan yang terdengar.

“Kami bersihkan dulu sebisanya. Kalau menunggu bantuan, rumah ini tak bisa ditempati,” ujar seorang warga sambil terus menyekop lumpur dari teras rumahnya. Baginya dan warga lain, membersihkan rumah adalah kebutuhan mendesak agar aktivitas keluarga dapat kembali normal.

Warga menyebut, kondisi pascabanjir di Babah Krueng hampir serupa dengan dampak banjir besar yang pernah melanda Pidie Jaya beberapa tahun silam, terutama dari segi ketebalan lumpur dan kerusakan lingkungan. Tak hanya rumah, akses jalan antarpermukiman dan halaman rumah warga juga tertutup endapan, menyulitkan mobilitas dan aktivitas harian.

Meski air telah surut, pekerjaan berat masih menanti. Pembersihan lumpur diperkirakan memakan waktu lama tanpa dukungan alat memadai. Warga mengaku masih sangat membutuhkan bantuan berupa peralatan kebersihan, suplai air bersih, serta perhatian lanjutan dari berbagai pihak agar proses pemulihan berjalan lebih cepat dan optimal.

Di tengah kondisi yang serba terbatas, semangat saling membantu menjadi kekuatan utama masyarakat Babah Krueng. Gotong royong bukan sekadar tradisi, melainkan cara bertahan dan bangkit dari bencana. Dari lumpur yang mengendap, warga Babah Krueng perlahan menata kembali harapan—bahwa kehidupan, seberat apa pun cobaan yang datang, tetap harus berjalan.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *