Turut Berduka, Tgk Ahmada Anggota  DPD RI Doakan Atas Meninggalnya Abu Tarzura, Mantan Panglima GAM Aceh Besar

Berita46 Dilihat

ACEH — Duka mendalam menyelimuti masyarakat Aceh atas wafatnya Abu Tarzura atau Tgk. Syukri bin Yunus, mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Aceh Besar. Sosok yang dikenal luas dalam perjalanan sejarah Aceh itu berpulang dan meninggalkan kenangan mendalam bagi banyak pihak.

Ungkapan belasungkawa salah satunya datang dari Anggota DPD RI Dapil Aceh periode 2024–2029, Tgk. Ahmada MZ. Tidak hanya menyampaikan doa dari jauh, Tgk. Ahmada juga datang langsung bertakziah ke rumah duka sebagai bentuk empati dan penghormatan terakhir kepada almarhum.

“Tadi saya juga sempat takziah ke rumah beliau, dan saya ikut melaksanakan shalat jenazah untuk Abu Tarzura serta doa bersama di hadapan jenazah almarhum,” ujar Tgk. Ahmada MZ.

Dalam suasana haru tersebut, Tgk. Ahmada bersama keluarga dan masyarakat sekitar memanjatkan doa agar Allah SWT mengampuni dosa-dosa almarhum, menerima amal ibadahnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Doa-doa itu juga dipanjatkan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.

Abu Tarzura dikenal sebagai salah satu tokoh GAM yang pernah memegang peran penting di wilayah Aceh Besar. Pasca perdamaian Aceh, almarhum menjadi bagian dari fase sejarah yang menandai perjalanan panjang Aceh menuju kehidupan yang lebih damai dan stabil.

Menurut Tgk. Ahmada, di atas seluruh dinamika sejarah dan perbedaan masa lalu, nilai kemanusiaan, ukhuwah Islamiyah, serta semangat saling mendoakan harus tetap menjadi pegangan utama masyarakat Aceh hari ini.

“Kita mendoakan almarhum sebagai sesama Muslim. Semoga Allah menerima semua amal baik beliau dan menghapus segala khilafnya,” kata Tgk. Ahmada.

Ia juga menegaskan bahwa momentum duka ini seharusnya semakin memperkuat semangat persatuan dan perdamaian di Aceh. Mengenang tokoh-tokoh masa lalu bukan untuk membuka kembali luka lama, melainkan sebagai refleksi agar Aceh terus melangkah maju dengan damai dan bermartabat.

Kepergian Abu Tarzura menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan hidup akan bermuara pada akhir, dan yang tersisa adalah amal, doa, serta keteladanan. Masyarakat Aceh pun diharapkan terus menjaga nilai-nilai persaudaraan dan kedamaian yang telah diperjuangkan bersama.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *